Bawaslu Sulsel Representasi Perempuan Pemilukada 2024

Koma.co.id, Makassar– Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Sulawesi Seltan gelar rapat bersama stakeholder dengan mengusung tema,”Represtansi Perempuan dan Spirit Pengawasan Partisipatif dalam Pemilihan Kepala Daerah 2024.”

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan peran pengawasan partisipatif bersama stakeholder khususnya kelompok perempuan, terwujudnya kebijakan afirmatif bagi perempuan dalam pemilihan kepala daerah, memperkuat pengawasan pertisipatif pada tahapan pengawasan Pemilihan Gubernur dan Bupati dan Wakil Bupati serta Walikota dan Wakil Walikota Tahun 2024. Bertempat di Hotel Aryaduta Makassar, Sabtu 24 Agustus.

Kegiatan ini dihadiri oleh lembaga pemerhati perempuan, pemantau pemilu, penyelenggara pemilu dan media. Diharapkan turut serta dalam pengawasan pemilihan dan berperan aktif mensosialisasikan aturan-aturan berkaitan pemilihan. Serta menjadi pemantau pemilihan serta melaporkan atau menyampaikan jika mengetahui adanya dugaan pelanggran.

Bawaslu provinsi Sulsel mengadirkan narasumber yaitu Dr Hj Jumria (Representasi Perempuan dalam Pencalonan), Reny Sri Ayu selaku koresponden Koran Kompas (Analisis Media dalam Framing Isu Perempuan dan Politik), Upi Hastati selaku Anggota KPU Sulsel (Representasi Perempuan dalam Penyelenggara Pemilu), Yudha Yunus selaku NGO Pemerhati Perempuan (Grand desain keterlibatan perempuan dalam politik.
Drs. Saiful Jihad, M. Ag selaku Anggota Bawaslu SulSel Kordiv Humas dan Hubal mengatakan, ada spirit yang ingin dibangun dalam kegiatan ini Bawaslu untuk Sulsel sejak periode lalu kita menggunakan kata perempuan, tidak menggunakan kata srikandi ketika di Jakarta memakai srikandi. Kenapa menggunakan perempuan, karena filosofinya lebih Indonesia.
“Khusus di Bawaslu kita ingin menghadirkan perempuan dalam konteks penyelenggara pemilu yang sifat keperempuanannya, perempuan tidak mesti jadi laki-laki untuk bisa menjadi penyelenggara pemilu, tidak mesti menanggalkan sikap feminisnya, tidak mesti menjadi maskulin. Sifat feminitas yang dimiliki perempuan kalau bisa ditumbuhkan ketika menjadi penyelenggara pemilu mungkin akan menghadirkan sebuah konsestasi pemilu yang lebih sejuk, damai, hingga menghadirkan pemilu yang lebih baik,” ujarnya.

Andarias Duma selaku Anggota Bawaslu Sulsel menambahkan, kehadiran perempuan dalam penyelenggaraan pemilu, menjadi tanggung jawab kita semua. Keterwakilan perempuan dalam kepengurusan partai politik, rekrutmen penyelenggara pemilu baik KPU dan Bawaslu mencerminkan bahwa pentingnya kehadiran gender perempuan dalam setiap penyelenggara pemilu dan seterusnya.Dalam masyarakat dibutuhkan ketokohan pemikiran-pemikiran perempuan.

Ana Rusli Ketua Bawaslu Sulsel mengatakan, represtansi pendistribusian perempuan dalam publik kekuasaan, perempuan dalam distribusi sebagai penyelenggara pemilu, partai politik, dan para kandidat yang akan maju dalam berkompetensi dalam pemilihan.
Pendistribusian ini harus saling menguatkan, saling mengikat komitmen bahwa dalam represtansi perjuangan perempuan harus punya makna dan nilai. Ada maskulin yang harus kita jaga dalam ruang kompetisi.

“Kita melihat dalam variabel ruang penyelenggara pemilu, komisi atau ruang publik. Suara perempuan hanya sedikit sekali. Satu itupun ditarungkan sesama perempuan, kita coba meretas asumsi ini. Dalam kompetisi sebaiknya tidak membahas tentang kelamin,” ujarnya.

Ana Rusli menambahkan, akan tetapi kompetisi kemampuan dan strategi kita dalam berjuang untuk meraih satu posisi. Bagaimana strategis represtansi perempuan dalam mempertimbangkan kebutuhan perempuan. Apa yang menjadi inspirasi perempuan dalam bentuk kebijakan, program kerja ataupun gender. Baik dewan maupun represtansi pemerintahan.

Kita menyadari bahwa perempuan tidak boleh berjuang secara sendiri-sendiri tetapi harus saling menguatkan. Spirit pengawasan, sering kali kita mengenai pelanggarana perempuan juga bagian dari pelaku. Sehingga perlu ada edukasi yang kuat. Tidak lagi menjadi objek dari sebuah keinginan politik. Tetapi menjadi subjek keterlibatan aktif dalam proses penyelenggaraan.

Inilah tantangan pada pemilu, sehingga kita berharap situasi politik ini memberikan keadilan bagi perempuan untuk mereprestansikan kemampuan masing-masing dalam kompetisi yang mendistribusikannya kedalam elemen-elemen.

“Mudah-mudahan ini menjadi ajang kita bersama. Diharapkan kedepannya kita akan tetap berkumpul, terkumpul dan berhimpun untuk selalu saling mengingatkan dalam konteks keinginan dan kebutuhan kita sebagai perempuan yang bermain dalam ruang politik maupun ruang publik.(anti)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *