Koma.co.id, Bantaeng– Target SDGs 2.2 menyatakan “Pada tahun 2030, menghilangkan segala bentuk kekurangan gizi, termasuk pada tahun 2025 mencapai target yang disepakati secara internasional untuk anak pendek dan kurus di bawah usia 5 tahun, dan memenuhi kebutuhan gizi remaja perempuan, ibu hamil dan menyusui, serta manula”. Salah satu indikator untuk pencapaian target tersebut adalah prevalensi stunting (pendek dan sangat pendek) pada anak di bawah lima tahun (balita).
Untuk mendukung upaya pencapaian agenda SDGs tersebut maka perlu penguatan kapasitas kader tim pendamping keluarga (TPK) dalam melakukan edukasi pada kelompok sasaran pencegahan stunting. Oleh karena itu, tim dosen Unhas yang didukung oleh BKKBN melakukan Pelatihan Emo-Demo Bagi Kader Tim Pendamping Keluarga di Aula Kantor Desa Pajukukang, Bantaeng, Kamis – Jumat, 3 – 4 Agustus 2023. Peserta merupakan TPK di dua desa lokus stunting di Kecamatan Pajukukang, Kabupaten Bantaeng, yaitu Desa Pajukukang dan Desa Borongloe sebanyak 12 orang.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program percepatan penurunan stunting di Kabupaten Bantaeng melalui Pendampingan PT Kerjasama Universitas Hasanuddin dengan BKKBN. Tim dosen dari Unhas berjumlah 4 orang yang diketuai Prof. dr. Veni Hadju, PhD dengan anggota yaitu Dr. dr. Sri Ramadhani, MKes; Muhammad Rachmat, SKM, MKes; dan Safrullah Amir, SGz, MPH.
Pelatihan Emo-Demo ini juga dihadiri oleh PLKB setempat. Materi pelatihan dibawakan oleh Muhammad Rachmat, SKM, MKes yang merupakan dosen Departemen Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku Fakultas Kesehatan Masyarakat (PKIP FKM) Unhas, bersama tim yaitu Musfira, S.Gz; Andi Dewi Chandra; Diva Fadliah Kusumawardani; dan Nur Sabrina Ashila Olii.
Pelatihan Emo-Demo ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan kader dalam menyampaikan pesan sederhana dengan cara yang menyenangkan dan atau menyentuh emosi, sehingga membuat informasi mudah diingat dan berdampak dibandingkan dengan strategi perubahan perilaku konvensional lainnya. Hal ini diharapkan dapat menurunkan angka kejadian stunting khususnya pada usia anak 6-23 bulan di Bantaeng.
“Kader sebagai edukator dan komunikator terdepan di masyarakat perlu memiliki karakter yang kuat, penguasaan pesan kunci, dan penggunaan metode yang tepat. Nah, pelatihan ini untuk memperkuat hal tersebut,” jelas Muhammad Rachmat.
Saat ini terdapat 24 modul Emo Demo yang telah dikembangkan oleh GAIN. Setiap modul mencakup informasi tentang nama modul, tujuan, sasaran, pesan kunci, peralatan, langkah-langkah dan kesimpulan.
Kegiatan dibuka dengan yel-yel dan dimulai dengan pengantar komunikasi antarpribadi yang bertujuan meningkatkan cara berkomunikasi yang efektif terhadap sasaran dan dilanjutkan praktek Emo-Demo. Sejumlah modul Emo Demo dimainkan, diantaranya modul Pemberian ASI Eksklusif, MPASI, Cemilan Sehat, CTPS, Makanan Sumber Zat Besi dan Kalsium, serta ANC yang didemonstrasikan oleh tim dan diikuti oleh peserta. Kegiatan ditutup dengan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) oleh kader TPK masing-masing desa.





