Koma.co.id, Pinrang– Dalam keberagaman kuliner Indonesia, katirisala atau putri sallang, sebuah kue tradisional khas Bugis-Makassar, memukau lidah dan meramaikan setiap acara perayaan. Dibuat dari beras ketan, santan, dan sentuhan bahan-bahan alami, katirisala tidak hanya lezat tapi juga sarat dengan nilai tradisional. Mari kita telusuri kisah dibalik keunikan dan kelezatan katirisala yang menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan kuliner Nusantara.
Katirisala, juga dikenal sebagai putri sallang, merupakan sebuah kue tradisional khas BugisMakassar. Kue ini terbuat dari beras ketan, baik putih maupun hitam, yang dicampur dengan santan. Biasanya, katirisala disajikan dalam berbagai acara seperti keluarga, pesta pernikahan, pengajian, dan dapat dengan mudah ditemui di pasar takjil selama bulan Ramadhan.
Proses pembuatan kue ini melibatkan dua lapisan dengan bahan yang berbeda. Lapisan dasarnya terdiri dari beras ketan, santan, dan daun pandan.
Sementara itu, lapisan atasnya terbuat dari telur, santan, kelapa, dan gula merah. Katirisala kemudian dikukus untuk menciptakan tekstur yang lembut dan kenyal.
Keunikan katirisala tidak hanya terletak pada kombinasi bahan-bahannya, tetapi juga pada proses tradisionalnya yang membuatnya cocok sebagai hidangan khas dalam berbagai perayaan dan acara sosial.
Menurut Budayawan Universitas Negeri Hasanuddin (Unhas), Dr. Firman Saleh, kue tradisional Katirisala berasal dari wilayah Ajatappareng, yang mencakup Sidrap, Pare-pare, dan Pinrang.
Meskipun belum ada catatan pasti tentang asal-usulnya, perkiraan menyebutkan bahwa masyarakat Bugis mulai mengenal kue ini pada abad ke-17. Firman Saleh menjelaskan bahwa informasi ini dapat ditemukan dalam buku-buku dan tulisan lama.
Menariknya, meskipun belum ada data yang menunjukkan waktu pasti kemunculan kue ini, dalam sejarahnya, Katirisala sering disajikan di atas bosara dalam berbagai kegiatan tradisional.
Ajatappareng, sebagai wilayah sejarah, mencakup beberapa daerah di Sulawesi Selatan, memberikan konteks lebih lanjut tentang akar budaya kue Katirisala.
Berikut adalah bahan-bahan dan cara pembuatan kue Katrisalah:
Bahan-bahan:
1. Lapisan Dasar:
➢ 2 cup beras ketan (putih atau hitam)
➢ 1 cup santan
➢ Daun pandan (untuk aroma)
2. Lapisan Atas:
➢ 4 butir telur
➢ 1 cup santan
➢ 1 cup kelapa parut
➢ Gula merah secukupnya (sesuai selera)
Cara Pembuatan:
1. Persiapkan Bahan:a. Rendam beras ketan semalam, lalu kukus hingga matang. b. Campur beras ketan matang dengan santan untuk lapisan dasar. c. Tambahkan daun pandan yang sudah dipotong-potong kecil untuk aroma.
2. Buat Lapisan Dasar:a. Letakkan campuran beras ketan dan santan di loyang yang telah dialasi daun pisang atau plastik makanan.b. Kukus campuran tersebut hingga matang, sekitar 30-40 menit.
3. Persiapkan Lapisan Atas: Campur telur, santan, kelapa parut, dan gula merah (yang sudah dihaluskan) untuk membuat lapisan atas.
4. Tambahkan Lapisan Atas:a. Setelah lapisan dasar matang, tuangkan campuran lapisan atas di atasnya.b. Kukus kembali hingga lapisan atas matang sempurna, sekitar 20-30 menit.
5. Dinginkan dan Potong:a. Biarkan kue dingin sebelum dipotong-potong sesuai selera.b. Sajikan dan nikmati Katrisalah yang lezat dan berlapis tersebut.
Haudah sebagai penjual mengatakan “Kue Katrisalah sering muncul dalam acara keluarga dan pernikahan di sini. Ini menciptakan momen kebersamaan dan solidaritas. Orang datang untuk merayakan bersama dan kue ini menjadi elemen penting dalam pertemuan-pertemuan tersebut.” saat ditemui di rumahnya 8/12/23.
Kue Katrisalah bukan hanya sekadar hidangan lezat, melainkan juga membawa makna filosofis yang dalam. Beberapa filosofi yang terkandung di dalamnya mencakup: Keselarasan Lapisan: Dengan dua lapisan yang berbeda, kue ini mencerminkan keberagaman dan keselarasan dalam satu kesatuan. Simbolisasi harmoni dalam perbedaan menggambarkan keindahan persatuan.
Ketahanan dan Kekuatan: Proses pembuatan yang melibatkan kukus dapat diartikan sebagai gambaran ketahanan dan kekuatan. Keterlibatan telaten dan waktu yang diperlukan mencerminkan nilai-nilai kesabaran dan ketahanan.
Tradisi dan Warisan: Kue Katrisalah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi BugisMakassar, menyimpan nilai-nilai warisan budaya yang dijaga dan dilestarikan dari generasi ke generasi.
Rasa yang Kompleks: Kombinasi rasa antara lapisan atas dan dasar menciptakan pengalaman rasa yang kompleks. Ini dapat diartikan sebagai metafora kehidupan yang penuh dengan lapisan pengalaman dan peristiwa, bersama-sama membentuk keunikan.
Keterhubungan dengan Alam: Penggunaan bahan-bahan alami seperti beras ketan, santan, kelapa, dan daun pandan mencerminkan keterhubungan dengan alam. Ini menggambarkan pentingnya menjaga ekosistem dan memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Dengan nilai-nilai ini, kue Katrisalah bukan hanya sebuah hidangan, tetapi juga simbol mendalam yang merangkum kebijaksanaan budaya dan keterhubungan dengan alam. Melalui kue Katrisalah, dapat diambil banyak nilai dan makna filosofis yang mengajak untuk merenung tentang kehidupan, keragaman, dan keberlanjutan budaya.
Kue Katrisalah, dalam konteks budaya Bugis-Makassar, mencerminkan beberapa nilai budaya yang penting:
Kepentingan Tradisi: Pembuatan kue Katrisalah adalah manifestasi dari kepentingan menjaga dan merayakan tradisi. Ini menunjukkan rasa hormat terhadap nilai-nilai lama yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kebersamaan dan Solidaritas: Kue ini sering disajikan dalam acara keluarga dan pesta pernikahan, mencerminkan nilai-nilai kebersamaan dan solidaritas dalam masyarakat BugisMakassar. Makan bersama dianggap sebagai momen berharga.
Simbol Keseimbangan: Dengan dua lapisan yang berbeda, kue Katrisalah dapat diartikan sebagai simbol keseimbangan dalam kehidupan. Keseimbangan antara rasa, tekstur, dan unsurunsur lain menciptakan pengalaman kuliner yang unik.
Pemertahanan Budaya Lokal: Penggunaan bahan-bahan lokal seperti beras ketan, kelapa, dan santan menggambarkan keinginan untuk mempertahankan dan mempromosikan budaya lokal, serta mendukung ekonomi lokal.
Pentingnya Acara Sosial: Kue Katrisalah sering muncul pada acara sosial, termasuk bulan Ramadan, menyoroti pentingnya berbagi makanan dan merayakan momen bersama-sama.
Keterhubungan dengan Alam: Penggunaan bahan-bahan alami dalam kue ini mencerminkan nilai-nilai keterhubungan dengan alam dan penghargaan terhadap sumber daya alam.
Andini sebagai salah satu pembeli mengatakan “Saya suka tidak hanya rasanya yang enak tetapi juga filosofinya. Setiap kali saya membeli kue Katrisalah, rasanya seperti saya merayakan warisan budaya. Ini lebih dari sekadar makanan, ini bagian dari identitas dan sejarah kami.”Melalui kue Katirisala, budaya Bugis-Makassar memperlihatkan cara masyarakatnya merayakan tradisi, kebersamaan, dan nilai-nilai lokal yang mendalam.
Eksplorasi mendalam tentang kue Katirisala tidak hanya memuaskan selera, tetapi juga membuka mata kita terhadap warisan budaya yang hidup dan terus berkembang. Dalam setiap potongan, kita menemukan secercah cerita, rasa nostalgia, dan keajaiban kuliner yang menjadikan kue Katirisala lebih dari sekedar hidangan – ia adalah bagian dari warisan yang harus dijaga dan diapresiasi.
Penulis: Rahmayani





