Hidup Sebatang Kara Penghuni Gedung Bekas Pabrik

Mursalim (47), seorang duafa yang menempati gudang bekas pabrik di Makassar

Koma.co.id– Memasuki perayaan Idul Fitri, tentulah disambut dengan sukacita berkumpul bersama sanak keluarga atau kerabat termasuk dalam perayaan lainnya.

Namun, tidak semua mendapat kesempatan untuk merayakannya bersama dengan penuh kebahagiaan. Mursalim (47) misalnya, hidup seorang diri di sebuah bekas pabrik minyak PT Berdikari, Kelurahan Tamparang Keke, Kecamatan Mamajang, Makassar.

Read More

Hanya berharap dari belas kasih orang hanya untuk makan dan minum agar bisa bertahan hidup. Kadang dalam sehari pun tdk makan dan minum.

Mirisnya, ia hanya tinggal di puing-puing gudang bekas bangunan pabrik yang terletak di antara semak belukar.
Gudang tempatnya tinggal pun jauh dari kata layak, karena tidak ada listrik apalagi air bersih. Ia hanya mengandalkan lampu pelita buatan tangannya sendiri dan memanfaatkan sumur tua tak layak pakai untuk dirinya mandi.

Mursalim mengaku telah beberapa kali pindah saat masih aktif sebagai pengayuh becak. Namun, berhubung tenaganya sudah tidak sanggup lagi mengayuh becaknya, ia lalu beralih menjadi payabo (pemulung).

“Tapi sudah tidak lagi jadi payabo, jadi tidak ada mi penghasilan yang bisa diharap. Baru kalau sakit tidak bisa pergi berobat, karena tidak surat-surat (KTP, KK ataupun KIS),” kata Mursalim.

Sekadar informasi, Mursalim tinggal di bekas pabrik yang dipenuhi semak belukar bagai hutan rimba. Di malam hari, suasana sekitar gedung gelap gulita dan hanya pelita yang menemaninya.

Tidak ada sanak saudara yang datang menjenguk apalagi di saat perayaan seperti ini.

Editor: Marwah

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *