Berkah Hijau di Pesisir Maros: Mangrove yang Mengembalikan Rejeki

Siang hari usai pelaksanaan Shalat Dzuhur, ibu-ibu menantikan perahu pengangkut ikan yang akan dijadikan umpan untuk menangkap kepiting. Mereka berkumpul dengan membawa ember di tempat biasanya transaksi ikan atau hasil tangkapan dilakukan. Ketika perahu telah sampai dan menurunkan umpan, ibu-ibu mulai berebut memasukkan ikan Bete-bete ke dalam ember untuk nantinya ditakar dan dihitung jumlah yang akan dibayarkan. Sementara itu, para suami beristirahat sembari memperbaiki jahitan Rakkang yang rusak oleh capitan kepiting. Rakkang adalah jaring atau keramba penangkap kepiting.

 

Ikan-ikan umpan yang dibeli, langsung dimasukkan ke dalam kotak berisi es untuk dijadikan stok. Para suami pun bersiap-siap untuk melaut ketika waktu menunjukkan pukul 2 siang. Itulah rutinitas harian di Dusun Kuri Caddi, sebuah kampung pesisir di Maros yang kini mulai bernapas lega berkat hutan mangrove.

Rudi (33) mulai melaut dengan sampan miliknya untuk menebar rakkang di tengah laut. Setiap rakkang diisi umpan satu atau dua ekor ikan, kemudian ditinggal semalaman untuk menunggu hasil tanggapan. Di pagi hari, Rudi Kembali turun melaut untuk mengangkat jaring berisi kepiting rajungan dan dimasukkan ke dalam ember. Hasil tangkapan pun diangkut ke darat dan dikumpulkan oleh istrinya Risma (33) untuk ditimbang dan dijual.

“Hari ini suami dapat sekitar enam kilo (kepiting rajungan). Tidak menentu hasil tangkapannya, kadang banyak seperti hari ini, kadang juga sedikit ji,” kata Risma.

Risma (33) sedang memegang hasil tangkapan kepiting rajungan di Pesisir Dusun Kuri Caddi. (Foto: Marwah)

Rudi dan Risma hanya satu keluarga dari sekitar 791 orang yang bermukim di Dusun Kuri Caddi, Desa Nisombalia, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros. Masyarakat pesisir yang terisolir dari jangkauan kota di Sulawesi Selatan. Mayoritas masyarakat di Dusun Kuri Caddi berprofesi sebagai pengangkap kepiting untuk kebutuhan mencukupi kebutuhan hidup.

Selain nelayan, ada juga masyarakat yang bekerja sebagai membudidaya ikan di tambak. Namun, produktifitas mulai menurun seiring maraknya penebangan mangrove dan peluasan tambak meningkat di 1975 hingga 2000an. Saat itu, masyarakat menganggap mangrove hanya merusak pemandangan pesisir karena bentuknya yang rimbun dan akar menjuntai ke atas. Sehingga tidak sedikit dari masyarakat khususnya di Pesisir Dusun Kuri Caddi menebang pohon mangrove untuk digunakan sebagai bahan bangunan rumah mereka. Akibatnya, abrasi mulai terjadi, hewan laut berkurang, bahkan perahu-perahu nelayan mengalami kerusakan akibat hantaman ombak saat musim penghujan tiba.

Mangrove mulai direstorasi

Saat tambak dianggap mulai tidak produktif, para pengusaha tambak mulai meninggalkan tambaknya dan mencari wilayah lain untuk membuat tambak baru, sehingga semakin banyak lahan tambak yang terbengkalai. Sementara di sisi lain mangrove semakin berkurang dan memberikan dampak buruk bagi makhluk hidup yang ada di sekitarnya.

Di tahun 2013-2014, Yayasan Hutan Biru atau Blue Forest melakukan penelitian dan melakukan rehabilitasi dengan pendekatan Ecological Mangrove di Dusun Kuri Caddi. Adapun salah satu metode yang dilakukan, yakni dengan hidrologi mangrove atau metode yang mempelajari pergerakan, distribusi, dan kualitas air dalam ekosistem mangrove, yang diatur oleh pasang surut air laut aliran air tawar, dan curah hujan. Singkatnya, para peneliti memberikan jalur aliran air untuk dapat ditumbuhi mangrove secara alami.

Koordinator Kemitraan dan Komunikasi Blue Forest, Rahmat HM mengatakan sejak Yayasan Hutan Biru melakukan restorasi tersebut, beberapa tampak yang tidak produktif kembali ditumbuhi mangrove dengan lebar sampai saat ini sudah 12 m. Kemudian mangrove harus berjalan bersamaan dengan program ekonomi supaya masyarakat dapat memanfaatkannya, sehingga mereka turut terlibat dengan membentuk kelompok ibu-ibu untuk mengolah produk perikanan juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya mangrove untuk kelangsungan hidup.

“Sekarang sudah ada sekitar 12 hektar mangrove yang sangat jelas di citra satelit sudah tumbuh, dan tumbuhnya mangrove itu bukan hanya untuk mangrove sendiri. Tapi dia menumbuhkan biodiversitas yang lain,” jelas Rahmat.

Salah satu tambak yang mulai mengalami berbaikan dari adanya hidrologi mangrove di Dusun Kuri Caddi. (Foto: Marwah)

Mangrove yang tumbuh mengundang banyak biota laut seperti kepiting, kerang, ikan, hingga mengundang burung-burung migrasi menempati mangrove. Kembalinya Biodiversitas ini tersebut pun dapat dimanfaatkan oleh mayarakat khususnya kelompok perempuan menghasilkan produk konsumsi dari hasil laut.

Mangrove menjadi berkah bagi masyarakat

Di Dusun Kuri Caddi, ada sekitar 15 jenis mangrove yang telah tumbuh. Beberapa di antaranya dan yang paling umum dilihat adalah Rhizophora (Bakau) dan Avicennia (Api-api). Jenis tersebut biasanya tumbuh di sekitar pesisir, memiliki ciri khas dan bentuk akar menghadap ke atas seperti duri besar. Namun memiliki batang yang sangat kokoh. Biasanya saat musim penghujan tiba, masyarakat di Dusun Kuri Caddi mulai menyandarkan kapal dan sampan mereka ke aliran laut yang ditumbuhi Bakau untuk dijadikan sebagai pagar pemecah ombak agar kapal terlindung dari benturan keras sehingga tidak rusak.

Seiring bertumbuhnya Bakau dan Mangrove Api-api juga menjadi tempat Kepiting Bakau berkembang biak, sehingga ada juga masyarakat yang membudidaya Kepiting Bakau. Hasilnya pun dapat mereka manfaatkan dengan cara menjualnya atau mengolah menjadi kerupuk, sambel, dan berbagai produk kepiting lainnya.

Salah satu kawasan penangkaran kepiting bakau di Dusun Kuri Caddi. (Foto: Marwah)

Selain Bakau, ada juga jenis mangrove yang tumbuhnya justru merambat seperti Acanthus ilicifolius atau biasanya dikenal dengan nama Jeruju. Tumbuhan jenis ini dapat dikonsumsi sebagai pangan. Uniknya, Jeruju bahkan dapat diolah menjadi teh yang memberikan banyak manfaat menurunkan kadar gula darah, menangkal radikal bebas, dan meredakan peradangan.

Berawal dari aksi menjaga mangrove, masyarakat tidak hanya mendapat solusi bagi kesejahteraan, mereka juga turut andil membantu memulihkan alam pesisir. Selain itu Mangrove yang pulih dapat menyerap lebih banyak karbon dari udara, membantu mengurangi pemanasan global dan perubahan iklim.

Hutan mangrove yang sehat melindungi pantai dari abrasi, banjir, dan gelombang besar, sehingga rumah dan lahan masyarakat lebih aman.

Hal tersebut juga ditegaskan oleh Kepada Dusun Kuri Caddi, Sapri yang mengatakan bahwa dengan masyarakat melestarikan mangrove, maka mata pencaharian mereka bisa tetap aman bahkan bertambah. Apalagi, mayoritas masyakat berprofesi sebagai nelayan Kepiting Rajungan, karena ekosistem yang terbangun di Dusun Kuri Caddi berstruktur tanah bebatuan dan pasir, sehingga sangat cocok untuk kepiting berkembang biak.

“Meskipun begitu, diharapkan ke depan agar diberikan peringatan agar menangkap (kepiting) dengan cara bijak. Ke depan diharapkan agar kepiting dapat dibududaya, jangan hanya ditangkap secara liar,” kata Sapri.

Menurut Sapri, mangrove harus dijaga dan dilestarikan, karena mangrove juga bagian daripada rumah biota laut termasuk Rajungan. Selain itu, abrasi juga dapat dicegah, dan perahu-perahu nelayan terlindung dari kerusakan.

“Salah satu cara bagaimana perekonomian bisa tumbuh. Selain daripada itu, budidaya tambak yang kemudian dengan bertambah di sekitar mangrove itu sehingga pendapatannya (masyarakat) bertambah, ada lagi mata pencaharian lain,” tutur Sapri.(Mrw)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *