Koma.co.id, Makassar– Helpdesk KPTIK-BMN Makassar sebagai pusat layanan dan informasi Perwakilan Kementerian Keuangan Sulawesi Selatan yang terintegrasi merilis data perkembangan ekonomi pasca kenaikan BBM di Sulawesi Selatan 2022.
Bertempat di Gedung Keuangan Negara (GKN) Sulawesi Selatan, Helpdesk KPTIK-BMN Makassar merilis beberapa hal berikut.
Badan Pusat Statistik Sulawesi Selatan melalui Pimpinannya, Suntono mengatakan di tahun 2004 pemerintah melakukan penyesuaian harga, dampak langsung kelihatan inflasi terjadi di tahun 2005. Memasuki tahun 2013, penyesuaian harga BBM terjadi. Tentu memengaruhi harga dan daya beli masyarakat.
“Ketika harga naik, kalau pendapatan tidak naik, pasti akan menurunkan konsumsi. Otomatis kemiskinan juga akan semakin naik.
Di Maret 2021 angka kemiskinan 8,78% sementara di Maret 2022 berada di angka 8,63%. Inflasi di Sulsel capai naik 6,35%.
Adapun Komoditas yang terdampak bensin, Angkota kota, tarif kendaraan roda 2 online, akademi perguruan tinggi, tarif kendaraan roda 4 online, angkutan udara, telur ayam ras, ikan bandeng, dan udah basah
Sementara komoditas yang turun harga/deflasi. Bawang merah, tomat, minyak goreng, ikan layang, cabai, dan komoditi lainnya.
Bea Cukai, neraca perdagangan per September 2022 sebaran devisa di Sulawesi Selatan mencapai $1.111,13 (per juta Dollar). Sementara neraca perdagangan Sulawesi Selatan September 2022 surplus USD 40,91 Juta.
Pada sisi devisa ekspor terdapat kenaikan sebesar 5,63% dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, devisa impor di September 2022terjadi peningkatan hampir dua kali lipat dibandingkan Agustus 2022. Hal ini menyebabkan penurunan capaian Neraca perdagangan.
Untuk peningkatan devisa impor pada September 2022 dipengaruhi oleh importasi non rutin dari entitas XL Axiata yang devisa impornya mencapai USD 38,18 juta. Selain itu dari industri pengolahan terjadi peningkatan hingga dua kali lipat impor bahan baku berupa gandum pada September 2022 ini.
Kinerja Ekspor-impor dianggap tumbuh positif sehingga ekspor terpantau tetap tumbuh optimal dengan besaran growth 64,40%. Adapun komoditi yang berkontribusi dalam hal ini masih didominasi nikel dengan share yang terbilang dominan di angka 45,04%.
Sementara growth impor dianggap konsisten meningkat sejalan khir September semester pertama berada di angka 97,30% dan ada pada titik tertinggi sejak Februari 2022. Rata-rata kuartal berada pada titik paling tinggi sepanjang 2022 di angka USD 139,80 juta. Komoditi yang memiliki kontribusi terbesar masih pada komoditi bahan bakar mineral yang memiliki share sebesar 28,21% dari keseluruhan komoditi impor yang ada.(rls)





