Koma.co.id, Makassar– Yayasan Makassar Skalia melakukan klarifikasi terkait Pinisi Pusaka Indonesia yang selama ini dikenal dengan nama Pinisi Bagi Negeri terlahir dari program Pinisi Untuk Makassar telah diprivatisasi oleh Rudy Mintarto, sehingga perahu Pinisi yang seyogyanya didedikasikan untuk Edukasi, Ekspedisi, dan Sosial telah beralih fungsi.
Yayasan Makassar Skalia, terdiri dari entitas komunitas penggiat aktivitas sosial budaya di kota Makassar, beberapa di antaranya adalah komunitas cinta laut kota Makassar, komunitas pecinta batu akik, komunitas motor antik, penggiat fotografi Kota Makassar, komunitas desain gratis dan multimedia kota Makassar, serta komunitas even organizer.
Keresahan akan hilangnya identitas budaya nusantara berikut identitas budaya orangorang yang dikenal sebagai pengarung lautan di masa lampau. Berbekal keresahan itu dibentuklah Makassar Skalia sebagai “Pinisi” untuk menjawab keresahan keresahan tersebut.
Pada tanggal 29 Mei 2014, Dari konsep Aksekre Akbulo Sibatang (bersatu bergotong royong), diinisiasi oleh Dany Pomanto, dimulailah penggalangan dana swadaya bersama (crowd Founding) untuk mewujudkan sebuah gerakan sosial yang di beri nama “Pinisi Untuk Makassar”.
Gayung bersambut, adalah Anton Setiadji yang menjabat sebagai Kepala Kepolisian Sulawesi Selatan dan Barat pada tahun 2015, memikirkan suatu pendekatan budaya dalam strategi pembinaan masyarakat, selain itu beliau sangat konsen terhadap kohesi sosial yang dibangun atas dasar budaya lokal.
Semangat akan sebuah keyakinan bahwa budaya merupakan salah satu yang harus ditempatkan dalam proses proscs membangun jiwa bangsa Indonesia kemudian bergulir dari pertemuan ke pertemuan. Sinerji Yayasan Makassar Skaiia dan seluruh Komunitas komunitas, budayawan, seniman serta pemerhati budaya bahari dengan pihak kepolisian Sulselbar serta pemerintah kota kemudian dimulai.
Dalam sinerji inilah, muncul sosok yang bernama Rudy Mintarto, orang yang kenal dekat dengan Bapak Anton Setiadji (Kapolda Sulsel pada saat itu) yang bertugas sebagai dinamisator.
Dalam perjalanannya, Rudy Mintarto membuat PT KITAJI. untuk melakukan berbagai aktivitas yang melekat pada program Pinisi untuk Makassar dan juga membantu mencarikan dana dari para pihak karena pertimbangan metode crowd founding yang herjalan tidak memungkinkan untuk mewujudkan Pinisi Untuk Makassar dalam waktu dekat.
Pada kenyataannya, PT KITAJI mampu meraup dana milyaran rupiah yang digelontorkan untuk mewujudkan Pinisi Untuk Makassar, namu sangat disayangkan, hal tersebut memicu PT KITAJI menjadi merasa memiliki perahu Pinisi untuk Makassar yang masih dalam proses pembuatan dan tidak lagi memberikan pengeloaan program Pinisi Untuk Makassar kepada YMS yang tak lain adalah pencetusnya, dan merencanakan mengkomersialisasikan Pinisi dengan berbagai pertimbangannya.
Untuk itu Yayasan Makassar Skalia (YMS) menyatakan mundur dari pembuatan Pinisi karena hal tersebut, Ialu mengambil langkah strategis guna mewujudkan cita-cita awal, hampir sctahun berlalu sejak kejadian YMS-PT KITAJI dalam pembuatan perahu, YMS akhirnya mencari Pinisi untuk dijadikan wahana edukasi diatas Pinisi, dengan menghubungi H. Ariwan (Panrita Lopi) di Bira yang malah memberi kabar bahwasanya Pinisi Pusaka Indonesia masih teronggok, terbengkalai karena tidak dapat dilunasi.
Dijembatani oleh H. Ariawan, Rudy Mintarto meluluskan keinginan YMS memakai Pinisi tersebut sesuai dengan cita-cita awalnya, yang mana kemudian YMS membayar sisa utang pembuatan Kapal Pinisi kepada H. Ariwan selaku pembuatnya dan selanjutnya melakukan Finishing interior pada perahu disesuaikan dengan kepentingan kegiatan edukasi sampai tahap dapat dioperasionalkan dari tahun 2016-2019.
“Perlu kami tegaskan, bahwa YMS melakukan press release ini bukan untuk menggugat atau ada keinginan memiliki kapal Pinisi tersebut, tapi sebagai wujud tanggung jawab sosial kami, karena kami tahu persis dan sangat yakin, bahwa perahu tersebut seyogyanya menjadi milik Masyarakat Makassar, karena dimulai dari crowd founding yang mana tidak semestinya ada pihak yang mengklaim memilikinya secara personal ataupun kelembagaan,” kata Andi Rusmin selaku Sekertaris YMS.
YMS selama ini menempatkan diri scbagai pengclola, untuk mengawal cita-cita yang dilekatkan pada pinisi yang lahir di Ujung Pandang, Makassar ini.
“Jadi, kami menyatakan mundur dan tidak akan terlibat lagi berdasarkan latar belakang tersebut. Masalah komersialisasi Pinisi Untuk Makassar ada saat ini kita tau sekarang berbayar, sudah bukan tanggungjawab kami selaku YMS,” tambah Dewan Pembina YMS, Muhammad Akbar.
Hingga saat ini dan untuk beberapa bulan ke depan, Yayasan Makassar Skalia berencana kembali menjalankan misi mulia ini untuk rakyat dengan menggunakan kapal Pinisi baru tanpa sangkut paut pihak PT KITAJI.(Mrw)





