Akademisi: Sulsel Perlu Kembangkan Hilirisasi untuk Ekonomi Lebih Baik

Koma.co.id, Makassar– Bank Indonesia menggelar pertemuan tahunan 2020 untuk membahas potensi pengembangan ekonomi yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan Selatan baik di masa new normal maupun ke depannya.

Jelang pertemuan tahunan yang dihadiri oleh Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Sudirman Sulaiman. Bank Indonesia mengagendakan talk show sebagai pembuka acara yang menghadirkan akademisi Rektor Institut dan Keuangan Kampus Nitro, Dr. Marzuki bersama Ketua Ikatan Sarjana Indonesia Cabang Makassar, Dr. Sultan Suhab.

Dalam talk show tersebut, Sultan Suhab membahas tentang potensi daerah-daerah di Sulawesi Selatan yang perlu dilakukan proses hilirisasi seperti di Kabupaten Selayar.

Adapun sub wilayah untuk Kabupaten Selayar berkontribusi yakni di sektor pertanian dan kelautan untuk ekonomi Sulsel. Cengkeh, perikanan tangkap, sapi, pariwisata alam. Sementara komoditas unggulan adalah kelapa menurut stakeholder. Selain itu, sektor perikanan tangkap, dan terakhir jeruk keprok.

“Kalau kita jadikan ketiga itu sebagai hilirasasi dan kalau boleh ini terapkan di daerah lain. Mengembangkan hilisasi dengan menentukan produk unggul di masing-masing daerah,” ujarnya.

Adapun tantangan terbesar menurut stakeholder, kata Sultan Suhab, antara lain terkendalanya sumber daya produksi, nilai tambah produksi, dan efisiensi produksi

“Hilirisasi tidak bisa hilir saja justru harus kembangkan dulu, karena investor akan mempertimbangkan nilai, untuk itu peran pemerintah dibutuhkan dalam ekonomi ini,” kata Sultan Suhab.

Sementara itu, Marzuki menambahkan perlunya sinergitas seluruh sektor untuk melanjutkan hilirisasi ini, khususnya peran pemerintah.

“Untuk pertama kalinya Sulsel alami penurunan di sektor pertanian, yakni -2,9%. Diharapkan ada solusi untuk ini agar tidak terjadi minus lagi. Sulsel dari dulu sudah melakukan konteks hilirisasi, tapi ada banyak pertimbangan sehingga tidak berkembang di antaranya pergantian masa jabatan pemerintah, dan lain sebagainya,” tambah Marzuki.

Meski demikian, saat ini sudah mulai berkembang dan pemerintah sudah mulai menggenjot proses hilisasi (proses meningkatkan nilai tambah dari hulu ke hilir) industri perkebunan di Sulawesi Selatan.

Selain itu, menurut Marzuki, adanya pemetaan pelaksanaan proses hilirasasi dianggap sangat perlu, root map, rancabgan strategi yang tepat, pelibatan perguruan tinggi dalam riset untuk melakukan proses, dan hilirisasi akan efektif jika didukung dengan digitalisasi dan melibatkan perbankan daerah itu akan menjadi solusi untuk menjalankan hilirasasi.(Mrw)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *