Koma.co.id, Makassar– Belanda dan Makassar sudah hampir sama pada abad 17. Ini sangat menarik diungkapkan oleh Dr Cathryn.
Begitupun penuturan prof Makoto Ito dari Jepang. Namun bagi Prof Campbell dan Cateryn, saat itu Nagasaki belum menjadi cosmopolitan.
Hal tersebut terungkap dalam bincang sejarah dan budaya yang diselenggarakan oleh Perkumpulan wija Raja Lapatau di claro hotel, minggu sore. Namun Makassar dan Belanda sudah menjadi coamopolitan.
Bincang budaya ini di hadiri ratusan peserta baik online maupun zoom dipandu oleh Dr Andi Ahmad Dosen Ilmu Budaya Unhas dengan menghadirkan pembicara dari lintas negara, Prof Campbell (Australia), Dr Cathryn (Belanda).
Dr Cathryn juga mengupas soal bola dunia karaeng patingalloang, artinya saat itu pengetahuan dengan peradaban tinggi yang sudah tinggi Meski demikian dari beberapa penelitian disepekati, jeak paling tinggi Belanda dan Makassar adalah tentang rempah2.
Pula tentang pelabuhan, Makassar sudah terkenal. Namun tentang nama, apakah pelabuhan Makassar Jumpandang atau Somba opu pelabuhan? Itulah yang masih menjadi riset.
Sulsel sangat penting sebelum Belanda tiba. Menurut profesor Campbell dari Australia, pelabuhan Gowa memang sudah ada, Somba opu dan tersiar juga juga maccini sombala. Horst mengatakan, sudah menyebut sejak lama nama Makassar.
Beberapa kapal juga sudah berlayar di luar dan sudah sering mengatakan nama Makassar. Beberapa sumber Belanda tidak mengacu sumber tertentu, tapi senua sudah menyebut Makassar.
Profesor camblee semua menambahkan, rempah-rempah sudah membuat nama Makassar Sulsel sebagai sebuah daerah kerjaaan sudah terkenal Sulsel.
Ratusan peserta baik zoom maupun offline di lantai 2 claro antusias mengikuti bincang budaya ini. Baik dari akademisi, penulis buku budaya, sampai raja Gowa dan cucu Raja Andi Mappanyukki hadir sejak sorr hingga malam bersama para peneliti lintas negara ini.(rdk)





