3 Alasan Mengunjungi Kota Maros Sulawesi Selatan

Koma.co.id, Maros– Sulawesi Selatan, tanah yang kaya akan keindahan alamnya, menyajikan pengalaman tak terlupakan melalui destinasi wisata yang menakjubkan. Dalam perjalanan terbaru, kami mengeksplorasi tiga tempat menakjubkan: Bantimurung, Rammang-Rammang, dan Maros Highland. Dengan sejarahnya yang menarik dan bentang alam yang beragam. Kota Maros merangkum banyak hal yang menjadikan kota di Sulawesi Selatan ini tempat yang menarik dikunjungi.

Wilayah ini, awalnya merupakan Kerajaan Marusu yang kemudian berevolusi menjadi Kabupaten Maros hingga saat ini. Selain nama Maros, terdapat juga nama lain untuk daerah ini, yaitu Marusu dan/atau Buttasalewangan. Ketiga nama ini sangat melekat dan dianggap sebagai lambang kebanggaan oleh sebagian masyarakat Kabupaten Maros dalam proses pembangunan daerahnya.

Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari buku “Kerajaan-Kerajaan di Maros Dalam Lintasan Sejarah” karya Andi Fahry Makkasau, Kabupaten Maros memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan dua kerajaan besar di Sulawesi Selatan, yaitu Kerajaan Bone dan Kerajaan Gowa. Pada masa tersebut, Maros memiliki nilai strategis yang signifikan. Sejak zaman dahulu hingga saat ini, Kabupaten Maros dihuni oleh dua suku utama, yaitu Suku Bugis dan Suku Makassar.

Kabupaten Maros memang memiliki keindahan geografis yang memukau, menjadi daya tarik utama Sulawesi Selatan. Dari kecantikan kupu-kupu di Bantimurung, keeksotisan kawasan Karst Rammang-rammang, hingga kemegahan Maros Highland, semuanya menyajikan pengalaman liburan alam yang luar biasa. Dengan memadukan kunjungan ke Air Terjun Bantimurung, para wisatawan dapat merasakan pengalaman liburan alam yang tak terlupakan di Maros.

1.Temukan surga tersembunyi di Bantimurung

Perjalanan darat selama sekitar 1 jam dari Kota Makassar menuju Taman Nasional Bantimurung membuka pintu menuju surga tersembunyi. Dengan alam yang menakjubkan dan keindahan aliran air yang bergemuruh, destinasi ini menawarkan pengalaman wisata yang tak terlupakan.

Nama “Bantimurung” memiliki makna yang indah dari bahasa Bugis, menggambarkan keunikan air yang bergemuruh. Usulan nama ini datang dari Karaeng Simbang, Patahoeddin Daeng Paroempa, dari kerajaan dalam distrik adat gemenschaap yang berada di wilayah Kerajaan Marusu’. Sejarahnya menunjukkan transformasi bunyi dari “benti merrung” menjadi “Bantimurung” yang kita kenal saat ini.

Pada masa itu, wilayah Kerajaan Marusu’ diorganisir sebagai regentschaap yang dipimpin oleh seorang penguasa bangsawan dengan gelar regent (setara bupati). Kemudian, Maros bertransformasi menjadi distrik adat gemenschaap yang diperintah oleh seorang kepala distrik yang dipilih oleh bangsawan lokal dengan gelar karaeng, arung, atau gallarang. Kerajaan Simbang merupakan salah satu distrik adat gemenschaap yang berada di wilayah Kerajaan Marusu’, dan kepemimpinannya dipegang oleh seorang bangsawan lokal dengan gelar “karaeng.” Pada sekitar tahun 1923, Patahoeddin Daeng Paroempa diangkat menjadi karaeng Simbang.

Suara gemuruh yang keras dan misterius tersebut menghentikan pekerjaan pembuatan jalan di daerah hutan belantara. Keberanian para pekerja terpukul, dan mereka enggan melanjutkan pekerjaan karena ketakutan terhadap fenomena alam yang tidak dapat dijelaskan dengan mudah. Kejadian ini menambah aura misteri dan kepercayaan lokal terhadap kehadiran makhluk atau kekuatan gaib dalam hutan tersebut.

Karaeng Simbang dan rombongan mereka terpanah dan takjub melihat langsung luapan air yang begitu besar, merambah batu cadas dan mengalir jatuh dari atas gunung. Fenomena ini menjelaskan asal-usul nama “Bantimurung,” yang berasal dari bahasa Bugis yang berarti “air yang bergemuruh.” Kejadian tersebut kemungkinan merupakan hasil dari curah hujan yang tinggi, menciptakan aliran air yang mengesankan dan mencegah pekerjaan pembuatan jalan dilanjutkan.

Penemuan air terjun yang begitu megah mengubah rencana pembuatan jalan, dan sebaliknya, daerah sekitar air terjun dijadikan perkampungan baru dalam wilayah Kerajaan Simbang. Kampung ini dipimpin oleh seorang kepala kampung yang bergelar “Pinati Bantimurung.” Peristiwa ini menjadi awal dari perkembangan daerah sekitar Bantimurung yang kini dikenal sebagai destinasi wisata yang memukau.

Bantimurung memang memiliki daya tarik yang luar biasa sebagai objek wisata alam. Tinggi dan lebar air terjunnya, bersama dengan aliran air yang konsisten sepanjang tahun, menjadikannya destinasi yang menarik untuk dinikmati oleh para pengunjung. Keindahan alam di sekitarnya juga memberikan pengalaman yang unik dan memuaskan bagi para wisatawan yang berkunjung. Semoga kelestarian dan keindahan alam Bantimurung tetap terjaga untuk dinikmati oleh generasi mendatang.

Bagusnya, Bantimurung juga memiliki manajemen yang baik, dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Maros serta Balai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Dengan layanan yang beroperasi 24 jam dan tarif yang terjangkau, Bantimurung memberikan kesempatan bagi berbagai kalangan untuk menikmati keindahan alamnya. Fasilitas yang disediakan, mulai dari hotel, gazebo, mushola, hingga kolam renang untuk anak-anak dan orang dewasa, serta peralatan sewa susur gua, menjadikan kunjungan ke Bantimurung lebih nyaman dan memuaskan bagi para wisatawan.

Kombinasi keindahan alam, air terjun yang menakjubkan, dan keberagaman objek wisata di sekitarnya menjadikan Air Terjun Bantimurung sebagai destinasi yang sangat menarik. Dengan kelestarian alam yang terjaga, wisatawan dapat merasakan kedamaian dan keindahan alam yang autentik. Gua Batu, Gua Mimpi, dan Danau Kassi Kebo menambahkan keberagaman pengalaman wisata yang dapat dinikmati oleh pengunjung. Semoga keunikan dan keindahan Bantimurung dapat terus dinikmati oleh generasi mendatang.

Senang mendengar pengalaman Eki yang tak terlupakan di Air Terjun Bantimurung. Sebagai salah satu pengunjung ia merekomendasikan wisata tersebut untuk dikunjungi karena keindahan alamnya yang menakjubkan. Air terjun ini menawarkan pemandangan yang memukau, area sekitar yang kaya akan keanekaragaman hayati, dan menjadi destinasi yang sempurna bagi pecinta alam dan pencinta petualangan.

“Kombinasi keindahan alam, goa bersejarah, dan keramahan staf semakin memperkaya pengalaman para pengunjung. Semoga keindahan alam Bantimurung terus memberikan kesan positif dan menjadi destinasi favorit bagi lebih banyak orang,” pungkas Eki, pada Minggu (17/12/2023).

Diantara beberapa objek wisata tersebut, yang tidak kalah pentingnya adalah pengunjung dapat menyaksikan langsung atraksi kupu-kupu yang beterbangan. Keanekaragaman kupu-kupu yang terdapat di sekitar Air Terjun Bantimurung inipun sudah diakui oleh dunia. Bahkan seorang naturalis, penjelajah, geografer, antropolog sekaligus ahli biologi dari Britania Raya, Alfred Russel Wallace (1857) dalam bukunya berjudul The Malay Archipelago menjuluki Bantimurung sebagai “The Kingdom of Butterfly”.

Telah disebutkan sebelumnya, wisata penangkaran kupu-kupu di Bantimurung ini juga dijuluki The Kingdom of Butterfly atau Kerajaan Kupu-kupu. Melansir dari situs resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, julukan kerajaan kupu-kupu di Taman Nasional Bantimurung ini bermula dari seorang naturalis berkebangsaan Inggris, Alfred Russel Wallace yang melakukan eksplorasi. Eksplorasi tersebut dilakukan selama 4 hari dari tanggal 19-22 September 1857.

Dari penemuannya, Wallace berhasil mengoleksi 232 jenis kupu-kupu. Jumlah tersebut terdiri dari 139 jenis Papilionoidea, 70 jenis Hedyloidea atau ngengat (moths) dan 23 jenis Hesperioidae (skippers). Kemudian sekitar 207 jenis kupu-kupu temuan Wallace itu diabadikan di museum kupu-kupu yang berada di sekitaran Amansanga, Kabupaten Maros atau Tompokbalang. Sisanya, Wallace mengoleksi kupu-kupu (Lepidoptera) sebanyak 25 jenis, hanya 6 jenis Papilionoidea.

Dari hasil penemuan Wallace ini juga dituangkan dalam sebuah buku berjudul “The Malay Archipelago” tahun 1869. Dalam isi buku tersebut terdapat sebuah ungkapan kekaguman Wallace yang berbunyi “Ketika matahari bersinar terik, sekitar siang hari, bantaran sungai yang lembab di atas air terjun menghadirkan pemandangan indah, kilauan sekumpulan kupu-kupu oranye, kuning, putih, biru, dan hijau yang ketika diganggu beterbangan ratusan kupu-kupu di udara membentuk awan yang berwarna-warni”.

Tarif yang terjangkau untuk masuk ke kawasan penangkaran, konservasi, dan museum kupu-kupu di Taman Nasional Bantimurung membuat pengalaman melihat keajaiban alam kupu-kupu menjadi lebih mudah diakses. Semoga dengan adanya tarif yang bersahabat ini, semakin banyak orang dapat menikmati keindahan dan keunikan kupu-kupu di Taman Nasional Bantimurung.

2. Jelajahi pemandangan kawasan karst yang menakjubkan di Rammang-rammang

jauh dari lokasi Taman nasional Bantimurung, jarak tempuh setengah jam anda akan disuguhkan pemandangan nan menakjubkan kawasan karst yang bisa ditemui di Maros. Wisata karst Rammang-Rammang beralamat di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Kurang lebih 46 kilometer atau 1 jam perjalanan berkendara dari Kota Makassar. Selanjutnya, Anda bisa mencapai spot utama, yakni Kampung Berua dengan naik perahu, biayanya sekitar 200-300 ribu PP.

Rammang-Rammang adalah sebuah kawasan bentang alam berupa gugusan pegunungan karst yang terletak di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Kawasan karst ini terintegrasi dengan Kawasan Karst Maros-Pangkep. Kawasan karst ini diberikan perlindungan khusus, karena kondisi kelestarian alamnya. Kawasan karst ini berada 42,30 km di sebelah utara Kota Makassar.

Sebelumnya pada sekitar tahun 2005, kawasan ini pada beberapa titik dijadikan lokasi tambang marmer dan semen oleh sebuah perusahaan yang telah mendapat izin dari Dinas Pertambangan Kabupaten Maros, Pemerintah Daerah Kabupaten Maros. Namun, kelompok masyarakat lokal, para pecinta alam, pemerhati lingkungan, dan beberapa pihak lainnya turun tangan dan menolak kawasan ini dijadikan lokasi tambang.

Kampung Karst Rammang-Rammang merupakan salah satu ikon pariwisata di Sulawesi Selatan. Terletak di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Rammang-rammang menawarkan panorama indah dari gugusan pegunungan karst (pegunungan kapur) yang gagah dan menawan. Rammang-rammang yang termasuk dalam Kawasan Karst Maros-Pangkep (KKMP) telah diakui oleh UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia (World heritage site) pada tahun 2017. Waktu terbaik untuk berkunjung ke Rammang-rammang adalah saat matahari terbit di pagi hari.

Kampung Berua merupakan ikon landmark utama dari Kawasan Wisata Rammang-rammang. Kampung ini menyuguhkan suasana khas pedesaan yang begitu asri dan teduh. Rumah-rumah masyarakat yang ada di sini masih terbilang sangat tradisional, bahkan ada masih berupa rumah panggung. Desa ini dihuni oleh sekitar 15-20 keluarga yang masih merupakan kerabat satu sama lain. Di sini, pengunjung dapat menikmati aktivitas masyarakat lokal, seperti bertani, beternak ikan, dan menikmati suasana pedesaan, khususnya suasana matahari terbit atau sunrise.

Delvara sebagai salah satu pengunjung mengatakan fasilitas wisata Rammang-Rammang saat ini sudah cukup lengkap dan memadai. Selain fasilitasnya yang memadai, adapula penginapan yang nyaman dan berbagai sarana rekreasi alam yang menarik, seperti perahu bambu untuk menjelajahi keindahan alam karst dan gua-gua eksotis yang dapat memberikan pengalaman berkesan.

 

 

“Terdapat berbagai spot buatan berupa balon udara, Sky B (bric, bike & boat), dan banyak lagi lainnya. Ada juga beberapa spot foto yang menarik dan cafe unik di bukit maupun di dalam goa karst. Fasilitas lain mencakup lahan parkir yang luas, balai pertemuan, cafetaria, jungle tracking, serta outbound. Lalu, tersedia mushola, kios suvenir berupa aneka kerajinan kayu, kamar mandi umum, penyewaan perahu dan lain sebagainya. Untuk tempat menginap, terdapat beberapa opsi penginapan berupa homestay di lokasi wisatanya,” Ujar Delvara, pada Minggu (17/12/2023).

Bagaimana dengan harga tiket masuk Rammang-Rammang Maros? harga tiketnya Rp 5.000. Perahu susur sungai Rp 350.000, dan tarif masuk beberapa spot wisata umumnya Rp 10.000. Ada juga opsi atraksi wisata seperti watching bird, rock climbing, serta pertunjukan seni budaya dengan harga mulai 300 ribuan-1 juta rupiah.

3. Temui aneka wahana menarik dengan nuansa alam di Maros Highland

Tak hanya itu wisata modern bernuansa alam juga hadir di Maros, tak jauh dari Bantimurung, dan rammang-rammang kini hadir Maros Highland. Wisata ini bisa dicapai dengan beberapa alat transportasi. Cara terbaiknya adalah dengan menggunakan kendaraan pribadi seperti sepeda motor atau mobil. Namun bisa juga menggunakan mobil penumpang, minibus, ojek, atau taksi internet. Jika menggunakan kendaraan pribadi dari pusat kota Makassar, anda bisa memulainya dengan jalur Makassar – Maros yang berjarak sekitar 30 km atau 1 jam perjalanan. Setelah sampai di Maros, anda memilih rute melalui Jalan Poros, Jalan Bontorea atau Jalan Pemuda. Umumnya dibutuhkan waktu sekitar 40-50 menit dari pusat Kabupaten Maros menuju Maros Highland jika jalanan cukup lancar.

Maros Highland pertama kali dibuka pada tanggal 25 Februari 2023. Masih terbilang baru. Namun keindahan dan wahana yang tersedia tidak perlu diragukan lagi. Bahkan, objek wisata ini selalu ramai pengunjung sejak dibuka. Maros Highland memadukan keindahan kota Makassar dengan berbagai wisata seru. Salah satu keindahan yang bisa anda nikmati adalah pemandangan matahari terbenam dengan latar belakang kota Makassar. Melihat matahari terbenam dari ketinggian menawarkan pengalaman yang sungguh berbeda dan mengesankan. Jika anda berkesempatan datang ke tempat ini, jangan lewatkan pemandangan matahari terbenam.

Seluncuran di Maros Highland bisa jadi pengalaman yang tidak terlupakan. Bukan hanya indah, seluncuran ini juga merupakan seluncuran terpanjang di Indonesia dengan panjang 210 meter.   Seperti namanya, Maros Highland terletak di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Tepatnya di Dusun Salu, Desa Pattontongan, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Untuk memulai perjalanan dari Makassar dalam kurun waktu 1 jam untuk tiba di lokasi. Anda bisa datang ke tempat ini setiap hari kerja pada pukul 9.00 pagi, dan pada akhir pekan mulai pukul 9:30 pagi sampai jam 6 sore. Anda bisa berangkat di waktu pagi hari bersama dengan sanak saudara.

Ada 3 jenis tiket yang ditetapkan oleh management Maros Highland. Yaitu tiket dewasa, anak-anak, dan tiket balita. Untuk tiket dewasa adalah sebesar Rp39.200, anak-anak sebesar Rp. 28.000, dan balita sebesar Rp. 16.800. Tiket ini merupakan tiket masuk kawasan wisata Maros Highland di Sulawesi Selatan. Namun jika ingin menikmati wahana yang tersedia, harus membayar biaya yang berbeda-beda untuk setiap wahana atau permainan.

Meski wahana Rainbow Slide di Maros Highland ini bukan yang pertama, tapi ini yang terpanjang di Indonesia. Wahana sepanjang 210 meter ini sangat cocok bagi untuk pengunjung yang suka meluncur sambil menguji adrenalin. Selain menghilangkan stres, juga akan bahagia setelahnya. Selain itu, warna pelangi pada perosotan ini mampu membangkitkan semangat dan menghibur. Untuk menikmati wahana ini, hanya perlu membayar tiket sebesar Rp. 35.000 saja.

Bagi yang suka bermain, wisata virtual reality Maros Highland ini patut untuk dicoba. Selain bermain game, juga bisa mencoba beberapa karakter dalam game atau film yang ada di wahana ini. Cukup merogoh kocek Rp. 30.000 saja, sudah bisa mencoba menjelajah dunia virtual yang pastinya menantang.

Tidak perlu jauh-jauh ke Negeri Tirai Bambu untuk menikmati wahana ini. Datang saja ke Maros Highland, sudah bisa menikmati indahnya alam di bawah kaki. Meski menegangkan, tiket masuk Glass Sky Bridge hanya Rp.15.000. Menguji adrenalin di ketinggian dan menikmati indahnya suasana alam pasti akan menyegarkan mata.

Selain wahana dan permainan untuk orang dewasa, Maros Highland juga memiliki taman bermain yang dapat dinikmati oleh anak-anak dan balita. Wahana ini memiliki berbagai macam permainan seperti ayunan, perosotan, ayunan bahkan tali. Orang tua, paman, bibi, dan kakak-kakak juga bisa menikmati indahnya pemandangan alam Maros sambil menunggu keponakan dan anak-anaknya yang bermain. Pengunjung yang ingin menikmati layanan ini hanya perlu membayar Rp 15.000.

Silvia salah satu pengunjung mengatakan berlibur tentunya belum lengkap tanpa mengambil foto-foto seru. Maros Highland menawarkan banyak spot foto yang bisa dipilih. Mulai dari foto dengan pemandangan alam hingga foto dengan tema dan dekorasi yang indah.

“Saya bisa bebas memilih lokasi foto yang sesuai dengan keinginan dan selera. Selain itu, pencahayaan yang baik juga terdapat di setiap tempat. Gambarnya pasti akan menjadi lebih bagus dan jelas.” Ujarnya, pada Minggu (17/12/2023).

Selain 5 wahana tersebut, Maros Highland menyediakan berbagai wahana lainnya. Termasuk Stairway to Heaven atau Tangga Menuju Surga, Rainbow Stone atau Batu Pelangi, Rainbow Gate atau Gerbang Pelangi, ATV, Paint Ball, dan Sky Balloon atau Balon Langit. Saat ini Maros Highland telah dilengkapi dengan berbagai peralatan pendukung. Diantaranya adalah tempat parkir yang luas, toilet, photo booth, tenant kuliner, restoran dan masih banyak lagi. Wisata ini memiliki kurang lebih 12 tenant makanan dan minuman. Jadi pengunjung punya pilihan berbeda untuk makan siang atau sekadar menikmati camilan yang tersedia. Salah satu tempat jajanan yang paling populer adalah Sky Food, tempat mengisi perut ditemani pemandangan alam yang indah.

Perjalanan ini tidak hanya merangkul keindahan alam Sulawesi Selatan tetapi juga menggali kekayaan budaya dan keramahan penduduk setempat. Destinasi ini bukan hanya tentang pemandangan yang indah tetapi juga tentang membangun pengalaman yang mendalam. Sulawesi Selatan terus memukau dengan keajaiban alamnya yang tak terhitung jumlahnya, dan Bantimurung, Rammang-Rammang, serta Maros Highland adalah tiga permata berharga yang memperkaya pesona pulau ini.

Penulis : Irma Ramadhani

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *