Koma.co.id, Makassar– Kota Makassar menjadi salah satu daerah yang mengalami kepadatan penggunaan kendaraan atau macet setiap hari, hal tersebut dikarenakan masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan dengan kendaraan umum.
Kabid Angkutan Dishub Makassar, Jusman mengatakan bahwa masyakarat khususnya di Kota Makassar memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Dinas Perhubungan Kota Makassar, 75% masyarakat memilih angkutan bermotor dari total angkutan pribadi yang mencapai di atas 90%.
“Saya menyadari bahwa macet itu juga bagian dari pilihan-pilihan yang diambil oleh masyarakat untuk menggunakan angkutan pribadi. Total angkutan di Kota Makassar secara keseluruhan dari data Polda tahun 2025 yang terbaru itu 2,9 juta 75 persen,” ujarnya dalam kegiatan Media Fellowship Newsroom Challenge yang dilaksanakan UK Partnership for Accelerating Climate Transition Indonesia (UK PACT) di Makassar pada Rabu, 19 Februari 2025.
Meski demikian, pihaknya telah melakukan upaya dan kolaborasi bersama sejumlah pihak untuk menanggulangi masalah ini.
Beberapa yang menyebabkan kemacetan disebutkan oleh Jusman terdiri dari 11 hal, di antaranya masyarakat lebih memilih angkutan pribadi, volume kendaraan meningkat, perilaku pengguna jalan, bootleneck dan kapasitas jalan, parkir onstreet-hambatan samping, pembangunan infrastruktur, rekayasa lalu lintas, pesta-event, demonstrasi mahasiswa, insiden lalulintas, dan genangan-banjir.
Lucky Caroles selaku Praktisi dan Akademisi Unhas mengatakan terjadi perbedaan jumlah angkutan umum dulu dan saat ini. Jika dulu, sangat mudah menemukan kendaraan umum. Namun sekarang sangat sulit mendapatkan moda transportasi umum ini sehingga harus menunggu waktu lama.
“Itu akan menimbulkan keterlambatan. Bagaimana kalau ada yang tinggal jauh dari kota dan sebagainya,” jelasnya.
Program Kota Masa Depan dari UK Partnership for Accelerating Climate Transition Indonesia (UK PACT), yang mendapat dukungan kemitraan strategis Kementerian Perhubungan RI dengan Pemerintah Kerajaan Inggris untuk memberikan dukungan terhadap peningkatan target ambisi iklim di Indonesia, diimplementasikan oleh konsorsium yang dipimpin oleh WRI Indonesia dengan mitra konsorsium, ARUP, dan Vital Strategies di Kota Surabaya dan Kota Makassar.
Program bertujuan untuk mengatasi kebutuhan pembangunan berkelanjutan dengan mengembangkan transportasi rendah karbon yang lebih aman, inklusif, dan tangguh lewat dukungan teknis kepada pemerintah daerah, meningkatkan kesadaran masyarakat, dan menampilkan desain lanskap berketahanan iklim dengan solusi yang berfokus pada mobilitas di wilayah pesisir.(Mrw)




