Koma.co.id, Makassar– Ada delapan perempuan, satu di antaranya terlihat menari-Nari mengelilingi sebuah alat yang di pukul dengan memakai Baju Bodo.
Para perempuan ini juga, terlihat memakai baju bodo (Bugis) dengan warna yang sama, merah. Sekitar 30 menit para perempuan yang memang berasal dari sekitar Cenrana, Kabupaten Bone ini memainkan dan memukul sebuah tempat.
Biasanya kegiatan ini disebut Mappadekko sebuah tradisi Bugis yang selalu dimainkan pada malam hari—biasanya saat panen. Namun berbeda kali ini (Jumat sore kemarin), tradisi yang dimainkan dalam rangkaian Haul sekalian ziarah kubur keturunan atau perhimpunan Wija Raja Lapatau di kompleks pekuburan di Cenrana, Kabupaten Bone.
Kendati jalan menuju wilayah sekitar pekuburan sangat rusak parah dan sudah tahunan tak mendapat perhatian, tak menyurutkan niat perhimpunan atau turunan raja ini mendatangi untuk ziarah ke makam Puatta dengan para istrinya.
Sebelum kegiatan pembacaan doa dan mengaji, Ketua Umum Perwira Sapri Andi Pamulu yang datang jauh dari Jakarta bersama rombongan terlebih dahulu shalat Azhar di masjid samping pekuburan.
Usai shalat, rombongan langsung duduk bersila dengan acara langsung di buka oleh Dr. Andi Ilham Samallangi.
Berturut-turut, pesan dari Andi Sapri yang merupakan jebolan s3 luar negeri berterima kasih kepada sebagian Wija yang melaksanakan Haul Raja Lapatau ini.
”Sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur,” kata Dirut BUMN ini.
Bagi lembaga adat, Nadi Baso Hamid dan Andi Yushan sangat mengapresiasi haul yang secara formil baru pertama dilaksanakan.
Pula Andi Promal Pawi sebagai kadis pariwisata kab Bone, berharap Haul tahun mendatang lebih besar lagi.
”Semoga tempat ini juga bisa menjadi semacam museum agar orang yang datang ziarah dapat lebih bisa memahami dan memaknai sepak terjang Puatta Lapatau yang merupakan pengganti Raja Arung Palakka,” katanya.
Doa-doa terus dilantunkan baik di dalam maupun di luar area pekuburan selama hampir dua jam. Berharap semua menjadi amal jariyah bagi para wija pada waktu mendatang.
Hari menjelang magrib, penganan kue khas Bugis seperti Barongko dan kaddo bo’dong telah di cicipi oleh tamu yang juga sebagai bangsawan keturunan Raja Bone. Tak terasa, sebagian besar wija pamit yang sebelumnya mengabadikan moment dengan foto bersama.
“Terima kasih kepada para to malebbi, para wanita berbaju bodo warna merah dan ulama yang sudah mendoakan leluhur. Kita berada dan silauturahmi karena leluhur,” katanya.
Turut hadir, selain pemangku adat, cucu langsung Raja Bone Andi Mappanyukki serta para Wija keturunan raja dari Soppeng dan Bone sendiri.(Andi Fadli)





