Keuntungan Menjual Salak di Pinrang, Menarik Warga Lokal Membuka Usaha

Koma.co.id, Pinrang– Di tengah malam hari sekitar pukul 01.00 WITA, sebuah bus dari perjalanan Kota Palu ke Kota Makassar singgah di warung bernama Pelita Salak Desa Mallang. Supir bus memberhentikan busnya kemudian turun membuka pintu sehingga penumpang yang ada di dalam turun dan keluar untuk melihat salak. Salah seorang penumpang yang bernama Riska mulai melihat dan mencoba beberapa salak yang dijual. Dari wajahnya terlihat ia merasa senang mencoba salah satu salak, raut wajahnya nampak tersenyum dan mengangguk seakan mengatakan ia suka dengan apa yang dimakannya.

Kemudian ia pun mulai menanyakan harga ke penjual yang bernama mbak Nana dan membeli 5KG salak seharga Rp.75.000,00. Setelah beberapa menit bus singgah dengan beberapa penumpang yang membeli salak dan beberapa lainnya hanya beristirahat saja, supir bus pun akhirnya mulai menginstruksi penumpang yang masi berada di luar untuk masuk ke dalam bus karena perjalanan akan segera dilanjutkan. Akhirnya bus melanjutkan perjalanan dan meninggalkan warung.

Tempat yang di singgahi bus tadi merupakan wilayah yang tentu saja sudah tidak asing lagi di dengar oleh masyarakat bagian Sulawesi Selatan. Yap daerah tersebut adalah salah satu kabupaten di SulSel yaitu Kab. Pinrang, Kec. Duampanua, Desa Mallangg. Selain Enrekang yang dikenal dengan buah salaknya, ternyata salak di Pinrang juga sangat terkenal dari berbagai kalangan pemudik berbagai daerah.

Menurut warga lokal di sana, desa mereka telah menjual salak sejak tahun 70 an bahkan mungkin lebih dari itu. ” di sini sudah lama sekali menjual salak bahkan sejak saya masi SD tahun 70 an sudah banyak yang menjual, mungkin juga sebelum saya lahir sudah menjual” Ucap bu Santi warga asli.

Namun desa yang pertama kali menjual salak bukanlah Desa Mallang melainkan Desa Lasape, desa yang bertetangga dengan Desa Mallang. ” Awalnya yang menjual salak itu di Desa Lasape karena di sana memang salak dikelola dan kebunnya juga di sana sehingga banyak dijual sampe berjejeran di sepanjang jalan” ucap bu Santi lagi.

Seiring berjalannya waktu karena melihat warga desa Lasape memperoleh keuntungan yang banyak membuat warga desa Mallang mulai berinisitif untuk mencoba melakukan hal yang sama yaitu menjual salak.

Sehingga pada tahun 2020, mbak Nana salah seorang warga Desa Mallang mulai mencoba untuk menjual salak dengan modal Rp. 200.000,00. Dengan modal segitu ia membeli salak sebanyak dua karung di Desa Lasape. Setelah membeli dua karung salak ia pun mulai menjual salak yang dibelinya dengan harga sekilonya Rp.15.000,00. Target penjualannya tentu saja pemudik dari berbagai daerah yang melintas di jalan umum depan rumahnya.
Ketika menjual ia terkejut ternyata hasil penjualan pertamanya menguntungkan karena hanya dengan membeli salak seharga Rp.200.000,00 ia mendapat keuntungan perhari sebesar Rp.500.000,00. Akhirnya dari situpun ia melanjutkan usahanya berjualan salak dan memberi nama warungnya Pelita Salak. Beberapa tahun kemudian usahanya berjalan dengan baik sehingga ia mulai merenovasi warungnya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Karena adanya perluasan jalan di desa pada saat itu, membuat warungnya bisa dibangun lebih luas dan memberi ruang bagi mobil bus atau pun mobil lainnya saat akan parkir untuk membeli salak.

Jika sebagian orang hanya tahu salak Enrekang maka salak di Pinrang juga tak kalah terkenal. Menurut mbak Nana, salak enrekang memang lebih besar dibanding dengan salak pinrang, namun untuk rasanya salak di pinrang lebih manis. Karena ukuran salak enrekang lebih besar, kandungan airnya juga lebih banyak sehingga rasanya tidak terlalu manis sedangkan salak pinrang ukurannya lebih kecil namun kandungan airnya sedikit sehingga rasa pekat manisnya lebih terasa.

“Kadang juga saya ambil salak Enrekang tapi kalau salak enrekang itu dia ukuran salaknya memang lebih besar dibanding salak pinrang karena banyak airnya kalau dimakan, kalau salak pinrang tidak banyak air nya jadi lebih terasa manisnya, mungkin juga karena cara produksinya beda kan disana dataran tinggi daerah pegunungan sedangkan di sini kan tidak” ucap mbak Nana. Ia juga menambahkan yang membedakan salak pinrang dan enrekang adalah karena tempat produksinya atau penanaman buahnya akibat suhu udara dan dataran yang berbeda.

Selain itu, ada berbagai macam salak yang dijual mbak Nana seperti salak gula-gula, salak madu dan salak enrekang. Salak gula buahnya kecil dibanding salak madu dan memiliki warna agak kehijauan, salak madu lebih kecil dibanding salak enrekang dan memiliki warna cokelat kehitaman yang pekat sedangkan salak enrekang ukurannya lebih besar dan warnanya cokelat hitam yang tidak terlalu pekat.

Seiring waktu berlalu, beberapa warga desa mulai melakukan hal yang sama yaitu menjual salak sehingga di sepanjang jalan raya umum di Desa Mallang telah banyak berjejeran penjual salak di setiap rumah hingga saat ini. Kejadian tersebut juga membawa hal positif untuk kawasan di sana sebab banyak lampu terang yang terpasang di setiap warung sehingga menerangi jalan raya.

Ada pula tradisi menjual salak di sana yang patut dilakukan. Yaitu ketika yang punya warung salak telah membeli atau berlangganan memesan salak pada salah satu orang yang memproduksi salak maka ia hanya akan terus membeli di sana, boleh pun membeli ke produksi yang lain namun tidak meninggalkan si produksi sebelumnya. Selain itu, ketika ada pembeli salak maka si penjual salak wajib mengatakan “SALAMAKII” yang artinya “semoga selamat sampai tujuan” ketika pembeli tersebut sudah akan meninggalkan warung. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk doa untuk keselamatan pembeli yang telah membeli di warungnya dan juga rasa terima kasih.

Namun warung-warung yang menjual salak di sana tidak hanya menjual salak mereka juga menjual beberapa camilan, makanan ringan, buah-buahan lain seperti apel dan minuman. Tetapi inti penjualannya tetaplah salak. Salak yang dibeli merupakan salak dari produksi kebun salak orang-orang Lasape yang dulunya dijual dengan cara dipajang di depan rumahnya. Namun sekarang warga lasape sudah tidak menggunakan cara itu lagi mereka kebanyakan menjual salaknya per karung seharga Rp.100.000,00 ke setiap warung langganannya baik di Desa Mallang maupun di desa lainnya.

Salak merupakan buah yang mudah rusak atau busuk. Salak biasanya akan busuk sekitar 4-5 hari setelah diperjualbelikan. Mbak Nana juga mengatakan “Dulunya salak yang sudah mau rusak akan diproduksi kembali menjadi keripik salak atau manisan namun sekarang entah karena apa sudah tidak ada lagi, sehingga salak yang busuk akan langsung di buang begitu saja”.

Penulis: Saskia Nurul Ramadhani – Mahasiswa Jurnalistik UIN Alauddin Makassar

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *