Siri’, Tazkiyah Nafs, dan Jalan Menuju Insan Kamil

Koma.co.id–Subuh ke-28 bulan ini (28 April), bacaan saya pada juz 28 QS al-Mujadilah. Usai membaca beberapa lembar saya tutup mushaf. Dalam perjalanan saya terkesan dengan ayat ke-11 dan teringat undangan pengukuhan guru besar. Keinginan menghadiri undangan tidak kesampaian karena hari Selasa justru jadwal saya padat dari sejak pkl. 7.00 hingga pkl. 16.00. Di saat ada kesempatan inilah saya mencoba kembali membuka al-Mujadilah yang terletak pada awal juz ke-28, sama dengan tanggal pelaksanaan pengukuhan 28 April.

Read More

“…yarfa’illāhu allażīna āmanū minkum wallażīna ūtul-‘ilma darajāt…”
…Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…

Ayat ini sering dibaca oleh qari’/qari’ah dalam pembukaan acara, juga tidak jarang dikutip dalam pidato pengukuhan dan sejumlah acara yang memiliki nuansa akademik. Namun ada pertanyaan yang jarang kita ajukan dengan jujur: ilmu seperti apa yang dimaksud, dan sejauh mana ilmu itu benar-benar mengangkat derajat manusia, bukan sekadar derajat administratif, melainkan derajat moral dan spiritual?
Dua pidato pengukuhan guru besar yang disampaikan di UIN Alauddin Makassar pada 28 April 2026, masing-masing oleh Prof. Dr. Hj. Rahmi Damis dan Prof. Drs. Wahyuddin Halim, (maaf, tidak berhasil mendownload satu pidato lainnya) secara tidak langsung hadir sebagai jawaban atas pertanyaan itu. Keduanya, dari sudut pandang yang berbeda, menyentuh satu kegelisahan yang sama, yaitu mengapa ilmu dan iman yang sudah dimiliki belum cukup untuk melahirkan manusia yang benar-benar mulia?

Dua Diagnosis atas Satu Penyakit
Prof. Rahmi Damis, dalam kepakaran tafsir tematik, mengingatkan kita bahwa nafs manusia, sebagaimana diuraikan Al-Qur’an (disebutkan dalam 295 tempat), memiliki dua potensi yang saling bersaing: al-fujur (kecenderungan pada keburukan) dan taqwā (kecenderungan pada kebaikan). Manusia tidak lahir sudah baik atau sudah buruk. Ia lahir dengan keduanya sekaligus.
Hal yang membedakan seseorang dengan orang lain bukan pada ada-tidaknya potensi buruk dalam dirinya, melainkan pada kemampuannya mengendalikan potensi itu. Di sinilah letak tazkiyah al-nafs atau penyucian jiwa, menjadi kewajiban yang tidak bisa ditunda. Tujuh tingkatan nafs yang diuraikan Prof. Rahmi, mulai dari nafs ammarah yang dikuasai hawa nafsu hingga Insan Kamil yang telah fana fillah, adalah peta perjalanan batin yang harus ditempuh oleh setiap manusia yang ingin benar-benar “naik derajat” di hadapan Allah.
Sementara itu, Prof. Wahyuddin Halim, dalam perspektif Antropologi Agama, mengajukan diagnosis yang lebih sosiologis namun tidak kalah menohok. Ia menyebutnya sebagai paradoks kesalehan: mengapa masyarakat yang dikenal sangat religius; rajin shalat, rutin berpuasa, antusias berumrah, tidak selalu melahirkan manusia yang jujur, adil, dan bebas dari korupsi?
Jawabannya ada pada konsep yang ia sebut tajassud/penubuhan atau pendarahdagingan ajaran agama. Masalahnya bukan pada kurangnya ilmu agama, bukan pula pada lemahnya ritual. Masalahnya adalah bahwa proses belajar agama sering terhenti di tahap tafaqquh (pemahaman kognitif dan ritual), tanpa pernah mencapai tajassud (ketika agama sungguh-sungguh menjadi karakter, menjadi habitus, menjadi cara hidup yang mengalir secara otomatis dari dalam diri). Ilmu mengisi kepala, namun belum membentuk watak.

Siri’ sebagai Jembatan
Di sinilah Prof. Wahyuddin menghadirkan satu tawaran yang sangat kontekstual bagi masyarakat Sulawesi Selatan: nilai siri’ sebagai medium penting bagi tajassud ajaran Islam.
Siri’ dalam dimensinya yang paling dalam siri’ masiri’, bukan sekadar rasa malu yang reaktif ketika dipermalukan orang lain. Ia adalah dorongan moral internal yang proaktif: seseorang berbuat baik dan menjaga martabatnya bukan karena ada yang melihat, bukan karena takut sanksi, melainkan karena ia tidak sanggup membayangkan dirinya hidup tanpa martabat itu. Ia adalah kompas yang bekerja dari dalam, bahkan ketika tidak ada pengawasan dari luar.
Hamka (Buya Hamka), ulama besar yang pernah tinggal di Makassar dan menjadi pemakalah dalam seminar siri’ tahun 1977, menegaskan bahwa siri’ bukan sekadar warisan adat yang perlu ditoleransi Islam. Ia adalah “kewajiban moral yang paling tinggi” ekspresi autentik dari nilai Islam tentang martabat manusia. Dari akar al-ḥayā’ (rasa malu sebagai bagian dari iman) tumbuh empat perangai terpuji: sabar, ‘iffah, syaja’ah, dan adil. Keempatnya adalah buah dari siri’ yang hidup, dan keempatnya pula adalah tanda dari jiwa yang telah tersucikan.
Di sini, siri’ dan tazkiyah nafs bertemu pada satu titik yang sama. Keduanya berbicara tentang satu hal: kekuatan moral yang bekerja dari dalam diri, bukan dari luar.

Derajat yang Sesungguhnya
Kembali ke surah al-Mujadilah ayat 11. Ayat itu tidak hanya menyebut ilmu, tetapi juga mendahulukan iman. Konstruksi ayat itu sendiri sebenarnya sudah menjawab pertanyaan kita: yang diangkat derajatnya adalah mereka yang beriman dan berilmu, bukan salah satunya saja.
Namun yang sering luput adalah bahwa iman dalam Al-Qur’an bukan sekadar pengakuan lisan atau keyakinan dalam hati. Ia harus mewujud dalam amal dan ilmu yang sejati yagd dalam tradisi Islam, bukan sekadar pengetahuan yang tersimpan di kepala. Al-Gazali sudah mengingatkan empat abad yang lalu: khuluq (karakter) adalah “keadaan yang kokoh dalam jiwa, sehingga perbuatan baik mengalir darinya dengan mudah, tanpa perlu berpikir panjang.” Inilah ilmu yang mengangkat derajat, ilmu yang telah menjelma menjadi karakter.
Dengan kata lain, yarfa’illāhu allażīna āmanū… wallażīna ūtul-’ilma darajāt. Derajat itu baru benar-benar terangkat ketika iman dan ilmu sudah bertemu dalam nafs yang tersucikan, dalam siri’ yang hidup, dalam tajassud yang tuntas.

Panggilan bagi Masyarakat Sulawesi Selatan
Masyarakat Bugis-Makassar mewarisi tradisi moral yang sesungguhnya sudah sangat dekat dengan cita-cita al-Qur’an ini. Petuah leluhur “Asîri’ alému, asîri’i to matoammu, asîri’i padammu rupa tau… asîri’i Déwata Séuwaé” yang artinya malulah pada dirimu, pada orang tuamu, pada sesamamu, dan pada Tuhanmu, adalah peta moral yang lengkap dan menyeluruh.
Warisan itu kini sedang diuji. Di tengah budaya yang semakin mengagungkan jabatan, kekayaan, dan pencitraan, siri’ perlahan terkikis menjadi sekadar ornamen identitas. Ketika orang tidak lagi malu berlaku curang, ketika pejabat tidak lagi merasa siri’ mempertontonkan kemewahan di hadapan rakyat miskin, ketika gelar akademik diraih bukan melalui proses keilmuan yang jujur. Itulah yang dalam bahasa Bugis-Makassar disebut maté siri’ atau matinya rasa malu. Maté siri’ ini pada akhirnya, adalah maté nafs matinya jiwa yang -seharusnya- hidup.
Dua guru besar yang baru dikukuhkan itu mengajak kita untuk tidak berhenti pada simbol, bukan pada toga, bukan pada gelar, bukan pula pada ritual yang megah. Mereka mengajak kita menempuh jalan yang lebih panjang dan lebih sungguh, tazkiyah al-nafs sebagai jalan batin, dan siri’ masiri’ sebagai jalan budaya, keduanya menuju satu tujuan yang sama, menjadi manusia yang benar-benar naik derajat di hadapan Allah dan sesama.
Itulah Insan Kamil. Dan itulah makna terdalam dari janji Allah dalam surah al-Mujadilah ayat 11.

Opini ini ditulis dengan merujuk pada naskah Pidato Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Hj. Rahmi Damis, M.Ag. (“Memahami Nafs dalam Al-Qur’an Melalui Tafsir Tematik dengan Pendekatan Tasawuf”) dan Prof. Drs. Wahyuddin Halim, M.A., M.A., Ph.D. (“Siri’ na Sara’: Moralitas Lokal, Paradoks Kesalehan, dan Ikhtiar Penubuhan Islam”), keduanya disampaikan di UIN Alauddin Makassar, 28 April 2026. Selamat atas pengukuhan guru besarnya.

Oleh: Zaenal Abidin (Dosen Prodi Hukum Keluarga Islam FSH UIN Alauddin)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *