
Koma.co.id, Gowa– Ruang Promosi Doktor itu tampak biasa saja pada 9 Mei 2025. Namun keheningan pagi itu menyimpan makna besar: di sanalah, secara simbolis, karya-karya akademik para dosen diserahkan—tidak dengan selebrasi, melainkan dengan ketulusan untuk menjadikan ilmu sebagai peninggalan yang dapat dibaca lintas generasi.
Sebanyak 75 judul buku yang telah diterbitkan, merupakan hasil kerja intelektual dosen-dosen UIN Alauddin Makassar dari berbagai latar belakang keilmuan. Mereka menulis tentang moderasi beragama, algoritma pembelajaran, hukum, kesehatan, hingga sejarah sosial. Tidak hanya menyuarakan disiplin ilmu masing-masing, tetapi juga menggambarkan wajah kampus yang aktif berpikir dan terus bertumbuh.
Wakil Rektor I UIN Alauddin Makassar. Prof. Dr.H.Kamaluddin Abunawas, M.Ag. Wakil Rektor I (Bid. Akademik Pengembangan Lembaga) turut mengapresiasi kehadiran buku referensi ini. Ia berharap program serupa bisa tetap diteruskan. Menurutnya, program ini akan memantik para dosen untuk terus berproses secara kreatif.
“Ini bukan hanya tentang penerbitan buku,” ujar Dr. Hasbi Ibrahim, SKM., M.Kes., Kepala Pusat Penelitian dan Penerbitan UIN Alauddin Makassar. “Ini tentang keberanian para dosen kita untuk menuangkan gagasan, membagikannya, dan menjadikannya abadi.”
Dalam sambutannya saat itu, Hasbi menegaskan bahwa program ini bukan sekadar proyek tahunan, tetapi bagian dari visi jangka panjang untuk membangun ekosistem riset dan publikasi yang kuat di kampus. “Setiap buku adalah bentuk pengabdian intelektual. Ini wujud konkret dari misi keilmuan kita sebagai kampus yang berlandaskan nilai-nilai Islam dan ilmu pengetahuan,” ucapnya dengan penuh keyakinan.
Menariknya, acara ini bukan sekadar ajang simbolik. Di baliknya ada semangat besar dari program awal yang menargetkan penerbitan 100 buku referensi. Dengan proses seleksi yang ketat dan pendampingan berkelanjutan, proyek ini menjadi salah satu upaya konkret UIN Alauddin dalam memperkuat budaya literasi akademik di tengah gempuran informasi instan dan digitalisasi ekstrem.
Lebih dari itu, kehadiran buku-buku ini menjadi cara lain bagi UIN Alauddin untuk menyapa masyarakat luas. Setiap sampul dan setiap paragraf membawa pesan bahwa ilmu tidak hanya hidup di ruang kelas, tapi juga harus melintasi batas, menjangkau pembaca di luar tembok kampus.
Buku mungkin tak seramai media sosial, tak secepat berita daring, tapi ia tahan lama. Dan di kampus ini, menulis buku bukan sekadar memenuhi angka kinerja—melainkan membangun ingatan kolektif dan menyulam pengaruh yang sunyi, tapi kuat.(rls)




