Koma.co.id, Gowa–Trainer AI Warrior Camp, Nurfadillah, menegaskan bahwa mahasiswa harus memahami cara menggunakan kecerdasan buatan secara strategis dan bertanggung jawab. “Kita tidak hanya dituntut tahu cara memakai AI, tapi juga harus tahu kapan, untuk apa, dan sejauh mana penggunaannya etis,” ujarnya di hadapan puluhan mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Kamis, 30 Oktober 2025.
Dalam sesi bertajuk AI untuk Pembelajaran dan Produktivitas Akademik, Nurfadillah menyebut mahasiswa kini hidup di masa yang ia sebut sebagai era prompt, zaman di mana kemampuan menulis instruksi cerdas menjadi keterampilan baru dalam komunikasi digital. “AI bukan hanya tempat bertanya, tapi ruang kolaborasi untuk berpikir kritis. Mahasiswa bisa menjadikannya mentor digital yang memancing refleksi,” katanya.
Ia kemudian mendemonstrasikan berbagai teknik interaksi dengan AI, seperti role prompting untuk memberi konteks peran, reverse prompting agar AI lebih memahami kebutuhan pengguna, dan chain of thought untuk menata logika berpikir langkah demi langkah. Dalam sesi praktik, peserta juga diperkenalkan pada Google Pinpoint dan NotebookLM, dua aplikasi berbasis AI yang dapat membantu menganalisis dokumen akademik dan merangkum materi kuliah.
“Gunakan AI untuk memperkuat argumen, bukan menggantikan proses berpikir,” tegasnya. Nurfadillah menambahkan, generasi muda harus melihat AI sebagai alat produktif, bukan pelarian instan. “Mahasiswa yang bijak adalah mereka yang menjadikan AI sebagai sahabat belajar, bukan tongkat penopang malas berpikir,” ujarnya menutup sesi.
Di akhir kegiatan, Mafindo memberikan 10 doorprize kepada peserta aktif. Mafindo juga memberikan fellowship kepada 5 peserta yang akan bersama sama mengikuti proses penjaringan dengan 4 wilayah lainnya.





