72 Persen Tangkapan Sensus Ikan 2026 di Hilir Kali Surabaya Didominasi Ikan Kasap

Koma.co.id, Surabaya– Sensus Ikan 2026 yang digelar lembaga kajian ekologi dan konservasi lahan basah ECOTON bersama Perum Jasa Tirta I (PJT I) mengungkap kondisi memprihatinkan ekosistem perairan di hilir Kali Surabaya. Hasil pemantauan menunjukkan ikan kasap atau ikan pembersih kaca mendominasi hasil tangkapan, yakni mencapai 72 persen dari total ikan yang berhasil diidentifikasi melalui penangkapan menggunakan jala.

Temuan tersebut menjadi perhatian serius karena menunjukkan perubahan komposisi komunitas ikan di hilir Kali Surabaya. Kondisi ini diduga berkaitan dengan tekanan pencemaran dari limbah organik domestik dan limbah cair industri kertas yang masuk ke badan sungai.

Sensus Ikan 2026 segmen hilir berlangsung pada 6–10 November 2026. Pemantauan mencakup aliran Kali Surabaya mulai kawasan Warugunung hingga Wonokromo, kemudian dilanjutkan menuju Kalimas dan direncanakan berakhir di kawasan Petekan.

Peneliti ikan ECOTON, Heri Purnomo, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menginventarisasi jenis ikan, mengetahui kondisi kesehatan sungai berdasarkan keberadaan dan komposisi ikan, serta mengidentifikasi berbagai persoalan yang menyebabkan penurunan kualitas ekosistem perairan.

*72 Persen Tangkapan Merupakan Ikan Kasap*

Dalam kegiatan tersebut, tim melakukan 32 kali penebaran jala dan berhasil menangkap 64 ekor ikan. Sebanyak 46 ekor atau sekitar 72 persen di antaranya merupakan ikan kasap (Hypostomus plecostomus), yang dikenal masyarakat sebagai ikan pembersih kaca.

Selain ikan kasap, ditemukan delapan jenis ikan lainnya, yaitu jendil empat ekor, keting satu ekor, bader merah satu ekor, muraganting satu ekor, lele dua ekor, nila atau mujair empat ekor, lokas satu ekor, dan papar empat ekor.

Tim juga mendapatkan informasi dari pemancing lokal mengenai keberadaan ikan rengkik, cucut, dan gatul di kawasan hilir Kali Surabaya.

Dominasi ikan kasap menjadi salah satu indikator yang perlu diteliti lebih lanjut untuk memahami perubahan kondisi ekologis sungai. Analisis keanekaragaman ikan dan pengukuran parameter kualitas air diperlukan untuk memastikan tingkat tekanan pencemaran terhadap habitat perairan.

*Air Keruh, Berbau Amis dan Serat Kertas di Dasar Sungai*

Heri Purnomo mengungkapkan bahwa kondisi fisik air semakin memburuk ketika tim memasuki wilayah Kota Surabaya. Tim menemukan air sungai yang keruh, berbau amis, serta serat-serat organik kertas yang muncul dari dasar sungai.

“Memasuki wilayah Kota Surabaya, kondisi air memburuk kualitasnya karena secara fisik terlihat air yang keruh, berbau amis, dan banyaknya serat-serat organik kertas yang muncul dari dasar sungai,” ungkap Heri.

Menurut Heri, tingginya beban pencemaran organik juga ditandai dengan meningkatnya populasi cacing merah di dasar perairan.

Kondisi tersebut menunjukkan perlunya perhatian terhadap masuknya bahan pencemar organik ke sungai. Penguraian bahan organik dalam jumlah tinggi dapat meningkatkan kebutuhan oksigen di perairan dan berpotensi menurunkan kadar oksigen terlarut yang dibutuhkan ikan serta organisme air lainnya.

*Empat Sumber Pencemaran Teridentifikasi*

Berdasarkan pemantauan lapangan, tim sensus mengidentifikasi empat sumber yang diduga berkontribusi terhadap penurunan kualitas air Kali Surabaya:

1. Limbah domestik dari permukiman di sepanjang bantaran sungai yang belum dikelola secara terkendali.

2. Sampah organik dan plastik rumah tangga yang masuk ke sungai akibat minimnya pengawasan.

3. Limbah cair industri pabrik kertas yang diduga belum dikelola secara optimal sebelum dibuang ke lingkungan.

4. Aktivitas industri skala kecil yang turut membuang sampah dan limbah ke aliran sungai.

Pencemaran tersebut tidak hanya mengancam habitat ikan dan organisme perairan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kualitas sumber air baku yang dimanfaatkan oleh PDAM untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Kali Surabaya memiliki fungsi strategis bagi kehidupan masyarakat di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Karena itu, penurunan kualitas air perlu menjadi perhatian bersama, terutama dalam memastikan sumber air baku tetap memenuhi persyaratan kualitas untuk pengolahan air minum.

*ECOTON Desak Kejelasan Pengendalian Pencemaran*

ECOTON menilai kerusakan ekosistem Kali Surabaya akan terus berlanjut apabila tidak disertai kejelasan upaya pengendalian pencemaran, pengawasan industri, dan penegakan hukum terhadap sumber pencemar.

Kali Surabaya merupakan sungai strategis nasional yang pengelolaannya melibatkan kewenangan pemerintah pusat, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Lingkungan Hidup sesuai tugas masing-masing.

“Minimnya aparatur penegakan hukum kedua kementerian yang ada di Jawa Timur sering kali membuat upaya-upaya pengendalian jadi molor,” ungkap Heri.

Melalui Sensus Ikan 2026, ECOTON berharap pemerintah dan instansi terkait memperkuat pengawasan terhadap pembuangan limbah domestik maupun industri, memastikan kepatuhan pengelolaan air limbah, serta melakukan pemantauan kualitas air secara berkala.

Hasil sensus ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bersama bahwa pemulihan Kali Surabaya tidak cukup hanya dengan membersihkan sampah yang terlihat di permukaan. Pengendalian pencemaran dari sumbernya menjadi langkah penting untuk menjaga keanekaragaman hayati, memulihkan habitat ikan, dan melindungi fungsi sungai sebagai sumber air baku masyarakat.(rls) 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *