Koma.co.id, Makassar– Maraknya penipuan dengan modus investasi digital saat ini dinilai sangat meresahkan masyarakat, khususnya bagi para korban.
Salah satu platform digital yang dinyatakan bodong (scam), yakni CT4-F Trading, situs yang menawarkan atau mengklaim akan memberikan keuntungan 20% tiap bulannya dengan menggunakan sistem arbitrase.
Platform trading digital scam ini telah merugikan ratusan hingga ribuan masyarakat di Indonesia. Meski demikian, tidak banyak korban yang berani untuk mengungkapkan modus penipuan ini. Padahal uang yang telah diinvestasikan tidak sedikit, bahkan ada yang sampai milyaran Rupiah.
Owner Turkish Coffe, Vivi Ana Maria Haryono yang juga merupakan salah seorang korban CT4-F menyatakan bahwa situs ini modus penipuan yang sangat merugikan banyak orang.
“Di sini saya mengungkapkan investasi bodong (CT4-F) ini, karena tidak ada yang berani. Mereka takut dengan penilaian orang lain bahwa nanti dikatakan ‘bodoh’. Tapi kalau tidak diungkap ini, maka mereka akan membuat (platform) yang baru lagi dan lebih banyak korban,” ungkap Vivi dalam konferensi pers di Turkish Coffe Makassar, Senin, 12 Juni 2023.
Vivi hanya satu dari sekitar 3000 orang di Sulawesi yang ditipu oleh Mr. Kenzo atau Tynno Christiano selaku Owner atau pengembang CT4-F Trading bersama orang-orang yang melakukan modus penipuan ini.
Berdasarkan situs salvo.co.id, CT4-F Trading merupakan sistem bisnis yang mengusung sistem arbitrase, yakni memperoleh keuntungan di antara dua exchanger saat melakukan transaksi kripto. Pendapatan cuan dari adanya selisih harga.
Dengan cara yang meyakinkan, membuat investor semakin banyak bergabung dalam ajakan pelaku. Dalam perjalanannya, ternyata terdapat berbagai biaya tambahan dan selisih harga makin tipis sehingga tidak dapat membayar keuntungan para investor.
Terciptalah skema ponzi, dan pada saat ini banyak diadaptasi dalam trading sehingga tercipta arbitrase crypto.
Dari sistem tersebut dengan keuntungan banyak, maka calon investor akan semakin tertarik untuk bergabung. Apalagi melihat kondisi ekonomi yang saat ini sedang melemah.
Dalam modus penipuan ini, Vivi mengaku telah merugi sekitar Rp540.000.000. dan sudah bergabung sejak Agustus 2022 lalu.
“Saya mengungkapkan atas asas kebenaran. Dan ini juga saya sudah laporkan ke pihak kepolisian. Sebagai psikolog, saya takutkan platform bodong tidak ditindak, mereka akan bikin lagi. Apabila kalau tidak ada pelaku yang ditindaki,” tegas Vivi.(Mrw)




