Belajar Memanusiakan Sesama: Volunteer Baru Gammara Inklusi Menyelami Dunia Disabilitas

Koma.co.id, Makassar– Organisasi Gerakan Aktualisasi Mandiri Masyarakat Inklusi (Gammara Inklusi) di bawah naungan Yayasan Aksi Gammara Inklusi Semesta terus memperlihatkan eksistensinya dalam perkembangan gerakan disabilitas di Sulawesi Selatan, khususnya di Makassar. Organisasi ini bergerak di sejumlah bidang seperti pendidikan, agama, sosial, teknologi, hingga ekonomi, dengan tujuan utama mendorong penyandang disabilitas menjadi pribadi yang berdaya melalui kolaborasi bersama nondisabilitas.

Komitmen itu kembali diperlihatkan melalui kegiatan diskusi dan edukasi mengenai etika berinteraksi dengan penyandang disabilitas yang digelar pada Selasa, 26 Mei 2026. Kegiatan tersebut diikuti para volunteer baru yang sebelumnya tersaring melalui proses pendaftaran relawan yang dibuka Gammara Inklusi.

Dalam pertemuan itu, peserta tidak hanya mendapat materi mengenai ragam disabilitas dan dinamika kehidupan sehari-hari penyandang disabilitas, tetapi juga praktik langsung mendampingi teman-teman netra. Suasana diskusi berlangsung hangat, penuh tanya jawab, dan menjadi pengalaman pertama yang membuka perspektif baru bagi sebagian besar peserta.

Muhammad Yusran Basri, salah satu volunteer, mengaku memperoleh banyak hal baru dari kegiatan tersebut. Menurutnya, pembelajaran tentang etika terhadap penyandang disabilitas menjadi pengalaman yang sangat penting.

“Pertama alhamdulillah saya senang ada teman-teman baru, kemudian pengalaman baru juga dan ada ilmu baru juga yang saya dapat, terutama tadi terkait adab terhadap teman-teman disabilitas. Saya kira ini sangat penting sekali,” ujarnya.

Ia mengaku semakin penasaran untuk memahami lebih jauh kehidupan penyandang disabilitas setelah mengikuti kegiatan tersebut.

“Ternyata banyak hal di luar sana yang belum kita ketahui,” katanya.

Yusran juga menilai kegiatan kerelawanan tidak hanya berdampak bagi penerima manfaat, tetapi juga membentuk diri relawan itu sendiri.

“Kegiatan volunteer ini akan berdampak untuk diri kita sendiri, bukan hanya untuk orang lain. Dan manusia yang baik adalah orang yang bisa bermanfaat untuk orang lain,” tambahnya.

Pandangan serupa disampaikan volunteer lainnya, Rafi Al Gifari. Ia mengaku awalnya masih awam mengenai cara berkomunikasi dan beretika dengan penyandang disabilitas, khususnya netra. Namun pengalaman langsung di lapangan membuatnya merasa dunia disabilitas adalah ruang belajar yang luas.

“Semakin kita menyelam ke dunia disabilitas itu, semakin kita merasa penasaran. Kita merasa ternyata dunia itu begitu luas,” katanya.

Rafi menuturkan, selama ini banyak orang ingin membantu penyandang disabilitas, tetapi belum memiliki akses atau wadah yang tepat. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak ragu terlibat dalam gerakan kerelawanan.

“Sesungguhnya di matanya Tuhan itu kita sama-sama. Kita tidak dibedakan atas fisik, mental, ataupun keseharian kita,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa membantu sesama merupakan bagian dari nilai kemanusiaan.

“Kalau kita membantu meringankan beban orang lain, Allah akan meringankan beban kita,” katanya.

Sementara itu, volunteer lainnya, Mutmainna, mengaku kegiatan tersebut memberinya pengalaman baru setelah sebelumnya hanya belajar mengenai disabilitas secara daring, termasuk belajar bahasa isyarat secara online.

“Dengan bergabung di sini, saya langsung merasakan secara langsung bagaimana etika terhadap teman-teman netra, bagaimana cara mendampingi teman-teman ketika ada kesusahan di jalan,” ujarnya.

Ia juga merasakan hadirnya sudut pandang baru setelah berinteraksi langsung dengan teman-teman netra.

Menurut Mutmainna, anak muda yang ingin belajar mengenai isu disabilitas sebenarnya dapat mulai mencari informasi melalui komunitas-komunitas inklusi maupun organisasi di kampus.

“Mungkin bisa mencari tahu melalui website atau gabung langsung di komunitas yang ada di kampus,” katanya.

Pembina Gammara Inklusi, Rahmat J., mengatakan organisasi yang dibangunnya terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar mengenai inklusivitas dan isu disabilitas. Ia menekankan bahwa proses belajar memahami disabilitas merupakan perjalanan yang terus berkembang.

“Tempat ini adalah wadah untuk kita belajar. Saya pun masih belajar,” ujarnya.

Rahmat mengakui bahwa memahami ragam disabilitas membutuhkan proses panjang, termasuk dalam memahami komunikasi dengan teman-teman tuli.

Ia juga mengajak masyarakat yang ingin menjadi relawan agar tidak ragu bergabung bersama Gammara Inklusi.

“Kami sangat terbuka. Kapan pun teman-teman ingin mengetahui lebih jauh tentang Gammara Inklusi, bisa menghubungi kontak kami, khususnya melalui Instagram,” katanya.

Sementara itu, penanggung jawab kegiatan, Tyas Harnando, menilai kegiatan edukasi etika interaksi ini penting untuk memperluas kesadaran masyarakat mengenai disabilitas.

“Cukup menyenangkan dan menarik buat teman-teman yang baru terjun di dunia disabilitas. Dengan adanya interaksi seperti ini, kegiatan-kegiatan selanjutnya bisa lebih mudah dilakukan,” ujarnya.

Tyas berharap dampak kegiatan tersebut tidak berhenti di lingkungan organisasi semata, tetapi meluas ke masyarakat yang lebih luas.

“Harapannya bukan hanya kegiatan-kegiatan kita yang berdampak, tapi lingkungan teman-teman yang baru terjun di dunia disabilitas ini bisa lebih meluas lagi. Bukan hanya untuk Gammara Inklusi, tapi untuk Indonesia,” katanya.

Di tengah masih minimnya pemahaman masyarakat mengenai etika terhadap penyandang disabilitas, ruang-ruang belajar seperti yang dibangun Gammara Inklusi menjadi penting. Bukan sekadar mengajarkan cara membantu, tetapi juga mengubah cara pandang bahwa inklusivitas dimulai dari kesediaan untuk saling memahami sebagai sesama manusia.

Penulis: Andi Zulfajrin Syam

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *