Rumata’ Art Space: Rumah Budaya Pelestari Kesenian dan Lokal Makassar

Koma.co.id, Makassar– Pada tahun 2008, Mohammad Rivai Riza atau akrab dikenal Riri Riza, seorang sutradara, produser, dan penulis film Indonesia (Sutradara film Petualangan Sherina) datang di sebuah kegiatan bertempat di taman Ismail Marzuki. Pada kegiatan tersebut ada satu monolog yang dialih wahanakan dari sebuah cerpen yang ditulis oleh Lily Yulianti Farid (seroang penulis, wartawan, peneliti). Seusai pertunjukan berlangsung, Riri Riza kemudian mendatangi beberapa seniman dan penulis yang turut hadir pada kegiatan itu, mereka mengadakan obrolan Panjang dengan bahasan kesenian dan kebudayaan yang ada di kota Makassar. Dan obrolan itupun berlanjut dan memantapkan Riri Riza dan Lily Yulianti Farid untuk bekerja sama membangun sebuah rumah budaya.

Riri Riza berpikir tentang rumah yang sudah lama ditinggalkan oleh keluarganya saat mereka dan keluarganya di awal-awal itu pindah di Jakarta. Jadi rumah budaya atau rumata’ art space yang berdiri sekarang merupakan rumah masa kecil Riri Riza. Untuk membangun dan merenovasi rumaha budaya itu, mereka mencari pendanaan sendiri dan juga mendapat banyak bantuan dari orang -orang berupa sumbangan seperti batu bata dan lain-lain.

Rumah budaya itu berlokasi di Jl. Bontonompo No. 12, Gn. Sari, Kec. Tamalate, Kota Makassar dan diberi nama “rumata’ art space”, dalam Bahasa Makassar, rumata’ berarti rumah kita, rumata’ itu milik saya dan juga milik kamu atau rumah kita Bersama. Dengan tujuan untuk mewadahi segala aktivitas-aktivitas bernilai seni dan budaya dan supaya rumata’ art space menjadi rumah budaya di mana penulis, seniman bisa bertemu, bisa pulang, menceritakan daerahnya bahkan menceritakan identitasnya.

Melansir dari website rumata.or.id, rumah budaya rumata’ art space resmi berdiri pada 18 februari tahun 2011. Rumata’ art space menyediakan fasilitas yang bisa diaplikasikan secara meluas, khususnya bagi para penulis, seniman, dan komunitas di kota Makassar. Sebenarnya rumata’ art space memiliki visi untuk membuka wadah yang keterbukaan aksesnya lebih lebar, bukan hanya di Makassar saja tetapi juga di seluruh Kawasan Indonesia timur.

Rumata’ juga memiliki goals yang gemilang seperti mempromosikan seni atau budaya untuk dan dari Indonesia bagian timur, mendukung berkembangnya pertukaran budaya dan intelektual, serta yang utama menghadirkan ruang seni atau artspace berstandar internasioanl. Beberapa program-program unggulan yang telah menjadi bagian paling penting dalam pengembangan kebudayaan dan kesenian ialah Makassar Internasional Writers Festival.

Pendiri dan Direktur Makassar Internasional Writers Festival (MIWF) yaitu Lily Yulianti Farid dan pertama kali diluncurkan pada bulan juni 2011, yang merupakan acara sastra internasional tahunan pertama dan satu-satunya di Indonesia timur. Selain itu, rumata’ juga meluncurkan program tak kalah menarik pada bulan oktober 2012, yaitu South East Asian Screen Academy yang merupakan sebuah program akademi film untuk para filmmaker baru di Indonesia bagian timu, dan tentunya dibina langsung oleh para praktisi film terkemuka di Asia Tenggara.

Rumata’ art space sangat membuka ruang untuk para seniman dan penulis. Selain itu juga banyak berkolaborasi dengan komunitas, salah satunya yaitu Teman Jalan. Teman Jalan itu merupakan sebuah kegiatan yang di inisiasi oleh Basa Sulsel. Basa Sulsel ini juga merupakan salah satu program dari rumata’ yang bertujuan untuk mengaktifasi Bahasa-bahasa daerah yang ada di Sulawesi Selatan.

Rachmat Hidayat Mustamin, selaku Director of Program and Partnership rumata’ art space mengatakan bahwa rumata’ art space sangat membuka ruang bagi pemuda-pemuda kota Makassar untuk berkarya, dan tentunya sangat bermanfaat bagi pemuda maupun masyarakat kaena rumah budaya ini adalah tempat bertemu untuk para seniman dan penulis.

Di era digital sekarang, yang mana informasi bisa menyebar secara luas dan mudahnya informasi diakses, tentu muncul tantangan besar bagi pemuda dalam berkarya atau melestarikan budaya lokal di kota Makassar ini.

“Ya mungkin karena fokusnya, karena kan sekarang focus orang mudah sekali terdistraksi, jadi kadang-kadang ada yang mau melestarikan budaya lokal, tapi setelah itu, karena mereka terganggu, karena merasa bahwa cukup nih, jadi cepat kita puas. Yang penting sudah selesai, jadi rasa penasaran mereka itu kurang untuk menggali lebih dalam. Jadi buatlah banyak inisiatif maka banyak juga ruang atau platform untuk berdiskusi tentang budaya dan tradisi tersebut,” jelas Rachmat dalam wawancaranya.

Rachmat juga menyampaikan pesan kepada para pemuda untuk selalu berkarya dan menjaga kelestarian budaya lokal yang ada di kota Makassar.

“Setiap karya akan menemukan penontonnya, setiap tulisan akan menemukan pembacanya. Jadi bagus memang kalau karya itu terus dibicarakan,” Jelasnya.

Selama tahun 2023, galeri Rumata’ art space sangat aktif menjalankan project-project, yang diramaikan berbagai kegiatan-kegiatan kolaboratif, mulai dari pertunjukan musik, diskusi literasi, serta pameran yang diselenggarakan oleh berbagai kampus. Rumata’ art space sejauh tahun 2023 telah melaksanakan 95 program kegiatan dan kolaborasi baik melalui secara hybrid, luring maupun daring. Yang mana mulai dari program Bacarita Digital, BASASulsel, dan MIWF.

Sebanyak 11 program utama, 1 program online, 47 kegiatan galeri, 30 kegiatan di halaman belakang rumata’, 3 undangan yang dihadiri, 47 mitra kolaborasi, 74 film yang ditayangkan, 9 buku yang dibahas, 255 pembicara yang dihadirkan, serta 8100 lebih pengunjung yang turut menyaksikan kegiatan-kegiatan di rumata’.

Salah satu mitra yang aktif berkolaborasi dengan rumata’ yaitu komunitas Teman Jalan. Yang mana Rumata’ berkolaborasi dengan Teman Jalan melalui kegiatan Teman Jalan edisi Walk The Walk bersama WHO dan edisi One Day In Makassar bersama BASASulsel. Kegiatan teman jalan bukan hanya sekedar jalan jalan biasa, melainkan ada banyak manfaat yang bisa didapatkan.

Divha yang merupakan salah satu aktivis komunitas teman jalan mengatakan bahwa, melalui kegiatan teman jalan ini, ia bisa banyak belajar hal dan bisa langsung merasakan dampak positifnya. Teman jalan bukan hanya sekedar jalan-jalan biasa melainkan juga kegiatan sehat dan memberikan pengetahuan-pengetahuan baru karena setelah jalan-jalan masih ada banyak kegiatan-kegiatan tak kalah menarik yang diadakan seperti pameran, demo masak, dan diskusi tentang mental health yang ditemani langsung oleh WHO di rumah budaya rumata’ art space. Selain itu manfaat yang bisa dirasakan melalui kegiatan kolaborasi rumata’ art space dengan teman jalan ini, kita bisa mengetahui sejarah atau cerita di balik jalan-jalan yang ditelusuri.

“Kalo manfaat sih banyak sekali karena memang dasarnya saya itu hobby sekali jalan kaki sebelum ada teman jalan dan memang suka jalan sendiri terus selama tinggal disini belum sempat eksplore jalan-jalan gang sempit disini terus waktu ikut teman jalan apalagi waktu kollab sama rumata’ jadi banyak tau historis dari tempat tempat tertentu yang kadang orang cuma lewati doang tapi ternyata dulunya itu punya sejarah yang panjang banget dan kebetulan suka banget ka juga sama cerita cerita sejarah kayak begitu. Jadi balance banget rasanya jalan sambil cerita soal back story jalanan atau bangunan yang dilewati jadi jatuhnya tidak sekadar lewat doang, tapi ada historis dibaliknya. Dan kalo soal dampaknya, misal sekarang kalau gak sengaja ka lewat di area somba opu kadang reflek ka noleh ke tempat-tempat yang ku tau sejarahnya itu tempat dan bikin ka bahkan lebih tau cerita sejarahnya ketimbang orang makassar aslinya,” tutur Divha.

 

Penulis: Ferdi Syam

 

 

 

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *