Lensa Jurnalistik Islami, OH NEGERIKU

  • Whatsapp

By Suf Kasman,

AKU tidak tau, apa yang salah dengan negeriku. Kok masih sudi menampung orang yang bermulut besar berlidah panjang, menebar bisa beracun.

Read More

Tuturannya rancak membahana di rimba Negeri, bagai lolongan misteri paling dramatis bikin merinding bagi yang mendengarnya.

Lidah merahnya mestinya dipakai untuk berzikir mengingat Sang pencipta, justru dipakai ‘menggerung’ menuduh sebangsanya sendiri.

Mereka bergerak atas nama frame baru ‘komunitas akademisi’ kompak menciptakan ‘fitnah besar’ berlatar kebencian, pengusung SARA’ DASI.

AKU tidak tau, apa yang salah dengan negeriku. Kok masih mempersilahkan para pembual mendiami alam nusantara, gemar meraung mencari kesalahan orang lain.

Sarapan paginya fitnah; tiada hari tanpa mengumbar kedengkian, TARO ADA TARO GAU’.

Spesialis pengubah warna, seperti bunglon (memutar balikan fakta).
Dalam mulutnya mengeluarkan bau tak sedap ‘menuduh’..dan menuduh.

Padahal menuduh orang lain tanpa bukti, sama saja cara liciknya sang penuduh memuji dirinya sendiri. Itupun mustahil membuatnya terlihat lebih hebat oleh penghuni kolong langit.

AKU tidak tau, apa yang salah dengan negeriku. Kenapa masih sudi memfasilitasi pengacau-pengacau tengik ‘loos-loos’ menebar ranjau paku kebencian di jalan Indonesia.

Tidak sedikit kendaraan melaju kencang di jalan raya, terpaksa berhenti secara tiba-tiba karena ban ‘oposisi’ bocor, Eh dibocorkan!

Cecunguk jalanan sengaja melakukan pengempesan roda, hanya karena mau merampok hak asasi para oposan galak.

Begitulah nasib yang dialami si pengkritik garang, Din Syamsuddin. Kritik-kritik pedasnya memicu pelaporan GAR ITB. Alumni ITB memainkan orchestra simponi hasutan.

Seandainya  Bung Karno yang merupakan alumni ITB masih hidup, pasti menempeleng satu persatu alumnus ITB yang meradikalkan Din Syamsudin itu, MAPPAKASIRI’-SIRI’.

Duhai negeriku!

Sudilah kiranya engkau menghadirkan anugerah ‘Dewa Penolong’ pada bangsa yang mayoritas beragama ini, yang dapat membawa kesejukan, memadamkan bara api dendam dan ambisi tanpa batas.

Walaupun penghuninya sering berguru pada outline Muhammad SAW tentang ketulusan jiwa & perangai akhlak, atau menyimak wejangan kelembutan epilog Isa Al-Masih.

Berdiskusi tentang bagaimana menjadi orang bijak pada Sidharta Budha Gautama, atau sesekali asyik-masyuk merasakan mahabbah dengan Rumi.

Menghayati kepedihan dan menerbangkan angan-angan di bawah bimbingan Kahlil Gibran, dan banyak tokoh lain yang tatkala jauharnya, bisa dijadikan lilin penerang gelapnya malam alam raya.

Tapi mengapa keakraban sesama bangsa kami―tidak pernah berbuah pada tingkah laku―berbangsa dan bernegara?

Mengapa justeru perilaku mereka sangat dekat dengan kebrutalan Machiavelli, kezaliman seratus persen Mussolini, Hittler si raja pembunuh bajingan, Mak lampir si rupa menakutkan, PEPPO’-PARAKANG MANGNGISO’ PELLO’ dan tokoh-tokoh bengis lain?

Duhai bumiku!

Apa yang sebenarnya terjadi?
Siapakah yang menurutmu dapat menolong?
Kini, Aku memburu penjelasan dengan logika akal sehat!

Rasa kasih itu beberapa tahun telah menghilang.
Nurani terseok-seok, kekecewaan semakin menjalar nun jauh meluas.

Kepercayaan rakyat mulai punah.
Propaganda keonaran tiada pernah berhenti digaungkan…perselisihan pun semakin dibunyikan.
Persatuan diubah sirna, kedamaian disulap sengketa.

Oh Bumi Pertiwiku!

Selama dirimu masih berputar bagai gasing. Penghunimu terus memproduksi aneka warna.
Anehnya, rona itu kerap melahirkan kegalauan berujung… KEBENCIAN ABADI!
Malino, 21-2-2021

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *