Koma.co.id, Makassar – Pengembangan komoditi berbahan dasar rumput laut hari ini terus berlanjut seiring dengan adanya inovasi-inovasi yang dilakukan oleh para pelaku usaha di bidangnya, mulai dari permen hingga dodol.
Tentu, inovasi-inovasi dimaksud memberikan nilai tambah bagi produk itu sendiri sekaligus memperluas peluang ekspornya.
Deputi Bidang Penerapan Standard dan Penilaian Kesesuaian Badan Standardisasi Nasional (BSN), Zakiyah mengatakan rumput laut yang menjadi komoditas terbesar Sulawesi Selatan memberikan peningkatan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Tercatat pada data 2014-2016 bahwa produk rumput laut Sulawesi mengalami peningkatan sebesar 8,7% yang diperoleh dari Kabupaten Takalar, Kabupaten Luwu, dan Kabupaten Wajo,” paparnya saat membuka webinar berjudul Penerapan SNI Perkuat Daya Saing Rumput Laut sebagai Produk Khas Daerah Pesisir, pada Kamis, 12 November.
Menurutnya, BSN memiliki kegiatan untuk mendukung para pelaku usaha dalam rangka memperkuat daya saing produk, dan memperkuat posisi Indonesia di pasar internasional melalui kerja sama bilateral dan regional.
“Juga fasilitasi penerapan SNI, guna membantu Pelaku Usaha dalam kgaiatan Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian (SPK) agar memenuhi persyaratan penilaian kesesuaian,” tambah Zakiyah.
Selain itu, acara yang kemudian dilanjutkan dengan keynote speech disampaikan oleh Prof. Dr. Bambang Prasetya, M.Sc, selaku Peneliti Ahli Utama di BSN.
Kata Bambang, tantangan terkait rumput laut adalah peningkatan pengelolaan dan pemeliharaan lingkungan budidaya rumput laut untuk menjaga produktivitas secara berkelanjutan.
Juga pengembangan varietas rumput laut yang unggul dan sesuai ekosistem lokal dan teknologi pengolahan produk yang dapat diserap pasar domestik dan global.
Serta peningkatan kesadaran tentang pengelolaan dan industri rumput laut yang baik, dan pengembangan protokol sistem manajemen keamanan pangan memenuhi standar internasional.
“Sebagaimana peranan SPK, bagaimana menjamin mutu, efisiensi produksi, sehat dalam persaingan usaha, meningkatkan perlindungan kepada konsumen, dan yang terpenting menurutnya adalah terciptanya kepastian, kelancaran, dan efisiensi transaksi perdagangan barang dan/atau jasa di dalam dan luar negeri,” tegasnya.
Dilanjutkan, Mc Donny W Nagasan selaku Ketua Asosiasi Industri Rumput Laut Indonesia (ASTRULI) menjelaskan ASTRULI adalah kumpulan industri pengolah rumput laut yang memproduksi produk turunan rumput laut.
Berupa Alkali Treated Cottoni Chips (ATCC); semi-refined carrageenan ; refined carrageenan (RC); tepung agar-agar ; dan saat ini ASTRULI mengembangkan produk turunan baru yaitu tepung rumput laut. ASTRULI berfokus pada produk hilir.
Menurutnya, peran dan tanggung jawab ASTRULI salah satunya adalah mendorong perkembangan asosiasi industri rumput laut yang berkelanjutan dan kompetitif di Indonesia.




