Penutupan Program “Penguatan Literasi Digital Pemuda di Indonesia Timur” Japelidi

Koma.co.id, Makassar– Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) menggelar penutup program (closing program) dengan tema “Penguatan Literasi Digital Pemuda di Indonesia Timur” di Hotel Arthama Makassar, Jumat, 10 Juni 2022.

Menghadirkan sebagai pembicara, yakni perwakilan Consulate General Amerika-Surabaya, Adam Dreyfuss; Koordinator Nasional Japelidi, Novi Kurnia; dan Koordinator Program, Ni Made Ras Amanda.

Dalam sambutannya, Ni Made Ras Amanda selaku Koordinator Program mengatakan, program yang digagas dan dilaksanakan sejak september 2021 hingga Juni 2022 tidak di masa akhirnya. Namun program ini tidak berakhir diharapkan berlanjut dengan program-program berikutnya.

“Saya berterima kasih kepada 500 pemuda. Kita dapat melakukan workshop dan literasi digital kepada 500 pemuda yang terdiri dari NTT, Kalimantan Selatan, Sulsel, Maluku, dan Bali. Untuk itu saya juga berterima kasih kepada guru, karang taruna, komunitas pemuda yang mendukung dalam penyelenggaraan acara ini. Acara ini diharapkan di Indonesia Timur diberikan treatment khusus, karena kami sngat menyayangi Indonesia Timur. Katanya masa depan Indonesia berada di Indonesia Timur. Untuk itu, pemuda-pemudi di Indonesia timur juga harus memahami literasi digital yang cukup tinggi,”

Program ini dimulai dengan FGD yang membahas apa saja masalah literasi digital di lima daerah tersebut. Keluaran dari program ini adalah digital map ini adalah hasil di luar ekspektasi. PR masih banyak, tantangan masih tinggi.

Sebagai pembicara kedua, Koordinator Nasional Jaringan Pegiat Literasi Digital, Novi Kurnia mengatakan, Japelidi lahir dari keresahan di medsos (Facebook) tentang tantangan sebagai dosen komunikasi khususnya sebagai pengguna media digital bahwa ada banyak persoalan digital. Dari facebook ketemu di WA grup, ketemu di UGM, kemudian berlanjut di berbagai macam kota. Tidak hanya Jogja, Banjarmasin, Salatiga, Solo.

Japelidi utama ada di WA grup. Tapi Japelidi cabangnya ada di berbagai program di Japelidi sejak tahun 2017. Di masa pandemi, banyak tidak bisa dilakukan secara online.

“Tapi jangan lupa sejarah Japelidi ini lahir secara hybrid, bahkan ketika kita berjauhan di hampir seluruh wilayah Indonesia, kita bisa bersatu untuk kemudian membuat banyak program Japelidi,” jelas Novi.

Japelidi bukan komunitas atau organisasi yang punya badan hukum. Modal dibentuk hanya semangat dan WA grup. Dibantu oleh dukungan Amerika-Surabaya untuk program penguatan pemuda di Indonesia Timur. Ini ada mimpi Japelidi setelah tahun lalu Japelidi terlibat dalam penulisan empat modul cakap budaya, dan etis aman digital. Salah satu tantangan juga bagaimana menjadikan kaum muda yang ada di Indonesia Timur ini sebagai lentera, penerang untuk menjadikan dunia digital lebih aman, nyaman, cakap juga etis.

“45 dari 221 anggota Japelidi bekerjasama gotong royong untuk melakukan pekerjaan bermanfaat yang dipimpin oleh Ras Amanda. Salah satu program penting di Japelidi adalah kita tidak bisa melakukan sendiri. Tapi kita bisa melakukannya bersama-sama. Terkait generasi muda. Pepatah Ir. Soekarno mengatakan ’10 pemuda bisa guncangkan dunia” ini, 500 pemuda bisa guncangkan Indonesia Timur dan Indonesia secara lebih luas,” kata Novi.

Dalam kegiatan ini pula menayangkan rekap video program-program yang telah dijalankan JAPELIDI, pengumuman hasil lomba video kreatif, launching buku ‘Lentera Literasi Digital Indonesia’, launching Digital Map Japelidi, dan launching Digital Competency scale.(rls)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *