Menelanjangi Sakralitas: Debat Terbuka Polemik Kebudayaan Vol. II “Masihkah Kebudayaan Memerlukan Sakralitas?”

Koma.co.id– Kelas Luar Ruang, yang merupakan komunitas diskusi bebas baru saja menggelar debat terbuka mengenai artikel Muhammad Ahnaf Nadewa Biyangsa Ahyar yang terbit Sabtu 5 November di harian Fajar: Masihkah Kebudayaan Memerlukan Sakralitas?.

Dinahkodai oleh Rizaldi Rusdi, debat terbuka yang diadakan di Kedai Sabana Tak Bertepi, Yogyakarta ini berlangsung memanas dan sangat intim melucuti isu-isu kebudayaan yang hingga kini masih menjadi topik sensitif untuk dibahas.

Keresahan topik debat kali ini berangkat dari pernyataan Abdi Mahesa, seorang budayawan muda dari Makassar yang menyatakan bahwa para perantau Bugis Makassar tidak sepatutnya membawa budaya dan nilai-nilai dari luar Sulawesi Selatan, masuk ke dalam Sulawesi Selatan.

“Logika yang diucapkan oleh Saudara Abdi Mahesa, membuat saya resah. Karena pernyataan tersebut sangat tidak logis. Secara fakta antropologis, kita termasuk ke dalam ras Melayu Muda yang gemar bertemu dan berakulturasi terhadap nilai dan kebudayaan lain. Kalau semisal Abdi Mahesa mau mengatakan itu terhadap perantau, dia harusnya betul-betul mengamati kondisi di Makassar. Seperti halnya beberapa teman saya yang tergabung dalam grup skateboard. Mereka tidak perlu merantau untuk membawa masuk budaya luar” tutur Ahnaf Nadewa. “Hal tersebut merupakan pengsakralan terhadap budaya yang akan membuat pengetahuan manusia stagnan. Bahkan membunuh kebudayaan itu sendiri” tambahnya.

Selain topik mengenai kesakralan budaya, terdapat juga pembahasan mengenai pelestarian kebudayaan: “Bisakah kapal Pinisi dibuat oleh orang Gowa dan dikenal sebagai Pinisi?”. Permasalahan tersebut dilontarkan oleh Muhammad Ammar Manggorai Tenrirawe Ahyar dalam responnya terkait pembuat kapal Pinisi yang dalam diskusi lain disinggung oleh Andi Muhammad Fadlulah Akbar yang mempunyai potensi kepunahan pembuat kapal Pinisi karena memilih profesi yang lain seperti halnya menjadi guru. Namun, menurut Heri Dermawan, orang dari suku lain bahkan dari luar tiga desa yang membuat Pinisi, tidak akan mampu membuat Pinisi dikarenakan adanya lotre DNA. “Sebenarnya, kesakralan kapal Pinisi itu karena lotre DNA keturunan dari nenek moyang pembuat kapal Pinisi. Hal tersebut semacam bakat alamiah yang diturunkan melalui genetik dan sisi emosional. Semua orang bisa membuat kapal tapi tidak semua orang bisa membuat kapal Pinisi”.

Sedangkan menurut Taufik Hidayat, S.H., manusia mempunyai fitrah yang mampu mengobjektifkan atau menguniversalkan pengalaman walaupun memakai bahasa yang berbeda. “Orang Afrika juga mempunyai siri’na pacce walaupun namanya berbeda. Jika tidak percaya, coba kalian tiduri istri mereka” Ujar Taufik Hidayat, S.H. Hal tersebut juga dilontarkan oleh Ahnaf Nadewa bahwa lotre DNA yang dikemukakan oleh Heri Dermawan tidaklah tepat untuk menjadi landasan dalam pelestarian pembuatan kapal Pinisi. Jika kita melihat dari sejarah, Pinisi adalah hasil peniruan yang dilakukan oleh orang-orang dari tiga desa pembuat kapal Pinisi di Bulukumba dari bangkai kapal Sawerigading yang karam di lautan Bulukumba dan terbelah menjadi tiga bagian. Otomatis, jika argumen bahwa tiga desa tersebut yang bisa membuat kapal Pinisi karena adanya lotre DNA, maka orang Bugis juga dapat membuatnya.

 

Selain pendapat tersebut, Agus Salim, seorang perantau dari Suku Kajang mengatakan bahwa ada dua tipe sakralitas. Yaitu sakralitas melalui pengamatan, dan sakralitas melalui pengalaman pribadi. Afkar Ahsani Usman juga menambahkan bahwa sakralitas hanyalah cara manusia memberi nama pada pengalaman yang tidak mungkin dibahasakan. Begitu pula dengan pendapat Alaya A. Roo yang mengatakan “Sakralitas harus tetap pada ruang kesunyiannya masing-masing”.

Penulis: Sabilla Bahana Jagad

 

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *