Koma.co.id, Bone– Sebuah perjalanan menggali lebih dalam ke dalam warisan budaya Bugis Bone membuka pintu wawasan yang mendalam mengenai “Nasu Likku.” Lebih dari sekadar hidangan khas, Nasu Likku tidak hanya memuaskan selera, tetapi juga membawa kita pada pengalaman mendalam terkait filosofi, nilai-nilai etika, dan peran krusialnya dalam merawat identitas suku Bugis.
Filosofi dan Nilai Budaya Nasu Likku
Nasu Likku tidak hanya soal rasa, melainkan juga merefleksikan sistem kepemimpinan tradisional masyarakat Bugis Bone. Filosofi yang melekat menyoroti prinsip kerjasama, solidaritas, dan penghormatan terhadap tradisi. Menurut Asmiati, seorang alumni UIN Alauddin Makassar, Nasu Likku menjadi simbol keselarasan dan kebersamaan dalam momen istimewa masyarakat Bugis.
Bahan dan Cara Pembuatan Nasu Likku (makassar.tribunnews.com)
Bahan utama
1 ekor ayam kampung ukuran sedang, potong jadi 10-12 iris
200 gram lengkuas diparut/dicincang
½ buah kelapa parut yang sudah disangrai kering dan dihaluskan hingga berminyak
800-1000 ml santan kekentalan sedang
2 batang sereh geprek
Minyak secukupnya untuk menumisp
Gula pasir, garam, kaldu bubuk secukupnya
Bahan bumbu halus
2 cm jahe
4 butir kemiri
1 sendok teh ketumbar bubuk
Kunyit secukupnya
10 siung bawang merah
8 siung bawang putih
2 batang sereh batang putihnya saja
Cara Membuat
1. Tumis bumbu halus bersama lengkuas parut, sereh geprek dengan minyak secukupnya hingga aromanya wangi.
2. Masukkan santan, kelapa goreng, lalu didihkan.
3. Masukkan potongan ayam kampung, aduk rata.
4. Masak hingga ayam empuk dan matang, beri gula garam dan kaldu bubuk bila santan mulai menyusut. Kemudian cek rasanya.
5. Kekentalan hasil akhir sesuai selera.
6. Angkat dan sajikan.
Jejak Sejarah dan Identitas Lokal
Melalui jejak sejarahnya, Nasu Likku tidak hanya menjadi hidangan, melainkan juga simbol identitas suku Bugis Bone. Keterikatan erat dengan nilai-nilai tradisional menghubungkan masa lalu dengan kehidupan sekarang, menggambarkan warisan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Peran Nasu Likku dalam Momen Istimewa
Wawancara dengan Asmiati menegaskan bahwa Nasu Likku bukan sekadar hidangan penyaji rasa. Lebih dari itu, ia membangun keselarasan, kebersamaan, dan kegembiraan dalam masyarakat Bugis Bone. Kehadirannya memperkukuh ikatan sosial antaranggota masyarakat, menciptakan momen-momen berkesan.
Analisis Filosofis dan Relevansi Kontemporer
Filosofi Nasu Likku tetap relevan dalam konteks zaman modern. Konsep kerjasama, hierarki, kode etik, dan penghormatan terhadap tradisi masih menjadi fondasi dalam struktur sosial masyarakat Bugis Bone. Terlepas dari perubahan zaman, nilai-nilai yang melekat pada Nasu Likku memainkan peran sentral dalam mempertahankan identitas dan kebudayaan suku Bugis.
Nasu Likku Sebagai Warisan Hidup
Nasu Likku bukan sekadar hidangan lezat; itu adalah warisan hidup suku Bugis Bone. Keunikan dalam proses pembuatannya, pilihan bahan-bahan khas, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya memberikan gambaran tentang pentingnya Nasu Likku dalam merawat dan memperkuat identitas suku Bugis Bone.
Oleh karena itu, Nasu Likku dianggap sebagai bagian yang tak terpisahkan dari identitas dan sejarah suku Bugis Bone karena nilai-nilai budayanya yang kaya, peranannya dalam mempererat komunitas, dan hubungannya yang erat dengan tradisi serta sistem pemerintahan tradisional mereka.
Penulis: Suriani





