Eksistensi Kecap Manis, ‘Pusaka Kuliner’ Asli Indonesia

Produk Kecap Bango dan Iga Bakar dari Konro Bakar Karebosi. (Foto oleh Alchemy)

Koma.co.id– Makassar menjadi kota pertama digelarnya Festival Jajanan Bango (FJB) 2023. Di event ini, masyarakat khususnya di Makassar akan menikmati berbagai masakan atau kuliner khas Nusantara dari Sabang sampai Merauke.

Mulai dari coto, konro, sate, iga bakar, mie Jawa, rawon, gado-gado, tahu tek, dan ragam makanan khas lainnya hadir untuk memanjakan lidah para pecinta kuliner.

Aneka makanan yang dijajakan di atas meja, tidak akan luput dari dua hal yang jadi ciri khas masakan Nusantara, yaitu kecap dan sambal. Tanpa dua hal itu, bagi sebagian orang Indonesia akan merasa rasa makanan jadi kurang “mantap”.

Jika Korea punya Gochujang, Jepang ada Miso, Indonesia pun memiliki pusaka kuliner (culinary gem) yakni kecap manis.

Dalam sejarahnya, kemungkinan besar kecap yang berasal dari teknologi fermentasi kedelai dibawa oleh orang China saat menyeberangi lautan menuju Indonesia pada sekitar abad ke-16an.

Sejarawan makanan, Andreas Maryoto dalam konferensi pers Festival Jajanan Bango 2023 pada 3 Oktober 2023 mengatakan, Orang-orang China ini datang dengan berbagai makanan yang bisa diawetkan saat menyebrangi lautan menuju Indonesia. Salah satu makanan itu adalah kedelai yang bisa diawetkan dengan cara fermentasi jadi kecap asin dan orang Indonesia juga menggunakannya pada masa itu.

Seiring berjalannya waktu, Indonesia yang notabene adalah penghasil gula aren terbesar di dunia pada saat itu mengalami penghambatan ekspor, gula aren tersebut mulai diolah dengan kecap asin oleh orang asli Indonesia maka terciptalah kecap manis.

“Terjadi persilangan budaya. Jika sebelumnya orang-orang hanya mengenal kecap asin yang terbuat dari kedelai saja, tiba-tiba tercipta varian baru dari kecap asin ini, yakni kecap manis yang ditambahkan gula aren buatan orang asli Indonesia,” jelas Maryoto.

Dari sinilah menjadi cikal-bakal mulai munculnya beragam kuliner Nusantara, mengingat kecap manis adalah satu ‘bumbu pelengkap’ di setiap masakan dari Sabang sampai Merauke.

Maryoto mengungkapkan, di masa depan kecap manis akan terus ada sampai kapanpun. Selama masakan Nusantara ada, maka kecap manis tetap akan dibutuhkan.

Senada dengan Maryoto, Head of Marketing Nutrition Indonesia, PT. Unilever Indonesia, Tbk Ari Astuti mengatakan masyarakat Indonesia apabila ingin makan akan identik dengan kecap manis. Belum lagi masakan Nusantara yang kebanyakan menggunakan kecap sebagai bumbu pelengkap. Tentu eksistensi kecap masih tetap ada.

Apalagi salah satu produk Unilever seperti Kecap Bango telah ada hingga usianya saat ini 95 tahun. Itu menandakan bahwa kecap manis akan sulit untuk ditiadakan sebagai culinary gem.

“Belum lagi kuliner Nusantara telah banyak diakui oleh dunia, karena rasanya yang otentik seperti sate, gado-gado, nasi goreng, itu salah satu bahannya ada kecap manis,” pungkas Ari.(Mrw)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *