Koma.co.id, Makassar– Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti mengatakan nilai ekspor alat musik Indonesia pada Januari–Agustus 2026 mencapai sekitar Rp6,2 triliun. Hal itu disampaikannya di sela Konferensi Musik Indonesia (KMI) 2026 di Hotel Claro Makassar pada Kamis, 29 Oktober 2026.
Menurut Roro, alat musik dari berbagai daerah, termasuk alat musik tradisional, sudah diekspor ke sejumlah negara, antara lain Amerika Serikat, Jepang, Jerman, dan negara-negara Eropa lainnya. Ia berharap nilai ekspor itu terus meningkat dan menjadi sarana memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia ke dunia.
Roro menyebut Kementerian Perdagangan memiliki perwakilan di 33 negara yang dapat dimanfaatkan untuk membawa talenta musik Indonesia ke panggung internasional. Dalam kerangka kementerian, katanya, musik masuk dalam sektor jasa. Ia juga menyinggung kebutuhan lembaga khusus yang menangani ekspor musik, tidak hanya barang tetapi juga karya dan jasa musik.
Sementara itu, Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha menyebut pemerintah memandang musik sebagai satu ekosistem utuh, tidak hanya industri. Ekosistem itu mencakup pendidikan dan pengembangan kapasitas, penciptaan, produksi, distribusi, hingga literasi dan apresiasi publik. Literasi dan apresiasi, kata Giring, menjadi fondasi tumbuhnya kecintaan pada musik.
Giring juga menyoroti sejumlah isu yang dinilai penting bagi pelaku musik, seperti kontrak dan posisi tawar, pembiayaan, serta fasilitas, serta perlunya sistem pendataan yang menghimpun dokumentasi musik sebagai aset negara.
Terkait Institut Musik Jalanan, ia menyebut program ini dirancang menjangkau musisi jalanan di berbagai daerah. Pada akhir 2025, kata dia, Presiden Prabowo Subianto mengirim lebih dari 300 alat musik baru untuk musisi jalanan.
KMI 2026 berlangsung di Makassar pada 27 Oktober hingga 1 November 2026. Konferensi yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan bersama Indonesia World Music Series itu mengusung tema “Bergerak Bersama Mengimplementasikan Ekosistem Musik Indonesia yang Berdaulat” (sebagian media menyebut tajuk “Gerak Seirama”).
Makassar dipilih sebagai tuan rumah karena dinilai menjadi simpul ekosistem musik kawasan timur Indonesia. Menteri Kebudayaan Fadli Zon, saat membuka konferensi pada Selasa (27/10/2026), menekankan perlunya langkah dari perumusan gagasan menuju implementasi dan kerja bersama lintas pihak.
Konferensi membahas berbagai isu, antara lain tata kelola royalti dan regulasi hak cipta, etika kecerdasan artifisial (AI) dalam musik, perlindungan dan kesejahteraan pekerja musik, infrastruktur venue dan perizinan, hingga jalur ekspor musik. Pada penyelenggaraan 2025 di Jakarta, KMI diikuti sekitar 1.600 peserta dan menghasilkan 15 rekomendasi strategis.
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menyebut forum ini mempertemukan ratusan insan musik dari berbagai daerah dan berharap musik tradisional tidak hanya dipandang sebagai warisan masa lalu, melainkan peluang ekonomi baru bagi musisi dan pelaku industri kreatif.(rdk)





