Koma.co.id, Bulukumba– Terletak sekitar satu jam setengah perjalanan dari Kota Bulukumba, Kecamatan Bontobahari yang kita kenal sebagai pembuat perahu pinisi dan juga merupakan salah satu tempat wisata yang dikenal akan pantai pasir putihnya yaitu Pantai Tanjung Bira. Ternyata, di sana juga terdapat banyak makanan tradisional salah satunya kue Uhu-Uhu.
Karena rasa penasaran saya melakukan perjalanan jauh dari Kota Makassar menuju Bulukumba dengan jarak tempuh 100 km dengan menempuh waktu sekitar empat jam dengan mengendarai motor. Sungguh melelahkan namun, demi jajanan ini saya rela jauh jauh datang dari Makassar untuk mengetahui sejarah dan proses pembuatannya.
Sesampainya di sana, saya bertemu dengan pemuda di Desa Darubia lebih tepatnya Desa Bira atau lebih dikenal dengan Tanjung Bira, pemuda itu bernama Ical beliaulah yang memperkenalkan saya dengan Ibu Ros pemilik usaha rumahan Uhu-uhu. tak butuh waktu lama Ibu Ros pun langsung mengajak saya untuk menyaksikan proses pembuatan kue Uhu- Uhu tersebut.
Uhu-uhu merupakan salah satu jajanan khas Kota Bulukumba yang diburu warga lokal dan wisatawan yang semakin banyak berkunjung ke daerah yang dijuluki kota pembuat Perahu Pinisi tersebut. Penamaannya diambil dari kata UHU yang berarti rambut, karena kue ini memang mirip dengan rambut yang digulung. Pembuatannya pun sangat tradisional alat dan bahan tidaklah sulit.
Kue ini menggunakan gula merah yang dilelehkan sebagai pemanisnya.
Biasanya orang Bira ketika membuat kue uhu-uhu mereka akan menggunakan batok kelapa yang dilubangi kecil- kecil. Tempurung ini berfungsi sebagai alat pencetak adonan yang nantinya akan berbentuk seperti rambut yang sangat kecil saat digoreng di atas minyak panas. Adonan yang terbuat dari tepung beras dicampur dengan gula pasir yang telah dicairkan. Kemudian, tepung beras dan air gula disatukan dan diaduk hingga membentuk adonan yang tidak terlalu cair dan tidak pula terlalu kental.
Setelah adonan dirasa pas adonan kemudian dimasukkan ke dalam batok kelapa yang berbentuk seperti timba (dengan pegangan) yang bagian bawahnya sudah dilubangi sebagai tempat keluarnya adonan. Adonan yang keluar akan berbentuk seperti rambut putih yang terurai.
Kata Ibu Ros menjaga kestabilan api merupakan step tersulit dalam pembuatan uhu-uhu, karena zaman dulu orang menggunakan kayu bakar dan api yang dihasilkan sering tidak stabil yang mana bisa membuat kue Uhu-Uhu menjadi gosong. Setelah minyak dirasa panas adonan pun dimasukkan.
Dalam proses penuangan adonan keminyak panas ini cukup unik di mana saat penuangan menggunakan batok kelapa yang berbentuk seperti timba dan batok kelapa tersebut akan dipukul-pukul menggunakan kayu yang bertujuan untuk mengeluarkan adonan dari batok kelapa yang telah dilubangi tersebut sehingga menghasilkan suara yang khas. Proses pencetakannya pun hampir mirip dengan kue dadar yang dilipat dalam minyak berbentuk segi empat atau segitiga juga bisa sesuai dengan keinginan masing-masing.
Setelah kue dirasa sudah matang kue pun diangkat dan ditiriskan lalu setelah kue dirasa dingin kue uhu-uhu pun disiram menggunakan gula merah yang telah dilelehkan.
Ibu Ros juga mengatakan pada zaman dulu jajanan ini hanya boleh dihidangkan kepada pararaja dan bangsawan atau ketika ada acara tertentu seperti acara adat penyambutan tamu penting dan acara pernikahan.
Adapula berbagai cerita sakral di balik kue Uhu-Uhu tersebut. Contohnya pada acara pernikahan terdapat berbagai mitos di kalangan masyarakat mengenai kue Uhu-Uhu yaitu pada acara pernikahan ada sesi di mana para keluarga atau warga setempat yang akan berebut isi dalam seserahan yang dibawa mempelai pria, acara tersebut dinamakan (re’bo erang-erang) yang berarti berebut seserahan. Bukan hanya kue Uhu-Uhu yang ada di dalamnya terdapat juga kue dumpi eja, haje, ketupat, pisang dll, kegiatan ini kadang masih diselenggarakan bagi keluarga yang memiliki darah bangsawan atau kerajaan.
Pada acara pernikahan di daerah Bulukumba dan sekitarnya masih terus dilestarikan. Kegiatan ini memiliki simbol kebersamaan dan Kekeluargaan. Ibu Ros juga menambahkan Konon katanya, dumpi eja dan Uhu-Uhu wajib dimakan dalam acara pernikahan adat. Khususnya bagi mereka yang masih gadis atau pria jomblo.
“Ibu saya dulu sering bilang kalau ke acara perkawinan adat jangan lupa makan kue khassuku konjo Uhu-Uhu dan dumpi eja katanya biar cepat juga nikah,” pungkas Ibu Ros sambil tersenyum ramah mungkin mengingat kenangan masa lalu.
Namun seiring berjalannya waktu kue Uhu-Uhu ini semakin sulit untuk ditemukan karena semakin banyaknya jajanan modern yang membuat kue Uhu-Uhu tertinggal zaman.
Ical juga menambahkan kalau kue ini kadang juga dihidangkan pada malam sebelum resepsi pernikahan di mana keluarga dan warga akan begadang semalaman sambil bergurau dan tertawa ria, ada juga yang bermain domino, remy dan bahkan catur.
Pada malam itu akan dihidangkan berbagai jajanan tradisional seperti kue lapis, kue dadar dan tak lupa kue Uhu-uhu dan di temani kopi pahit dan teh. Uhu-uhu yan dilumuri gula merah. Rasa manisnya itu akan sangat cocok dinikmati bersama segelas kopi pahit.
“Biarkan saja kopi pahit menerabas kerongkongan, sebab kue uhu-uhu akan segera menciptakan rasa manis yang menggemaskan,” ucap Ical sambil tertawa.
Setelah menyaksikan proses pembuatannya saya pun dipersilahkan untuk mencoba kue Uhu-Uhu tersebut.
Sepintas kue ini memang terlihat seperti rambut yang digulung dan membuatsaya sedikit ragu untuk mencobanya namun tidak bisa saya pungkiri warna dan aroma yang dihasilkan sangat khas dan menggugah selera. Saat gigitan pertama hal yang pertama kali saya rasa yaitu rasa manis akan gula merah dan kue yang sangat kriuk.
Mengingat bahan-bahan yang di digunakan serta cara pembuatannya menurut saya kue ini memang cukup sehat karena tidak menggunakan pewarna berbahan kimia—pun bahan-bahannya dari bahan yang alami.
Satu-satunya celah menyebutnya tidak sehat karena cara memasaknya dengancara di goreng. sebagai mana yg kita ketahui bersama banyak yang berpendapat jika minyak goreng kurangbaik bagi kesehatan, apalagi yang digunakan berulang-ulang (minyak jelantah).
Rasa kue Uhu-Uhu ini memang tidaklah sebanding dengan kue zaman sekarang namun cita rasa pada kue Uhu-Uhu ini memiliki nilai tersendiri khususnya generasi 90-an ketika mencicipi kue ini, akan membuat mereka bernostalgia akan masa lalu.
Jika kamu berkunjung ke Bulukumba, tak ada salahnya mencicipi kue uhu-uhu atau membawanya pulang sebagai buah tangan. Selain nikmat, kue uhu-uhu juga memiliki sifat yang awet.
Ia bisa menjadi bekal perjalanan yang tak muda menyerah pada kata basi. Kue tradisional dari Butta Panrita Lopi ini masih bertahan hingga kini, di tengah gempuran beragam kue modern.
Penulis: Misliani Nur





