Koma.co.id, Makassar– Festival Jajanan Bango (FJB) kembali hadir di Kota Makassar. Setelah sebelumnya ada di tahun 2018, event kali ini menghadirkan 45 tenant masakan khas Nusantara di Area Parkir Mall Pipo. 10 di antaranya datang jauh-jauh dari luar Makassar.
Sejumlah nama dari tenant-tenant tersebut ternyata telah bertahun-tahun ada, bahkan sampai dilanjutkan oleh anak hingga cucu resep warisan masakan rumah makan legendaris ini.
Aroma Coto Gagak khas Makassar misalnya. Telah ada sejak tahun 1973. Bermula dari resep titisan oleh Daeng Kampa ke Daeng Nassa yang kemudian mulai berjualan Coto Makassar di Jalan Gagak Makassar.

Dari awalnya hanya warung sederhana hanya tersedia enam dan tujuh kursi. Kemudian mulai berkembang hingga kini, bahkan telah memiliki empat unit Aroma Coto Gagak Makassar, yakni di Jalan Gagak Makassar, Bandara Sultan Hasanuddin, di Kabupaten Pangkep, dan Surabaya.
Generasi ke dua Pemilik Warung Aroma Coto Gagak Makassar, Daeng Arsyad mengatakan dari awal berdirinya hingga saat ini tetap mempertahankan resep Patang pulo rampa (40 jenis rempah) yang dioleh secara tradisional, dan hanya menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar.
“Kami memiliki filosofi tiga aroma. Pertama aroma rasa, aroma tempat, dan aroma pelayanan,” kata Daeng Arsyad.
Aroma Coto Gagak Makassar sangat mengutamakan pelayanan, ini berdasarkan sejarah coto sendiri pada awalnya hidangan khusus kerajaan yang hanya memberikan daging, sementara organ atau jeroannya hanya diberikan kepada rakyat biasa.
“Kemudian oleh juru masak jaman dulu mencoba untuk menggabungkan keduanya, maka jadilah hidangan Coto yang bisa dimakan oleh semua kalangan sampai saat ini,” jelas Daeng Arsyad.
Sate Rembige Hj Sinnaseh
Beralih ke masakan khas wilayah Lombok, di FJB 2023 kali ini juga hadir Sate Rembige Hj Sinnaseh dari daerah Mataram, Lombok.
Berawal dari berdagang sate keliling yang dijinjing pinggir jalan di tahun 1987. Dalam perjalanannya juga pernah diusir pemilik tempat, kemudian berusaha kembali. Lambat laun semakin berkembang hingga memiliki warung makan sendiri di Jalan Dr. Rohidin no. 8 Rembige, Mataram.

Generasi kedua pemilik Sate Rembige Hj Sinnaseh, Fitri Kurnia memberitahukan kualitas daging nomor satu dan bumbu menjadikan warung makan Sate Rembige Hj Sinnaseh dikenal sampai saat ini. Padahal Sate Rembige sudah sangat banyak di Mataram.
Fitri berharap, sate Rembige milik keluarganya dapat berkembang lagi.
Mudah-mudahan bisa punya cabang juga di daerah lain,” katanya.
Mie Aceh Seulawah
Ada satu lagi masakan Nusantara warisan keluarga, yakni Mie Aceh Seulawah.
Meski bertempat di Jakarta. Mie Aceh Seulawah ini telah sampai pada generasi kedua dan mulai dirintis pada tahun 1996.

Meutia Facrina, Generasi Kedua dari Mie Aceh Seulawah ini menceritakan di awal berdirinya dahulu belum ada mie Aceh. Namun yang disediakan dalam menu hanya sekadar menu khas Aceh lain seperti ikan kayu dan eungkot paya. Pertama kali berdiri di Buncit Raya di kedai kecil, lalu pindah ke Jalan Karet dan kemudian dikenal saat ini di Bendungan Hilir.
Adapun resep asli kuliner ini berasal dari nenek yang kemudian dikembangkan oleh ibunya untuk membuka kedai makan menu khusus dari Aceh.
“Dulu waktu masih di kecil, yang dijual cuma makanan khas Aceh lainnya sebagai menu utama dikhususkan untuk orang-orang Aceh yang tinggal di Jakarta,” kata Meutia.
Bertahun-tahun kemudian kedai mulai berkembang, lalu diusulkan menu baru seperti Mie Aceh di tahun 2007. Kala itu Mie Aceh hanya sebagai menu pendamping saja.
“Lama kelamaan karena banyak juga yang suka makan mie, maka Mie Aceh dijadikan sebagai menu utama. Dan itulah yang menjadi nama dari brand kami,” lanjut Meutia.
Selama 27 tahun berdiri, Mie Aceh Seulawah tetap mempertahankan keotentikan rasa dengan berbagai rempah sebagai ciri khasnya. Untuk itu, bahan baku seperti bumbu kari dan kuah pliek dibeli langsung dari Aceh.
Meutia berharap agar ke depan usaha turun dari neneknya dapat terus dikembangkan, bahkan bisa membuka cabang Mie Aceh lainnya.(Mrw)





