Kisah Agum Trianto Gunawan Menata Hidup sebagai Difabel

Koma.co.id– Desember 2008 menjadi salah satu titik paling menentukan dalam hidup Agum Trianto Gunawan. Saat itu usianya masih belia. Ia sedang dibonceng kakaknya melintas di kawasan bandara lama Makassar, tempat keluarganya tinggal. Motor mereka berhenti di lampu merah dan sudah berada di jalur kanan karena hendak berbelok masuk ke arah rumah. Namun dari belakang, sebuah truk 12 roda datang menghantam.

“Pada saat itu saya berpikir saya cuma terjatuh dari motor dan tertinggal dari kakak saya. Tapi menurut kakak saya, saya sudah terbaring di bawah sambil memegang tulang kaki sendiri,” tutur Agum.

Ia kemudian dilarikan ke RS Wahidin. Kakinya sempat diamputasi sampai mata kaki. Namun infeksi membuat amputasi harus dilakukan kembali hingga di atas lutut. Sejak itu, hidup Agum berubah.

Laki-laki kelahiran Makassar, 20 Januari 1999 itu tumbuh dalam keluarga broken home. Sejak usia enam tahun, ia tinggal bersama neneknya. Perempuan tua itulah yang membesarkannya hampir dua puluh tahun, hingga akhirnya wafat pada 12 Mei 2026.

Di masa-masa awal setelah amputasi, Agum tidak sedang menjalani kisah heroik seperti yang kerap dibayangkan banyak orang terhadap difabel. Ia justru bergulat dengan rasa minder, tatapan orang di tempat umum, dan kesadaran bahwa tubuhnya kini berbeda.

“Terkadang sedih kalau berada di tempat keramaian. Kita jadi pusat perhatian orang-orang. Dilihat dari ujung kaki sampai ujung rambut karena kita berbeda dari mereka,” kata Agum.

Perasaan itu sempat membuatnya rendah diri. Namun neneknya berkali-kali mengingatkan bahwa kondisi tubuh bukan alasan untuk merasa malu di hadapan orang lain.

“Almarhum nenek saya selalu bilang, ‘Kenapa kamu harus malu? Kamu kan tidak mencuri.’ Kalimat itu yang membuat saya terus maju dan tidak minder bertemu orang-orang,” ujarnya.

Kalimat sederhana itu tinggal lama di kepala Agum. Di tengah kondisi yang tidak mudah, ia mulai membangun keyakinan bahwa satu-satunya jalan agar hidupnya tetap bergerak adalah pendidikan dan kemampuan diri.

“Saya selalu ambis untuk belajar banyak hal dan selalu berusaha mencapai sesuatu. Karena saya berpikir kalau saya tidak belajar, saya akan jadi apa ke depannya?” katanya.

Meski begitu, Agum tidak menutupi bahwa ada banyak momen berat yang harus dihadapinya sebagai difabel amputasi. Ia pernah merasa iri melihat orang lain bisa berjalan dan berlari dengan bebas. Namun perlahan ia mencoba menerima hidupnya sambil terus menanamkan keyakinan pada dirinya sendiri.

“Saya selalu berpikir Allah tidak mungkin memberikan cobaan melebihi kesanggupan hambanya. Allah tahu kapasitas hambanya,” ujarnya.

Dorongan keluarga membuat Agum terus melanjutkan pendidikan. Saat kuliah, ia dikenalkan dosennya pada program beasiswa LPDP jalur afirmasi disabilitas untuk jenjang magister. Dari sana, ia mulai mengejar berbagai syarat: menulis esai, mengejar nilai TOEFL, hingga melengkapi berbagai dokumen administrasi.

“Saya awalnya tidak menyangka akan menjadi awardee LPDP,” kata Agum.

Di lingkungan kampus Universitas Hasanuddin, Agum kemudian mengenal Pusat Disabilitas Unhas. Di ruang itu, ia mengaku untuk pertama kalinya benar-benar bertemu dan berinteraksi dekat dengan sesama difabel. Pengalaman tersebut membuka cara pandangnya terhadap isu disabilitas, termasuk soal etika dan pentingnya layanan yang aksesibel.

Ia lalu aktif membantu teman-teman difabel dan dipercaya menjadi staf layanan di Pusat Disabilitas Unhas. Tugasnya menangani proses permintaan bantuan dari mahasiswa difabel.

“Saya sangat senang ketika hidup saya berarti bagi orang lain dan mampu membantu banyak orang,” ujarnya.

Selain aktif di kampus, Agum juga mengikuti berbagai pelatihan dan program magang. Ia pernah magang di Pusat Disabilitas Unhas dan PT Bumi Karsa, salah satu anak perusahaan Kalla Group. Pada saat yang sama, ia terus mencoba berbagai lowongan pekerjaan, baik yang terbuka untuk difabel maupun nondifabel.

“Memang berat, tapi kita tetap harus berusaha,” katanya.

Ia mengaku beberapa kali gagal dalam proses rekrutmen perusahaan besar, bahkan pada jalur afirmasi disabilitas. Karena itu, ketika Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membuka jalur afirmasi disabilitas, Agum sebenarnya tidak terlalu berharap banyak.

“Awalnya saya cuma berpikir ikut meramaikan saja karena sebelumnya saya sudah beberapa kali ikut lowongan perusahaan besar tapi tidak lolos,” ujarnya.

Namun proses itu justru membawanya melewati berbagai tahapan seleksi: tes tulis, wawancara psikologi, medical check-up, hingga wawancara panel. Agum mengaku tidak pernah benar-benar menyangka bisa lolos.

“Saya tidak pernah berpikir bisa melewati semua proses itu,” katanya.

Di tengah kabar baik tersebut, ada kehilangan besar yang menyertainya. Sang nenek yang membesarkannya sejak kecil meninggal dunia tepat sebelum ia berangkat ke Jakarta.

“Senang rasanya, tapi sedih juga karena pada saat itu nenek saya yang membesarkan saya dari kecil telah berpulang,” ujarnya.

Kisah Agum bukan cerita tentang “mengalahkan keterbatasan” seperti narasi inspirasi yang sering dilekatkan secara berlebihan kepada difabel. Cerita hidupnya justru memperlihatkan bagaimana dukungan keluarga, akses pendidikan, ruang inklusif, dan kesempatan kerja yang terbuka dapat membantu difabel membangun hidup secara bermartabat.

Pengalaman panjang itu pula yang membuat pesan Agum kepada sesama difabel terdengar sederhana, tetapi kuat.

“Jangan pernah putus semangat untuk memperjuangkan sesuatu. Kalian layak dan berhak bermimpi setinggi langit. Jangan sampai stigma orang membuat kita jatuh. Mari tunjukkan bahwa kita juga bisa bekerja di instansi pemerintahan,” kata Agum.

Penulis: Andi Zulfajrin Syam

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *