Koma.co.id, Makassar– Direktur Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Endang Kurnia Saputra bahwa Bank Indonesia optimis proyeksi pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan akan mencapai 7,2% hingga 7,4% di tahun 2020.
“Sekarang ini proyeksi ekonomi perlu dilihat kembali. Tapi Sulawesi Selatan itu bisa tumbuh di atas 7,2-7,6 persen. Kami masih yakin dalam range tersebut untuk tahun 2020. Adapun untuk tahun 2019 proyeksi kami masih berada di kisaran 7 sampai 7,4 persen. Rilis angka pertumbuhan ini yang dilakukan oleh BPS biasanya dilakukan di bulan Februari awal. Tapi Sulawesi Selatan tumbuh memang tertinggi di Indonesia. Tapi tidak cukup, paling tidak Sulawesi harus tumbuh di atas 8 persen kalau kita ingin keluar dari middle income rate,” jelasnya pada kesempatan Media Breafing, Kamis, 9 Januari 2020.
Menurut Endang, sebaiknya sumber penghasilan Indonesia tidak hanya berasal dari dalam lokal menengah saja. Indonesia boleh menjadi negara berpenghasilan tertinggi dan sebagainya agar pendidikan jauh lebih baik. Kedua adanya pemerataan, sehingga yang menikmati pertumbuhan tersebut bukan hanya sebatas pelaku ekonomi yang itu-itu saja. Melainkan masyarakat secara umum.
“Jadi perbanyaklah proyek-proyek padat karya dan sebagainya yang bisa mempekerjakan orang banyak. Satu hal lagi yang perlu diketahui bagaimana kita meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Sumbangan terbesarnya peningkatan kualitas itu adalah pemerintah dari lalu sudah berupaya untuk hal ini BI secara sedikit demi sedikit membantu melalui beasiswa dan sebagainya, karena orang-orang kita bisa menguasai dan menjadi orang-orang yang memang dengan indeks dan kualitas yang baik. Sekali lagi untuk tahun ini kita tetap yakin Sulsel tumbuhnya antara 7,2 persen hingga 7,4 persen,” tambahnya.
Sekadar diketahui, salah satu sumber daya alam yang dimiliki Sulawesi Selatan dan menjadi incaran investor adalah nikel. Sehingga dalam hal ini kata Endang, sebaiknya masyarakat jangan hanya sebagai pekerja yang menjualkan bahan mentah saja, melainkan harus lebih produktif untuk dapat mengelolanya agar lebih bernilai tinggi.
“Dari 2 persen saja produksi nikel kita itu dipakai untuk otomotif. Cuma sayangnya pada umumnya yang menguasai teknologi seperti ini bukan Indonesia, semestinya adalah orang kita yang kuasai adalah orang China, Jepang. akibatnya mereka yang mendapat value terbesarnya, kita yang punya nikelnya. Kita yang cangkul nikel, mereka yang punya uangnya karena mereka lebih pintar. Inilah yang menjadi tantangan buat kita bagaimana nanti anak-anak Indonesia bisa menguasai teknologi,” tutup Endang.(Mrw)




