Koma.co.id, Makassar– Menyambut usia ke-70 dan menyikapi trend digital bisnis melalui hadirnya berbagai solusi startup yang tumbuh pesat hingga menjadi sejumlah unicorn dengan valuasi milyaran Rupiah di Indonesia, KALLA menggelar Start Up Hunt untuk Start Up dapat bersinergi dalam kesempatan strategic partnership pada 7 ekosistem bisnis KALLA.
Kegiatan Startup Hunt ini dimulai dengan pelaksanaan Workshop Series yang dimulai pada hari Kamis (09/06) di Bikin-Bikin Creative Hub, NIPAH Park. Pelaksanaan Workshop Series ini mengangkat tema Ekosistem Education yang menjadi salah satu industri KALLA dengan sejumlah potensi menjanjikan.
Dalam sambutannya, Subhan Djaya Mappaturung selaku Chief of Corporate Secretary and Legal Officer menyampaikan bahwa Start Up Hunt merupakan rangkaian kegiatan ulang tahun yang jatuh pada 18 Oktober 2022. “Seperti yang kita ketahui bersama, KALLA ingin tumbuh berkembang bersama masyatakat. Oleh karena itu salah satu upaya ialah melalui kegiatan ini, khususnya dalam dunia digitalisasi dengan tantangannya yang cukup besar. Oleh karena itu, KALLA ingin terlibat lebih jauh dengan bersinergi Bersama teman-teman start up, khusunya dalam memberi edukasi digital kepada masyarakat,” ungkap Subhan.
Ricky Theodores selaku COO PT. Kalla Inti Karsa juga menyampaikan dukungan besar terhadap industry start up melalui kehadiran Bikin-Bikin Creative Hub di Nipah Park. “Sejak dibuka pada 2019, BikinBikin Creative Hub telah banyak berkolaborasi dengan pelaku industri kreatif dan start up di Kota Makassar. Namun, pada awal 2020, kita memasuki masa pandemi yang membuat kegiatan menjadi terbatas. Namun kami tetap konsisten menerapkan konsep 3C yaitu coworking, collaboration dan concreat. Kami sangat beraharap BikinBikin menjadi base camp dan ruang kolaborasi untuk industri kreatif dan industry,” imbuh, Ricky.
Achmad Soegiarto, selaku Chief Strategy & Technology KALLA menjelaskan Kegiatan ini digelar dalam rangka 70 tahun Kalla Group yang mengulas 7 ekosistem Kalla Group dalam 7 webinar series. “Event kali ini merupakan event perdana dan akan kita lakukan sampai September 2022. Kita percaya negera ini inovasinya tidak boleh mati. Maka kita percaya itu bisa dilakukan dimana saja. Di KALLA, inovasi juga bisa melibatkan teman-teman start up. Sebab kami begitu concern dengan ekosistem inovasi. Teman-teman yang berbuat inovasi kita siapakan beraneka ragam cloud yang bekerja sama dengan AWS. Kita berikan secara free untuk mereka mulai set up inovasi yang mau dilakukan. Untuk mengikuti Startup Hunt 7 Mega Ekosistem Kalla Group, para startup dapat mengirimkan company profile ke www.awanindonesia.com” terangnya.
Dalam kegiatan Workshop Series pertama kali ini terdapat sharing session oleh berbagai narasumber professional di bidangnya masing-masing. Dimulai dari Gupta Sitorus selaku Chief Sales Marketing Officer WIR Group.
“Sektor edukasi saat ini dapat memanfaat metaverse yang telah kami dari WIR Group telah membuat prototype dimana setiap siswa dapat hadir dimanapun dan kapanpun dan bertemu dengan gurunya secara live dimanapun dan kapanpun juga. Tentu dunia metaverse ini menjadi masa depan yang baik untuk Pendidikan kita,” jelasnya.
Anthony Amni selaku Head of Mid-Market Amazon Web Services juga berbagai bagaimana Cloud AWS berperan penting dalam perkembangan start up di Indonesia. “Menyadari hal tersebut maka kami berkolaborasi dengan KALLA untuk memberikan infrastruktur cloud service secara free dan memadai khususnya para start up yang nanti akan berkolaborasi dengan KALLA,” jelasnya.
Andi Hutami Endang, S. Kom., M. Kom selaku Dosen Kalla Business School mengungkapkan bahwa Kalla Business School memiliki visi sebagai Rumah bagi para pengusaha inovatif. “Sesuai dengan visi kami di Kalla Business School sebagai perguruan tinggi unggul dalam pengembangan kewirausahaan berbasis teknologi inovatif dimana kami memastikan setiap alumni dapat mendirikan usaha mandiri atau menjadi professional. Program Studi Kalla Business School antara lain Kewirausahaan, Sistem Informasi, Manajemen Retail dan Bisnis Digital yang sangat sesuai dengan kebutuhan Revolusi Industri 4.0,”jelasnya.
G.N Sandhy Widyasthana selaku COO & Portofolio Director MDI Ventures juga mengungkapkan bahwa “Start up yang baik harus memiliki persediaan sampai setidaknya 1 tahun kedepan untuk mengetahui apakah mereka bisa survive atau tidak. Ini kembali ke perencanaan dari para Start up karena para investor saat ini semakin selektif,” imbuhnya.
Bengris Pasaribu selaku pemegang UX Master di Indonesia pertama dari Nielson Norman Group (A world leader in UX Design & Research from USA) dan juga pertama di ASEAN dan Australia juga turut berbagi pengalamannya dalam dunia UX Design dan market UX Design di Indonesia. “First impression sangat penting karena saat ini kita menggunakan human centric design. Oleh karena itu kita dapat menggunakan tools 5 second test, dimana siapapun yang melihat desain aplikasi kita menilai aplikasi kita. Jika tidak mendapatkan informasi selama 5 detik, berarti desain aplikasi kita harus diubah,” jelasnya.
Terakhir Yuswo Hadi selaku konsultan pemasaran/ pembicara publik dan managing partner Inventure mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahuh terakhir, kebanyakan Start Up didirikan oleh lulusan IT. “Namun, saat ini start up tidak hanya soal teknologi. Jangan berpikir kalau jago IT, bisa bikin aplikasi, terus bisa sukses. Elemen kunci pada landscape start up sekarang yang penting ialah business acumen, yaitu kekampuan memahami bisnis yang dimasuki digital start up tersebut,” ungkapnya.(rls)





