Koma.co.id, Maros– Tim Direct Aid Program (DAP) dari Konsulat Jenderal (Konjen) Australia di Makassar melakukan evaluasi terhadap proyek Phinisi Global Foundation (PGF) yang berfokus pada peningkatan ekonomi masyarakat melalui budidaya ternak berbasis zero waste di Desa Lekopancing, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros. Proyek ini didanai oleh AusAid melalui Program DAP yang dikelola oleh Konjen Australia.
Delegasi Konjen Australia dipimpin oleh Wakil Konsulat Jenderal sekaligus Ketua DAP, Philippa Armstrong, didampingi Cindy (Manajer Hubungan Publik & Riset/DAP Committee) dan Mario (anggota DAP Committee). Mereka disambut hangat oleh Tim PGF yang dipimpin oleh Nasruddin Said Yusuf, serta Kepala Desa Lekopancing, Kaluddin Rapi.
Dalam kunjungannya, tim DAP memberikan apresiasi atas hasil kerja Tim PGF. PGF adalah organisasi nirlaba yang dikembangkan oleh akademisi Dr. Muh. Saleh Jastam, SKM, MKes dari FKIK UIN Alauddin Makassar dan Muhammad Rachmat, SKM, MKes dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. Tim DAP menilai proyek ini berhasil memberdayakan masyarakat desa melalui inovasi berkelanjutan. Salah satu fokus utama program ini adalah pengolahan kotoran ternak sapi menjadi biogas, yang tidak hanya mendukung pengelolaan limbah, tetapi juga menyediakan sumber energi alternatif bagi masyarakat setempat.
Philippa Armstrong mengungkapkan rasa puasnya terhadap pelaksanaan proyek ini. “Program ini merupakan contoh nyata dari bagaimana dana bantuan DAP dapat digunakan untuk menciptakan perubahan berkelanjutan yang bermakna,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Desa Lekopancing, Kaluddin Rapi, menyampaikan harapannya agar dukungan dari DAP dapat diperluas, terutama dalam pengolahan pupuk Bio Slurry yang dihasilkan dari penggunaan Biogas. “Kami berharap bantuan ini dapat membantu masyarakat kami memaksimalkan manfaat limbah ternak, termasuk dalam pengolahan pupuk kandang yang lebih efektif,” ucapnya.
Ketua Tim PGF, Nasruddin, yang akrab disapa Aca, juga mengutarakan keinginan agar kerja sama ini terus berlanjut. “Selain menciptakan energi terbarukan dan pupuk organik, kami berharap ada dukungan untuk pelatihan intensif bagi masyarakat Desa Lekopancing. Pelatihan ini mencakup pengelolaan limbah ternak menjadi pakan ikan, serta strategi pemasaran produk seperti pupuk kandang, pupuk cair, dan pestisida organik,” jelasnya.
Salah satu penerima manfaat program ini juga menyampaikan rasa syukur atas dampak positif proyek. “Dengan adanya biogas, kami tidak perlu lagi membeli gas elpiji. Uang yang biasanya kami gunakan untuk itu kini bisa dialihkan untuk kebutuhan lain. Selain itu pupuk yang dihasilkan dari biogas dapat menyuburkan tanaman buah dan sayur yang di tanam di lahan mereka,” ujar seorang warga penerima manfaat.
Philippa Armstrong menegaskan pentingnya keberlanjutan proyek ini. “Kami sangat terkesan dengan semangat masyarakat dan dedikasi Tim PGF. Keberlanjutan proyek seperti ini adalah salah satu prioritas kami dalam mendukung komunitas lokal untuk mencapai kemandirian ekonomi dan lingkungan,” katanya.
Rencana pengembangan lebih lanjut mencakup peningkatan kapasitas produksi biogas dan diversifikasi produk berbasis limbah ternak. Tim PGF juga telah menyiapkan proposal lanjutan kepada Konjen Australia untuk mendukung pengadaan alat dan pelatihan tambahan yang diperlukan untuk pengolahan limbah.
Proyek ini tidak hanya menjadi contoh sukses kerja sama internasional, tetapi juga bukti nyata bagaimana pendekatan berbasis komunitas dapat memberikan dampak luas, baik dari segi ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Dengan visi keberlanjutan yang kuat, Desa Lekopancing kini berada di jalur untuk menjadi desa percontohan dalam pengelolaan sumber daya berbasis zero waste di Sulawesi Selatan.(rls)





