Koma.co.id– Pagi jelang siang, Haji Ida sibuk memasukkan bunga plastik berwarna merah muda ke dalam kantong kresek untuk bersiap-siap ke rumah sang calon pengantin. Dari luar pintu rumahnya, terlihat dua fotografer sudah menunggu untuk berangkat bersama-sama.
Melewati Pasar Batangase di Kabupaten Maros, Haji Ida dengan hati-hati mengendarai motor matiknya hingga masuk ke dalam kompleks perumahan. Jarak antara tempat yang dituju dengan rumah Haji Ida tidaklah jauh, jadi ia dapat dengan cepat sampai di rumah calon pengantin tepat pada waktunya.
Tiba di satu lorong kecil, Haji Ida memarkir motor di depan sebuah rumah yang sudah terpasang tenda sebagai tanda bahwa rumah itu sedang mengadakan hajatan.
Terlihat ibu-ibu sedang sibuk mengupas kulit kelapa sambil bercengkrama, Di antara kumpulan ibu-ibu itu keluar lah Ramlah, ibu mempelai pria dan bergegas menyambut Haji Ida dan membantunya mengambil barang dari motor.
“Sedia semua mi apa-apanya?” Tanya Haji Ida.
“Iyyek, Haji. Masuk meki’ langsung,” ujar ibu itu sambil mengiringi Haji Ida masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah, beberapa pria usia paruh baya terlihat sudah hampir menyelesaikan makanannya sementara di dekat mereka masing-masing duduk. Ada beberapa alat musik tradisional seperti gong, gendang, dan pui’-pui’ (seruling khas Makassar). Sementara Haji Ida mulai sibuk menyiapkan onde-onde, dupa yang dibakar dan dimasukkan dalam wadah, seember beras yang di dalamnya terdapat dua lilin kecil berwarna merah, sebilah silet diletakkan dalam piring kecil, dan kelapa muda utuh dengan batok diberi piring sebagai alas lalu semuanya dimasukkan ke dalam kamar calon pengantin.
Beberapa saat setelah semua siap, Raehan sang mempelai pria keluar dari kamar lain dan dituntun masuk ke kamar pengantin diikuti ibu bersama ayahnya. Mereka lalu duduk bertiga di atas kasur. Kemudian Haji Ida menyuruh kedua fotografer menyusul masuk ke kamar untuk mengabadikan momen tradisi Bugis bagi calon pengantin jelang akad.
Iringan suara pui’-pui’ dan gendang mulai dibunyikan, mengundang orang-orang penasaran untuk mengikuti prosesi.
Haji Ida mulai menjumput butir-butir beras yang ada di dalam ember lalu melemparkannya ke atas calon pengantin pria, sambil mengucapkan bacaan khusus dengan suara lirih. Dupa kemudian diambil dan digerakkan membentuk pusaran hingga bumbungan asap mengenai wajah calon pengantin.
Suasana hening, hanya musik tradisional khas Makassar terdengar mengiringi. Beberapa pasang mata dari bilik pintu kamar terlihat serius memerhatikan ritual ini. Sementara Haji Ida mulai mengambil kelapa muda yang masih segar, lalu menyiram air di dalamnya ke kepala dan membasuh wajah calon pengantin. Dilanjutkan dengan menyukur beberapa helai rambut dan alis menggunakan silet yang sudah disiapkan, ini mirip seperti sedang melakukan aqiqah, di mana tiap helai rambut yang dicukur dimasukkan ke dalam kelapa muda. Terakhir, sang calon pengantin pria disuapi onde-onde yang sudah dibacakan doa oleh Haji Ida.

Kedua orangtua Raehan satu persatu dipersilahkan menyuapinya. Usai makan, si calon pengantin memisahkan diri duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya lalu mencium tangan mereka.
Terlihat mata sang ayah memerah tak kuasa menahan air mata, sementara ibu telah meneteskan air mata dan melapnya dengan tisu. Suasana haru antara orangtua dan anak yang ditutup dengan berakhirnya lantunan musik tradisional.
Prosesi belum selesai, Raehan dan kedua orangtuanya satu persatu keluar dari kamar menuju teras rumah yang sudah disiapkan kursi beserta baskom berisi air dan di dalamnya terdapat beberapa koin rupiah, seuntai daun diikat dengan beberapa batang jenis daun juga telah disiapkan.
Haji Ida kembali memulai dengan membaca doa sambil memegang batang berbagai jenis daun-daunan dan mencelupkan ke dalam baskom lalu menepuk-nepuk tengkuk Raehan sebanyak dua kali, kemudian di sebelah kanan-kiri dan terakhir kepala. Ritual dilakukan bergantian yang dimulai dari Haji Ida, kedua orangtua, kemudian kerabat keluarga sampai si calon pengantin pria basah seperti sedang dimandikan dengan daun.
Di akhir, calon pengantin pria dipersilahkan untuk mandi membersihkan dirinya di teras rumah.
Ritual ini hampir mirip dengan adat siraman dari daerah lain. Namun di tanah Bugis ini disebut Appasili’, yakni membersihkan calon pengantin sebelum malam Mappacci (malam pacar).

Prosesi pelaksanaan Appasili’ selesai dilakukan, para pemusik beberes menyimpan peralatan peralatan mereka dan bersiap untuk pulang, fotografer pun juga telah memasukkan kamera mereka ke dalam tas, sedang Haji Ida masih sibuk memperbaiki dekorasi hiasan lamming (pelaminan) yang dibawanya dari rumah.
Satu per satu tangkai bunga plastik ia masukkan ke dalam lubang besi pagar untuk menghiasi lamming agar terlihat lebih cantik. Usai memasang bunga, barulah Haji Ida bersiap untuk pulang.
Indo Botting Transpuan
Haji Ida merupakan Transpuan (istilah lain dari Calabai atau Waria) yang berprofesi sebagai Indo’ Botting atau perias pengantin.
Selain sebagai perias pengantin, tugas Indo’ Botting juga menyiapkan kebutuhan sebelum prosesi perkawinan seperti ritual, mendekorasi rumah maupun kamar pengantin, hingga kebutuhan dokumentasi dan iring-iringan musik pun menjadi pekerjaan Indo’ Botting.
Biaya untuk menyewa Indo’ Botting pun relatif. Mulai dari Rp4.000.000,- hingga puluhan juta tergantung dari jenis pakaian dan dekorasi yang diinginkan calon pengantin.
Di beberapa wilayah di Kabupaten Maros, masih ada keluarga yang melakukan serangkaian tradisi adat sebagai agenda jelang pernikahan. Seperti yang dilakukan keluarga Ramlah untuk mengadakan prosesi Appasili’ dan Mappacci.
Khusus untuk pelaksanaan tradisi adat seperti Appasili’, tidak semua Indo’ Botting di Kabupaten Maros dapat melakukannya. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini mulai ditinggalkan. Ditambah saat ini walau hanya bermodalkan mampu merias dan mendekorasi tempat untuk pengantin, orang-orang sudah bisa membuka jasa Indo’ Botting mengingat pekerjaan ini dijadikan peluang bisnis menjanjikan.
Namun bagi Ramlah, melaksanakan semua prosesi adat dalam pernikahan Bugis menjadi sebuah keharusan untuk dilakukan, sehingga ia memercayakan semuanya kepada Haji Ida selaku Indo’ Botting yang mengetahui persis ritual Appasili’.
“Makanya saya kalau ada keluargaku yang menikah, pasti Haji Ida ji kupanggil,” tandas Ramlah.
Ramlah mengaku sangat memercayakan Haji Ida sebagai Indo’ Botting sudah sejak lama. Selain ia memiliki hubungan kekerabatan sebagai tetangga dengan Haji Ida selama bertahun-tahun sebelum Ramlah dan keluarganya berpindah tempat tinggal.
Menurut Ramlah, Haji Ida pribadi yang sangat ramah pada tetangga.
“Sudah anggap Haji Ida sebagai orangtua sendiri. Ini waktu anakku Raehan (mempelai pria) kecil, biasa datang main-main ke rumahnya Haji. Biasa ki’ kalau lagi ada di rumah, ngumpul ki’ di rumahnya cerita-cerita. Tapi pindah meka’ sama ini bapaknya apa semua, karena kontrak jeki’ di samping rumahnya Haji,” cerita Ramlah sambal mengingat-ingat kembali.
Pembawaan Haji Ida yang ramah dan ulet, membuat siapa saja di sekitar Haji Ida menghormatinya terlepas dia seorang transpuan. Bahkan ia dikenal sebagai guru dan orangtua.
Tanpa mengenal latar belakang siapapun, Haji Ida juga mempersilahkan rumahnya sebagai tempat tinggal bagi para transpuan maupun dari keluarga jauh. Semua yang pernah tinggal bersama Haji Ida dididik sampai beberapa di antaranya mereka sudah mampu mandiri dan membuka jasa rias pengantin sekembalinya di kampung halaman.
Melihat suksesnya dalam merintis usaha ini, tidak serta merta menjadi sukacita bagi transpuan seperti Haji Ida. Ia pernah mengalami peristiwa di mana Haji Ida harus mencari akal untuk merias pengantin, khususnya wanita saat pihak keluarga menolak mengingat ia adalah pria.
“Padahal si perempuan dari keluarga pengantin tidak mau mencari perias selain menggunakan jasa saya. Jadi kami carikan siasat, saya ajak anak didikku yang perempuan baru saya masuk ke dalam kamar pengantin (untuk mengarahkan saat merias) terus dirias mi di kamar pengantin,”
“Tapi kadang-kadang ada juga keluarga yang saya beri pemahaman tentang ritual itu, dan ada juga yang menerima. Tapi untuk merias pengantin tidak boleh, apalagi kalau pengantin sudah ambil air wudhu. Menurut saya tidak istilah batal air wudhu. Perempuan kalau didandani itu nanti kan kalau resepsi juga pasti batal air wudhunya. Kalau berjabat tangan sama laki-laki? padahal kami yang merias tidak sentuh wajahnya pengantin karena pakai alat. Kecuali dipegang langsung dengan tangan baru tidak boleh.” kata Haji Ida menjelaskan sembari mengingat-ingat kejadian yang dialaminya itu.
Bagi Haji Ida, ia tetap menghargai bagaimana anggapan orang lain terhadap dirinya dan tidak ingin menambah masalah. Untungnya dengan menjaga hubungan baik dengan orang-orang di sekitarnya, sehingga Haji Ida tidak mengalami diskriminasi meskipun ia sebagai Transpuan.
“Tapi saya sebagai transpuan, secara naluri dan perasaan itu perempuan. Barangkali lebih halus lagi dari perempuan. Sedikit saja saya mudah tersinggung,” ujar Haji Ida.
Sebagai guru sekaligus orangtua, Haji Ida selalu mengajarkan bertata krama dan bagaimana bersikap kepada anak-anak didik yang tinggal bersamanya. Mengingat seperti apa penilaian para Transpuan di mata masyarakat.
Setiap pengalaman yang dialami Haji Ida, selalu ia ajarkan kepada anak didiknya selama berada di rumah, sampai mereka dianggap sudah bisa mandiri saat kembali di kampung masing-masing.
Di awal merintis karir dan pengalaman hidupnya, Haji Ida mulai tinggal di Kabupaten Maros sejak di bangku SMP bersama keluarga angkat dari ayahnya.
“Saya ini lahir di Bima, Nusa Tenggara Barat. Kebetulan bapak itu orang Bugis baru ibu dari Bima. Terus di sini diadopsi sama keluarga dari ayah. Setelah tamat SMA, saya mulai mi kadang-kadang tinggalkan rumah dan ikut bergabung dengan teman-teman Transpuan,” kata Haji Ida.
Setelah menyelesaikan sekolah, ia melanjutkan pendidikan di Akademi Pelayaran selama setahun.
“Karena pelayaran kan pelatihannya berenang di laut, baru saya tidak tau berenang. Jadi saya berhenti,” lanjut Haji Ida.
Setelah memutuskan untuk berhenti dari kampus pelayaran, Haji Ida mengikuti Konferensi Pasific Area Travel Association (PATA) pada tahun 1974 bersama teman-temannya sebagai penari mewakili Sanggar Seni Ikatan Kesenian Sulawesi Selatan (IKSS) di Jakarta.
Di Jakarta, Haji Ida memutuskan untuk tinggal beberapa tahun sembari belajar dan bekerja di salon.
Sekitar tahun 1995, Haji Ida mendapat panggilan untuk pergi melamar kerja. Ia pun memutuskan kembali ke Ujung Pandang (saat ini menjadi Makassar), dan bekerja sebagai pegawai di Bandara Sultan Hasanuddin.
Selama bekerja di bandara, Haji Ida kemudian melanjutkan kuliah di Akademi Tehnik Negeri (yang saat ini masuk di Universitas Hasanuddin) sampai pada tingkat Diploma.
Di tahun 1996, Haji Ida tinggal dan ikut bersama Haji Rahman. Di sana ia belajar banyak hal tentang merias hingga tata cara pernikahan adat Bugis.
Bertahun-tahun hidup dan belajar bersama Haji Rahman, Haji Ida belajar banyak hal. Keuletan dan rasa ingin tahu yang tinggi menjadikannya orang terpercaya bagi guru sekaligus orangtuanya ini.
Mulai dari menemani setiap kali Haji Rahman merias pengantin, dekorasi, ritual Appasili’, sampai membantu mempersiapkan keperluan ritual, belajar makna dan sejarah, hingga bacaan untuk Appasili’ diikuti oleh Haji Ida.
Ia bahkan mencoba mengimbangi antara pekerjaannya di bandara dengan membantu Haji Rahman.
“Kan kalau Indo’ Botting itu tidak sering-sering ji ada. Itu pi kubantu Haji kalau ada yang order. Jadi kalau misalnya lagi sibuk Haji atau lagi di luar kota i, kucoba-coba mi itu gantikan Haji sambal kutanya-tanya ke dia. ‘Haji kasih tau tong meka’ itu apa baca-bacanya itu kalau ritual ki, biar kalau tidak ada ki saya yang gantikan ki’. Dari situ saya belajar mi sama beliau, lama-lama bisa meka’,” kata Haji Ida.
“Jadi saya itu selalu kerjakan semua kerjaan baik di kantor ataupun kalau bantu Almarhum (Haji Rahman). Kadang kalau lagi ada ki orderannya Haji na lagi kerja ka’, kukerja memang mi semua kerjaan di kantor baru saya izin tidak masuk pas harinya pengantin. Yang penting kan semua kerjaan selesai, jadi tidak ada ji yang terbengkalai antara kerjaan kantor dengan di Indo’ Botting,” demikian Haji Ida bercerita.
Hingga akhirnya ia memberanikan diri membuka jasa Indo’ Botting, walau diselingi dengan kerjaannya sebagai pegawai di Bandara Sultan Hasanuddin. Mengerjakan dua hal sekaligus bagi Haji Ida sudah dianggap biasa baginya.
Karena sifat rajin dan keuletannya, Haji Ida kini sudah mampu memiliki rumah sendiri, membiayai anak-anak didik hingga berangkat Haji dengan upah hasil kerja kerasnya.
Seiring berjalannya waktu, jasa Indo’ Botting mulai dibuka oleh berbagai kalangan yang menganggap ini sebagai peluang bisnis. Meski demikian, hal demikian tidak memengaruhi eksistensinya Haji Ida sebagai Indo’ Botting di daerahnya, apalagi untuk pengantin yang ingin menjaga prosesi adat dalam pernikahan mereka.(Mrw)





