Indonesia Menuju Drifting Economy: Stabilitas Kehilangan Daya Dorong Transformatif

Koma.co.id, Jakarta– Perekonomian Indonesia saat ini menghadapi persoalan struktural yang semakin kompleks. Di balik stabilitas makroekonomi yang masih terjaga, tersembunyi komplikasi kronis yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan kebijakan jangka pendek dan stimulus sesaat.

Demikian rangkuman diskusi Pengurus Pusat Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis (IKAFE) Universitas Hasanuddin yang disampaikan dalam “Seruan Bulungan”. Diskusi tersebut berlangsung di Kawasan Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan, pada Minggu, 10 Mei 2026.

“IKAFE Unhas ingin berkontribusi mengingatkan pemangku kepentingan agar kita semua terhindar dari kondisi yang lebih mengerikan. Ini semacam morning call, alarm bahaya sudah berbunyi,” kata Dr. Hendra Noor Saleh, DBA, Ketua Umum IKAFE Unhas.

Menurut IKAFE Unhas, selama dua dekade terakhir Indonesia berhasil membangun fondasi makroekonomi yang relatif kokoh melalui pengendalian inflasi, disiplin fiskal, dan stabilitas sektor keuangan. Namun, stabilitas tersebut kini justru kehilangan daya dorong transformatif dan berubah menjadi “sangkar” yang membatasi akselerasi produktivitas, inovasi, industrialisasi, dan daya saing nasional.

Kelompok alumni ini menyebut fenomena tersebut sebagai drifting economy, yaitu situasi ketika ekonomi tidak langsung runtuh, tetapi bergerak tanpa arah transformasi yang jelas. Kondisi ini berbahaya karena secara perlahan dapat menggerus kepercayaan publik, melemahkan daya tahan ekonomi nasional, serta meningkatkan risiko instabilitas sosial dan politik ke depan.

IKAFE Unhas menyoroti belum terintegrasinya berbagai fondasi ekonomi secara optimal. Ekonomi yang benar-benar transformatif memerlukan integrasi horizontal antara sektor komoditas hulu dengan industri hilir bernilai tambah, integrasi vertikal antara kebijakan moneter dan fiskal, serta integrasi sumber daya manusia yang mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.

Beberapa indikator ekonomi terkini semakin meningkatkan kekhawatiran. Nilai tukar rupiah menyentuh level Rp17.400 per dolar AS pada Mei 2026. Harga bahan bakar nonsubsidi melonjak tajam, dengan Pertamax Turbo sempat menyentuh Rp20.000 per liter dan Pertamina Dex mencapai Rp24.000 hingga Rp29.100 per liter. Sementara itu, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur masuk zona kontraksi di level 49,1 pada April 2026. Pertumbuhan ekonomi juga dinilai masih sangat bergantung pada belanja pemerintah, sementara beban bunga utang terus meningkat dan menggerus ruang belanja produktif.

IKAFE Unhas menyerukan kepada seluruh pemangku kepentingan untuk menunjukkan keberanian politik dan kejujuran intelektual dalam membaca kondisi ekonomi nasional. Mereka mendesak dihentikannya budaya “Asal Bapak Senang” (ABS) dan digantinya dengan tata kelola berbasis meritokrasi, kompetensi, integritas, serta keterbukaan terhadap kritik.

“Indonesia memiliki banyak talenta unggul di kalangan akademisi, teknokrat, pelaku usaha, dan tokoh masyarakat yang siap berkontribusi jika diberi ruang yang objektif dan inklusif,” tegas Seruan Bulungan.

Pada akhirnya, tantangan terbesar Indonesia bukan sekadar mempertahankan stabilitas, melainkan mengubah stabilitas tersebut menjadi energi penggerak transformasi ekonomi yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan. Tanpa transformasi yang serius, stabilitas hanya akan menjadi angka indah di atas kertas yang rapuh menghadapi tekanan zaman.(rls) 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *