Karya Sang Maestro Akan Tetap Terkenang

Koma.co.id, Makassar–“Yang menarik setiap lukisan Zam Kamil (k zam) selalu ada dan keindahan manusia. Itulah ciri khas beliau,’’ kata Hasbullah Mathar, fotografer sekaligus dosen foto alumni Jogja saat bersama saya menikmati deretan lukisan yang terpajang di galeri foto anjungan pantai Losari, Sabtu 3 Otober 2020.

Lukisan-lukisan terpajang dengan rapi di galeri yang sejak kepemimpinan walikota Ilham Arief Sirajuddin dan Mohammad Ramdhan Pomanto, sudah memberikan tempat bagi para seniman pelukis Sulsel ini.

Zam Kamil pelukis yang menghabiskan remaja dan sekolah di Jogja ini, biasanya selalu menampilkan manusia dengan tubuh-tubuh indah dan seutuhnya. Namun kali ini, ada Nampak berbeda, dari sekian banyak lukisan Sam Kamil.

Pelukis senyum dan kesederhanaan ini memilih tema dengan Butterfly Effect, dengan pemaknaan ‘Nelayan Menganggur dan Petani Tidur.

Cerita pelukis kondang Zam, seakan ingin memperlihatkan kondisi kekinian yang terjadi di negeri tercinta ini.

“Konon, bagi nelayan laut adalah anugerah, adalah sahabat yang selalu memberi, tidak pernah marah, dan biasanya laut hanya kadang marah karena pengaruh bulan, tetapi kini sudah berbeda.

Bagi yang lain laut sekarang adalah musuh bahkan bisa menjadi lawan yang harus ditaklukkan.

Sekarang laut marah karena banyak hal, misalnya sampah industry yang terus menerus menimpanya, karena eksploitasi tiada henti serta reklamasi secara terus menerus. Akhirnya nelayan pun malas melaut, karena laut marah dan laut menjadi ganas, ikan-ikan terkena polutan dan menghilang.

Akibatnya menjadikan nelayan Menganggur. Imbasnya, tak ada lauk-pauk di meja makan, protein untuk masyarakat terhambat petanipun terkena dampak menjadi kurang gizi, menjadi malas bekerja.

Persawahan sebagian besar sudah terpepet perumahan dan tinggal petani tidur dan berkhayal. Menjual sawah satu-satunya untuk sekolah anak-anaknya yang beranjak dewasa agar meraih penghidupan yang lebih baik.

Begitulah seterusnya, hingga sawah akan menghilang dari peradaban.”

Demikian sekilas Butterfly Effect bagi Zam Kamil dengan sarat makna. Kritik dan kepedulian terhadap semesta, ia tuangkan ke dalam sebuah karya seni.

Bersama dengan pelukis kondang semisal Zainal Beta yang terkenal dengan lukisan tanah liatnya memamerkan sederet karya besar dengan penuh arti di galeri lukisan anjungan pantai losari.

Bukan hanya Zam dan Zainal, ternyata pelukis-pelukis muda yang sekarang banyak menelorkan karya-karyanya sering melakukan pameran di tempat ini.

Silih bergantian mahasiswa dari seni UNM dan Unsimuh mencermati setiap lukisan yang terpajang di dinding galeri lukisan tersebut.

Menurut penanggungjawab galeri, yang selalu melakukan pameran lukisan sudah generasi yang sudah berjenjang.

Demikian Muh Azis (62), awalnya hanya beberapa orang saja.’’Saya hanya beberapa orang saja seperti Zainal Beta (seniman lukis tanah liat) dan beberapa teman ingin memfungsikan tempat ini.

Sebagai wujud perhatian kepada seni dan budaya. Apalagi tempat ini sebelumnya hanya menjadi tempat nongrong orang lewat dan terkesan jorok,’’ kata Azis yang merupakan seorang putra mantan walikota Makassar ini.

Generasi selanjutnya seperti Zam Kamil dan sekarang masuk pada generasi ketiga.

’’Sekarang sudah generasi ketiga di bawah Zam Kamil. Kita selalu bersyukur tempat ini bisa menjadikan sarana edukasi karya anak bangsa dari sisi seni dan budaya.

“Jika sabtu dan minggu, selalu ribuan orang yang datang menikmati karya-karya pelukis hebat di tanah Bugis Makassar ini,’’ ungkap Azis yang pernah mengecap pendidikan di Amerika ini.

Sore pelan turun jelang magrib, suasana galeri makin ramai. Cerita yang singkat tapi sungguh sarat makna dalam sebuah filosifi perabadan.

’’Kita bangsa yang sebenarnya sudah sangat maju dalam sisi peradaban. Makin tinggi bahasa suatu kelompok maupun negara makin besar kita semua. Bugis Makasar membuktikan sejak dulu,’’(rdk)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *