Koma.co.id, Makassar– Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Besar Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Makassar bekerjasama Pusat Pengendalian Mutu BKIPM melaksanakan kegiatan Harmonisasi Sistem Penjaminan Mutu Pada Produk Perikanan bertempat di Hotel Dalton pada tanggal 29 Maret 2022.
Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha dalam memahami konsep Quality Assurance sehingga mampu memberikan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan hulu-hilir untuk mendorong peningkatan ekspor ke negara tujuan.
Plt. Kepala BKIPM, Hari Maryadi mengatakan, di tahun 2021, produk perikanan di Makassar ada sekitar 6,6 triliun. Kemudian komisi 4 DPR RI mengapresiasi pada saat pandemi, hanya komoditas perikanan yang bertahan mampu menghidupkan begitu banyak masyarakat mulai dari hulu yakni penangkap, pembudidayanya, pengolah, pendistribusinya ini yang harus didukung terus.
Ke depan tantangan akan lebih besar lagi. Begitu penangkapan terukur dan Pak Menteri menargetkan ini tidak boleh produk perikanan yang ditangkap dari wilayah-wilayah 714, 715, 716 langsung ke wilayah lain. Harus didaratkan di sekitar itu. Tantngan ke depan untuk Makassar akan semakin besar,” ujarnya.
Sebagai penjamin mutu, BKIPM harus mampu memastikan keamanan produk perikanan dari hulu sampai hilir sehingga dapat dikonsumsi dengan aman. Selain itu, BKIPM senantiasa terus mendorong peningkatan ekspor melalui pelayanan sertifikasi yang cepat, murah, mudah diakses, transparan dan berorientasi kepada kepuasan pelanggan.
Kepala BKIPM Makassar, Sitti Chadidjah mengatakan pelaku usaha saat ini 146 dan setiap tahun ada peningkatan. ini menandakan bahwa kegiatan kewirausahaan di Sulawesi Selatan dengan kondisi kondusif walaupun dengan masa pandemi Covid19. walapun dengan potensi perikanan Khususnya di Sulawesi Selatan semakin memberikan janji yang sangat baik dalam peningkatan ekspor.
2021 nilai komonitas mencapai 6,6 triliun. Begitu juga perbandingan dari 2020-2021 tumbuh 13,4% peningkatan ekspor. Ini yang nanti kami diskusikan begitu juga dengan ekspor di Sulsel. Target ekspor sudah hampir di 45 negara termasuk di beberapa negara di Uni Eropa.
“Kami ada target meningkatkan nilai, volume, maupun komoditas ekspor semakin bervariasi, karena di Sulsel ini memiliki keanekaragaman potensi sumber. Kalau saat ini masih didominasi komoditas rumput laut dengan tujuan ekspor ke Cina. Tetapi nilai volume harga ke Amerika itu tuna,” terang Chadidjah.
Saat ini terdapat tiga program terobosan Kementerian Kelautan dan Perikanan yang telah dicanangkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono yaitu penerapan kebijakan penangkapan terukur berbasis kuota, pengembangan perikanan budidaya yang berorientasi ekspor dan pembangunan kampung perikanan buddaya sesuai dengan kearifan lokal.
Untuk memperlancar ekspor komoditi perikanan, maka Indonesia telah menjalin Kerjasama bilateral dengan beberapa negara tujuan ekspor dalam bentuk Memorandum of Understanding (MoU), diantaranya dengan Uni Eropa, China, Kanada, Rusia, Vietnam, Korea dan Arab Saudi.
Saat ini, produk perikanan Indonesia telah diterima di 171 negara. Salah satu kunci keberhasilan keberterimaan produk perikanan Indonesia adalah adanya harmonisasi sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan denbgan negara tujuan ekspor.
BKIPM Makassar sendiri mencatat volume ekspor komoditi perikanan pada tahun 2021 sebesar 179.180 ton dengan nilai sebesar Rp. 6,6 triliun. Volume ekspor komoditi perikanan ini meningkat sebesar 13,4 % dibandingkan dengan volume ekspor tahun 2020 yang hanya sebesar 158.050 ton dengan nilai Rp 5,47 triliun.(rdk)





