Sekolah Islam Athirah Dorong Siswa Kelola Sampah dari Sumbernya

Koma.co.id, Makassar– Sekolah Islam Athirah memperkuat edukasi pengelolaan sampah di lingkungan pendidikan dengan mendorong siswa membangun kebiasaan memilah dan mengurangi sampah sejak dari sumbernya. Langkah tersebut dilakukan melalui Culture Activation Program (CAP) dengan memberikan edukasi kepada siswa Boarding Athirah Bukit Baruga.

Program ini sekaligus menjadi bagian dari dukungan Athirah terhadap upaya Pemerintah Kota Makassar menangani persoalan sampah melalui pengurangan dan pemilahan dari sumber. Pemkot Makassar mencatat produksi sampah di kota ini mencapai sekitar 800 ton per hari dan terus mendorong pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat, termasuk penerapan prinsip 3R, penguatan bank sampah, dan TPS3R.

Kepala Departemen Sarana dan Lingkungan Sekolah Islam Athirah, Imelda Makkuassang, mengatakan edukasi kepada siswa diarahkan agar pengelolaan sampah tidak berhenti pada aktivitas membuang sampah, tetapi menjadi kebiasaan yang dilakukan sejak sampah dihasilkan.

Dalam kegiatan tersebut, siswa diperkenalkan pada prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle serta cara membedakan sampah organik, anorganik, residu, dan bahan berbahaya dan beracun (B3).

Pemahaman itu kemudian dikaitkan dengan aktivitas siswa di asrama. Mereka didorong menerapkan pemilahan sampah secara disiplin di kamar, kantin, musala, hingga area bersama.

“Pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya. Siswa perlu memahami jenis sampah dan membiasakan diri memilah sebelum membuangnya. Kalau dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini bisa menjadi budaya,” ujar Imelda.

Bagi siswa, edukasi tersebut memberikan pemahaman yang lebih praktis mengenai pengelolaan sampah.

“Materi yang diberikan sangat bermanfaat. Kami jadi paham cara mengklasifikasikan sampah organik, anorganik, residu, dan B3. Kami juga akan lebih disiplin membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan seluruh area asrama,” kata Zafwan, salah seorang siswa.

Melalui pendekatan tersebut, Athirah menempatkan lingkungan asrama sebagai bagian dari ruang belajar siswa. Pengelolaan sampah tidak hanya dipahami sebagai persoalan kebersihan, tetapi juga sebagai pembiasaan yang membentuk tanggung jawab terhadap lingkungan.

Ke depan, edukasi dan pendampingan pengelolaan sampah diharapkan dapat diperluas ke unit sekolah berasrama lainnya di lingkungan Sekolah Islam Athirah. Langkah ini sekaligus memperkuat kontribusi lingkungan pendidikan dalam mendukung gerakan pengelolaan sampah Kota Makassar.(rls) 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *