Antara Sepakat dan Tidak Sepakat

Koma.co.id– Tanggal 1 Mei seperti tahun sebelumnya selalu di peringati sebagai hari buruh. Ribuan bahkan ratusan ribu buruh seluruh Indonesia turun ke jalan memeringatinya.

Lagi-lagi seperti tahun sebelumnya buruh dari berbagai organisasi Serikat kerja berkumpul dan melakukan orasi. Seluruh Indonesia memperingati, tak terkecuali di Makassar.

Read More

Momentum May Day kali ini, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia sebagai organisasi jurnalis resmi dan telah mendapat pengakuan dalam dan luar negeri juga mengeluarkan poster. Selebaran berupa poster tersebut berisi 9 poin kata dan kalimat menyangkut kehidupan jurnalis di Indonesia.

 

Secara pribadi, baik sebagai anggota AJI, freelance jurnalis, dan dosen jurnalistik komunikasi di salah satu kampus negeri bisa mengerti soal kata atau kalimat di poster selebaran itu.

Positif think, pasti sudah ditelaah dengan baik penerimaan jurnalis baik kalangan AJI maupun luar anggota.

Sesaat poster selebaran itu tersebar, ragam komentar bermunculan. Bahkan secara pribadi beberapa jurnalis senior di AJI mencoba berdiskusi mengenai kalimat di selebaran poster tersebut.

Ada yang kecewa, tapi ada pula yang bisa memahami. Ada setuju dan tidak soal isi selebaran poster tersebut, baik kalangan anggota AJI Makassar maupun di luar anggota.

Dalam koment Fb saya, sebagian besar jurnalis baik dari kalangan aji maupun luar aji mengakui, tidak seperti demikian waktu mereka masih bertugas. Beberapa di antara jurnalis, mantan jurnalis bahkan ada yang sudah menjadi dirut media mengaku, bahwa mereka malah Happy dalam menjalani aktivitasnya. Mulai dari gaji, tunjangan, cuti dan asuransi lain mereka terima. Saya pun maklum, mereka yang menikmati fasilitas tersebut adalah wartawan media besar di Indonesia dan media besar di Indonesia timur dengan jaringan grup besar. Bahkan beberapa senior (20 tahun jurnalis) dan ada memilih pensiun dini sudah mempunyai rumah dua unit, hingga mobil dua unit. Dari percakapan dan diskusi saya mereka malah tidak terlalu setuju dengan poster selebaran itu. Bahkan terkesan membuat rendah profesi yang di jalani.

Ada sebagian berhasil, namun saya tetap yakin bahwa masih ada juga yang belum menikmati fasilitas dan asuransi yang memadai dalam bekerja. Berdasarkan hasil diskusi dan observasi ke beberapa media ternyata benar ada yang masih bergaji standar dan minim asuransi baik ketenagakerjaan dan kesehatan. Semua harus di perjuangan dengan model dan cara yang baik. Butuh proses dan memang pasti lama.

Tanpa harus menyebut nama jurnalis dan media tersebut, inilah yang menjadi pekerjaan bersama para insan jurnalis. Bagaimana bisa bekerja dengan baik dengan gaji dan fasilitas tunjangan memadai.

Ada setuju dan tidak soal isi selebaran poster tersebut, baik kalangan anggota aji Makassar maupun diluar anggota.

Saya sebagai penulis ingin menyampaikan bahwa tidak semua jurnalis mengalami hal demikian. Masih banyak juga jurnalis yang sudah mapan, dengan media yang cukup terkenal di Indonesia.

Akhir kata, saya bisa memahami beberapa rekan anggota senior aji yang tidak terlalu sepakat dengan kalimat tersebut dengan alasan malah membuat rendah profesi ini. Di lain sisi, bahwa masih ada jurnalis yang masih bergaji standar dan belum maksimal dan tunjangan memadai juga benar adanya. Jika ingin memakai perbandingan 7:3.

Tujuh orang yang masih bergaji standar dan tiga orang yang sudah menjadi jurnalis yang cukup mapan dan sejahtera.

Oleh Andi Fadli
Jurnalis dan Akademisi

(Penulis adalah mantan Ketua AJI Makassar dan pernah bekerja di media harian, radio nasional, tv nasional, dan direksi di salah satu tv swasta kurun waktu 24 tahun. Saat ini sedang mengajar program studi Jurnalistik Komunikasi di UIN Alauddin Makassar)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *