KOMA.CO.ID,Makassar- Pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di Makassar masih dipenuhi beberapa masalah. PSBB yang bertepatan dengan bulan Ramadan membuat beberapa pedagang takjil seperti es buah, es pisang hijau, es teler, aneka kue serta makanan mengeluh. Mereka terpaksa tetap berjualan walaupun penghasilan yang mereka dapatkan tidak seberapa. Malah penghasilan yang diperoleh di bulan ramadan tahun ini sangat jauh jika dibandingkan penghasilan tahun lalu.
Seperti halnya yang terjadi di daerah Kompleks Perumnas Sudiang. Salah seorang pedagang takjil bernama Daeng Mina menyebutkan kalau tahun ini pembeli takjilnya sepi. “Sepi sekali jualan tahun ini. Saya ingin tidak jualan, tetapi saya takut kalau saya tidak jualan, pelanggan saya yang dulu mencari pelanggan baru. Terus kalau saya cuman di rumah saja, anak-anakku mau saya kasih makan apa,” keluh Dg. Mina (Sabtu, 4/5/2020).
Pedagang lain bernama Mulyono mengungkapkan keluhan yang sama. “Penghasilan sebelum PSBB saja sudah minim, apalagi sekarang diterapkan lagi sistem PSBB tambah berkurang penghasilan karena kurang pembeli. Mana lagi banyak lorong sekarang yang ditutup, tambah berkurang pasti orang yang mau belanja,” ucap Mulyono, Penjual Bakso di Kompleks Perumnas Sudiang.
Bantuan Belum Sampai
Beberapa masyarakat wilayah kompleks tersebut mengeluhkan tidak adanya bantuan yang diberikan oleh pihak pemerintah. Pihak RT/RW yang ditemui membenarkan tidak adanya bantuan tersebut di kompleks Perumnas Sudiang tepatnya RT002/RW006. “Seandainya ada bantuan dari pemerintah atas, kami akan membaginya kepada masyarakat. Masalahnya di sini tidak ada sama sekali bantuan yang dikasih pemerintah untuk kami. Untuk penyemprotan disinfektan saja kami memakai uang swadaya masyarakat, bukan dari pemerintah. Apalagi kalau bantuan, tidak ada sama sekali. Padahal warga kami ini banyak yang membutuhkan, karena warga kami ini hampir semua dapat dikategorikan sebagai warga tidak mampu,” tutur Nurfitri Amin, selaku anak atau wakil dari RT002/RW006 (Senin, 4/5/2020).
Nurfitri menyayangkan belum sampainya bantuan kepada warga di daerahnya.
“Kasihan juga kalau melihat pekerja harian seperti, penjual
takjil, penjual sembako atau buruh yang di PHK, mereka pasti membutuhkan
bantuan untuk meringankan beban ekonominya. Itu juga ada viral katanya dapat
transferan langsung Rp.600.000, warga di sini sama sekali
tidak ada yang dapat. Tapi semoga saja pemerintah cepat memberikan bantuannya,”
tutupnya. (Devi
Trisnawati)





