Koma.co.id, Makassar– Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Kota Makassar menggelar Coffee Morning dengan mengangkat tema Partisipasi Rakyat Awasi Pemilu, Tangkal Hoaks, dan Ujaran Kebencian di Ceylon Coffee, Senin (22/1/2024). Kegiatan ini dihadiri perwakilan 32 lembaga dari pemerintah, organisasi media, hingga komunitas.
Hadir sebagai pemateri, Anggota Bawaslu Sulsel Saiful Jihad, Anggota KPU Kota Makassar Abdi Goncing, dan Presidium Mafindo Jejaring Indonesia Tengah Dr. Jumrana S.Sos., M.Sc. Dalam pemaparannya, Saiful Jihad mengakui jika di musim Pemilu 2024, penyebaran hoaks semakin masif dan digunakan sebagai alat untuk menjatuhkan lawan politik.
“Sasaran penyebaran hoaks menargetkan lawan politik dengan cara dibuat narasi yang dianggap benar tapi dipotong sedemikian rupa sehingga menghasilkan narasi negatif. Sementara dia sendiri membangun narasi positif untuk dirinya dalam menutupi informasi demi membangun tren positif,” ujarnya.
Kata Saiful Jihad, tak jarang hoaks politik menyerang dan menyudutkan penyelenggara. Agar kepercayaan masyarakat kepada penyelenggara semakin berkurang. Salah satu contoh hoaks yang menyerang penyelenggara adalah narasi tentang adanya ‘gudang siluman’. Narasi ini pernah muncul pada Pemilu 2019 lalu, bahkan saat ini dimunculkan kembali untuk merusak kepercayaan publik terhadap penyelenggara.
“Muncul baru-baru ini katanya sudah ada gudang siluman KPU. Kotak suara menghilang. Sudah ada surat suara dalam kotak suara di gudang siluman. Ini cara hoaks bekerja, ditanamkan dalam memori publik mengenai narasi jika penyelenggara sudah tidak fair,” ujarnya.
Tugas kita bersama, kata Saiful Jihad adalah dengan memulihkan kembali kepercayaan publik terhadap penyelenggara, dengan cara berpartisipasi dalam menangkal hoaks. “Hal ini bertujuan agar penyelenggara bisa melaksanakan tugas dengan baik, menjaga integritas karena ekspektasi masyaarakat tinggi. Kalau ada info kita akan tindaklanjuti untuk dilakukan penelusuran dengan cara mencari fakta,” ujarnya.
Sementara Abdi Goncing mengatakan, dalam meminimalkan penyebaran hoaks politik, pihak KPU selalu memberikan edukasi kepada caleg dan tim kampanye agar tidak terlibat dalam produksi dan penyebaran hoaks. “Kita beri edukasi pada caleg pada tim kampanye jika hoaks adalah sesuatu yang tidak baik. Kita sebatas mengingatkan karena urusan penindakan ada di Bawaslu,” ujarnya.
Abdi Goncing juga menekankan pentingnya memberikan edukasi kepada masyarakat dalam bentuk persuasif mengenai bahaya hoaks baik untuk diri sendiri mau pun untuk orang lain. Melalui pendekatan persuasi kita bisa membangun komunikasi yang lebih etis kepada seseorang agar mereka bersedia untuk menerima saran dan masukan mengenai bahaya hoaks.
“Dalam kearifan lokal Sulsel kita mengenal istilah sipakainge, yakni saling mengingatkan. Menjadi sangat penting sipakainge dan sipakatau dalam edukasi hoaks. Ketika ada di grup Whatsapp, informasi yang hoaks tersebar baiknya dilakukan pendekatan persuasif. Supaya tidak sipakasiri. Mungkin awalnya tersinggung, tapi lama kelamaan mereka akan mengerti juga jika dilakukan pendekatan persuasif,” ujarnya.
Ada pun Jumrana menekankan pentingnya kolaborasi antar komunitas dan pemerintah dalam menangkal hoaks di momen Pemilu 2024. Dia mengatakan, hoaks bekerja dengan memutarbalikkan mindset seseorang mengenai fakta. Pada aspek ini Jumrana sepakat dengan Saiful Jihad jika hoaks dibuat agar masyarakat mengalami krisis kepercayaan pada penyelenggara Pemilu dan media kredibel.
“Kalau ada media yang berusaha melawan hoaks dengan periksa fakta langsung disebut sudah dibeli pemerintah. Misalnya KPU dan Bawaslu berusaha melakukan proses tahapan di mana kebijakan dan regulasi penyelenggara dianggap merugikan kepentingan kelompoknya, pasti akan disebut jika penyelenggara telah diintervensi pemerintah,” ujarnya.
Olehnya itu, perlu adanya gerakan dan partisipasi bersama dalam menangkal hoaks. Karena memberantas hoaks tak bisa dilakukan sendiri, namun dibutuhkan kerjasama antar stakeholder terkait. Dia mencontohkan upaya Mafindo yang sejak berdiri hingga sekarang aktif dalam membina komunitas dalam hal literasi digital. Bahkan Mafindo juga aktif menemui mahasiswa di kampus dalam upaya peningkatan literasi digital.
“Yang kami lakukan adalah peningkatan kapasitas. Kami ada 3 tahapan dalam peningkatan kapasitas. Pertama tahu yakni bisa membedakan hoaks atau bukan, kedua tanggap yakni menanggapi informasi baik misinformasi, disinformasi, dan malinformasi dengan bijak. ketiga tangguh yakni bagaimana melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak dalam melawan hoaks,” tutupnya.(rls)





